Selasa, 01 Desember 2015

SEPANAS BARA

Sekitar pukul 9 malam, Budiman gelisah menatap jam dinding yang jarumnya terasa lambat berputar. Dia sosok laki-laki usia 30 an, sangat berwibawah, maskulin yang sayangnya sampai usia begini masih melajang. Dan kelihatan agak susah mendapatkan wanita.

Teman-teman Budiman sering sekali mempertanya kan keberadaannya yang sendirian. Atau apabila ada yang berkunjung ke rumahnya, akan ada saja komentar  ruang ini akan lebih hidup kalau  ada sentuhan wanitanya’.  Budiman sekarang hidup  sendiri,  dengan rumah yang dibelinya sendiri yang berdiri nyentrik beruansa gothic, di kawasan sepi di pinggiran kota.

Anak-anak sekitar simpang, agak segan melihatnya. Walau Budiman kadang kala - kalau tidak sibuk, mau juga main gitar atau main kartu dengan Rizal, Ahmad, Simas dll yang merupakan tetangga-tetangganya. Dan kadang-kadang, pemuda-pemuda tanggung itu, malah asyik ngobrol dengan Budiman di terasa rumahnya yang memang nyaman. Kalau sudah begini, Yenny lah yang repot menyiap kan minuman dan makanan bagi mereka. Yenny adalah pem bantu rumah tangga yang kerja dari pagi hingga jam 8 malam di rumah Budiman. Belum tua, namun juga sudah tak muda. Suaminya tinggal tak jauh dari rumah Budiman, dananaknya kebanyakan diurus oleh ibunya. Yenny yang betugas membersihkan rumah, memasak dan mengurus rumah serta pekarangannya untuk Budiman. Walau pada hari libur, Budiman juga sering berkebun. Dia suka menanam segala jenis tumbuhan eksotik seperti bonsai, adenium atau anggrek. Koleksi teratainya juga banyak di halaman belakang.

Dengan kondisi seperti itu, wajar kalau orang-orang mempertanyakan kelajangannya. Budiman tampan, perawa kannya tinggi besar, dengan wajah seimbang dan rambut hitam pekat. Tatapan mata tajam dengan rahang yang terkesan keras, apalagi Budiman agak cenderung membiarkan bulu-bulu wajahnya tercukur hanya sebahagian. Kesannya, dia bagai seorang yang sangat berwibawa yang pasti dapat dengan mudah menaklukkan wanita manapun.

Benarkah?

Sekarang dia melirik arloginya sendiri. Dandanannya sudah rapi, wanggi dalam balutan kemeja lengan pendek kotak kotak biru, dengan bawahan jeans biru belel yang melekat padat di kaki besarnya. Jelas dia gelisah.

Tak lama, Budiman bergerak ke garasi dan dengan wajar mengeluarkan mobil dari tempatnya. Sampai di jalan, dia turun berbalik untuk mengunci pintu rumah dan pagar. Yenny sudah lama pulang. Jadi, rumahnya sekarang kosong. Tak lama dia sudah mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Dia menuju sisi kota yang lain, agak ke arah Bukit.

Komplek Perumahan Setia Budi. Komplek yang dihuni kelompok masyarakat menengah ke atas. Kompleks ini tampak lenggang pada saat seperti ini. Lampu-lampu jalan klasik tampak menghiasi semua sisi jalan. Sangat indah.

Taman-taman kecil hampir muncul di setiap sisi rumah. Tak ada barang spetakpun tanah kosong yang dibiarkan. Benar benar tempat hunian yang nyaman.

Dan Budiman memarkirkan mobilnya tepat di Blok 4 - No.15. Seorang wanita manis berperawakan kecil sudah menunggu dengan tersenyum. Pagar terbuka, dan Budiman memarkirkan mobilnya langsung ke dalam garasi yang memang muat untuk beberapa unit mobil - seperti show room mini saja.

‛Sudah lama Rin?‛ Budiman melangkah memasuki ruang tamu. ‛Gak juga, paling 15 menit.... Dimas agak susah ditidurkan    ‛ Jawab wanita mungil bernama Rini ini. Rupanya dia baru saja menidurkan anaknya, Dimas.

Budiman masuk dan pintu dibiarkan terbuka. Agak remang di sini, bathinnya. Saat Rini berbalik bermaksud menemani Budiman duduk. Saat itu juga Budiman berbalik dan langsung memeluk Rini erat dan merengkuhnya dalam kecupan ganas membabi buta. Rini tak sempat mengelak. Dan hanya terlihat pasrah dalam rangkul Budiman yang memang bertubuh jauh lebih besar dari Rini.

Nafas keduanya sangat memburu. Pelukan-pelukan tangan kekar Budiman yang mulanya meremas pantat mon tok Rini, kini berpindah ke lengannya, sementara mulutnya berusaha mengecup payudara Rini yang mulai membusung.

‛Pintu, Bud    ‛rintih Rini. Enggan, Budiman melepas Rini untuk bergerak kepintu dan menguncinya dari dalam. Lalu dengan tak sabar dia menyerbu Rini, menangkapnya seperti bola daan merebahkannya di sofa kuning gading mewah, yang menerima hempasan badan kedua insan manusia itu dengan enggan.

Tangan,.... yah tangan. Tangan-tangan keduanya saling berbalut. Rini mulai tak mau diam digasak Budiman. Tangannya mulai berani menarik sabuk di pinggang Budiman. Budiman membiarkannya dengan bertumpuh pada lutut. Dan entah tangan yang mana lagi, mulai mempereteli kancing kemeja Budiman.

Sedang Budiman juga tak mau kalah, dia malah sudah pada tahan melepas pengkait Bh Rini. Kimono yang tadi dikenakan Rini sudah teronggok malas di lantai. Dan seka
rang tangan Budiman yang satunya mulai menyusup ke dalam celana dalam Rini. Jari tengah Budiman mulai menyentuh lapi san daging membusung yang agak berambut.

‛Ssssssshhhhhhh    ‛Rintih Rini menahan gejolaknya. ‛Hhhhhhhhhhhhhhhh‛ desah Budiman kala tangan Rini sudah menggenggam rudalnya yang sudah tegang abis. Rini di bawah tindihan Budiman menggigit dada putting di dada Bidang Budiman. Sementara Budiman sekarang asyik menusuk-nusuk lembut lubang sempit dengan jari tengahnya. Mata liar Budiman melirik ke bawah, ke lubang sempit gelap milik Rini.

‛Kau besar sekali Bud...‛Erang Rini...‛Hmmmm.. kau sangat sempit...‛ Balas Budiman. ‛Aku takut...‛ bisik Rini manja.‛ Kau sudah pernah melahirkan... Punyaku tak akan terasa terlalu menyakitkan...‛ Budiman ngotot. Aku melahirkan lewat bedah...‛Rini menjelaskan.

Sambil mengocok keras rudal Budiman, membuat Budiman merem melek keenakan, dan mencongkel lebih dalam lubang Rini.

‛Berarti Dimas sayang papanya...‛ Bisik Budiman...‛Dia jaga betul lubang papanya...‛ ‛Pokoknya aku takut.... jangan malam ini...‛ Rini menggeleng, dan tangannya semakin bersemangat mengocok rudal Rini. Kau selalu begitu... Aku sudah tak tahan....‛Balas Budiman. Biar kuoral saja...‛

Dan Rini mulai turun dari sofa. Budiman membiarkan dan membalik badan. Sekarang dia yang rebah terlentang. Pahanya berbulu lebat dengan rudal gundul - suka dicukur, dan sekarang terbuka lebar. Rini jongkok dan membelai paha perkasa itu. Lalu tanpa raggu-ragu, mulut kecilnya langsung mengulum rudal luar bisa milik Budiman. Mulut mungil itu kepayahan mengisap rudal besar Budiman.

Budiman menggelinjang hebat. Dia bertekad untuk tidak sampai ejekulasi di mulut Rini. Harus malam ini... Tekadnya. Dan benar saja.... Berlalu 15 menit Rini beraksi....

Rudal Budiman masih mengacung... Agak miring ke kanan seperti menara Pisa. Bibir Rini sudah sedikit dower gara-gara kebanyakan menyedit precum Budiman. Sementara tangan nya sudah pegal mengocok rudal besar itu. Maksudnya, kalau mengocok rudal yang ukurannya bisa pas digenggamannya itu biasa, gak bakal semelelahkan ini, tapi rudal Budiman memang lain... Belum pernah Rini melihat rudal ’Kontol’ sebesar ini. Panjang, keras, dan besar.

"Aku capek Bud " Erang Rini.... "Aku masih belum keluar sayang...." rengek Budi. Lalu Budiman berdiri dan sekonyong koyong mengang kat tubuh telanjang Rini. Kali ini digendongnya terus sampai ke kamar Rini. Lalu dengan tidak memperdulikan pintu, Budi man merebahkan Rini di ranjangnya.

Bud.... Kau mau apa?" tanya Rini ragu-ragu...."Aku inginkan kau sayang....""Kau mencintaiku?" "Apakah itu yang kau harap aku ucapkan agar aku mendapatkannya ?" "Aku butuh kejelasan..." "Aku akan memberimu kenikmatan... aku tidak bisa berjanji lebih.... Aku takut berkomitmen..."

"Kau hanya ingin tubuhku..."

"Kau juga menginginkan aku..."

"Aku tak serendah itu...." desis Rini judes...

"Hehehe... aku lebih tinggi dari pada kamu sayang..." Budiman mengedip.
"DasarI..."

‛Aku akan jongkok‛ dan benar saja, budiman mulai berjongkok. Dan kali ini, dihadapannya terpampang paha mulus putih licin mengkilat milik Rini.... Dan di atasnya... agak berambut, seonggok daging tebal menggairahkan... Terlihat lembab dan sangat beraroma. Budiman membenamkan mukanya ke gundukan daging kemaluan Rini... Rini menggelinjang.... Namun kakinya terbuka makin
lebar... tangannya sibuk menjambak rambut Budiman. ‛Aku jilat yah...‛ goda Rini ‛Hiiiiiiiiiiiyaaaaaaaaa....‛ belum selesai Rini mengerang, dirasakannya sapuan lembut basah lidah Budiman di sela-sela gundukan daging kemaluannya. Lidah Budiman dengan pasti membelah laut merah Rini.... Dan mulai menusuk ke sana kemari di dalam lubang sempit itu.

Tangan Budiman bergerak lincah mencari-cari kedua putting susu Rini. Dapat! Keduanya langsung mengeras...tanda sudah pengen. Jari jempol dan telunjuk Budiman mulai menunjukkan kebolehannya.... ‛Oh....lebih keras...‛ jerit Rini... ‛Aku tak tahan lagi...‛ ‛Aku masukkan yah    ‛ pinta Budiman...‛Jangan....‛ Rini ragu-ragu.

‛Atau kau mau kuperkosa...‛ Budiman mengedipkan mata. Rini melotot     Namun tangannya merangkul pinggang Budiman. Budiman agak berdiri sekarang. Ditariknya kaki Rini sampai kemaluan Rini pas di depan rudalnya....

Matanya menatap mata Rini meyakinkan. Rini agak takut... Namun agak meras tentram melihat mata elang Budi man. Perlahan Budiman menarik lagi kaki Rini, sehingga sekarang sebahagian tungkau Rini sudah menjulur ke bawah. Dan kemaluan Rini pas di sudut sisi ranjang. Sementara itu, Budiman sudah berdiri dengan sebelah tangan menggemgam rudal ’Kontol’ nya siap-siap diluncurkan ke sasaran sarang belut Rini. ‛Jangan....‛ elak Rini lagi.... ‛Tahan sedikit ‛ balas Budiman. Sekonyong konyong, ditariknya pinggang Rini mendekat. Dan dengan sedikit menekuk lutut, Budiman menghujam kan rudalnya ke aarah kemaluan Rini. ‛Ssssssssssaaaakit ‛ Rini berusaha memundurkan pantatnya. Tangannya bertumpuh pada ranjang.

Tapi Budiman mulai merasakan sensasi nikmat teramat sangat saat kepala rudalnya menyerodok masuk kedalam lubang sempit Rini.

Baru sebatas kepalanya saja...."Iya    Tahan Rin,,,, baru kepalanya..."erang Budiman. "Oh  ampun Bud..." Rini ketakutan. Pahanya berusaha menutup. Tapi tentu saja, paha Budiman lebih kuat menekan keduanya ke sisi ranjang. Dan tiba-tiba lagi, Budiman menyodok sangat keras, sementara tangannya agak mengangkat pantat Rini kearahnya. "Aduhhhhh    Ampun    " jerit Rini... Budiman menahan nafas     Meresapi nikmatnya kemaluan perempuan ini. Kali ini Budiman mulai rebah menindih Rini... Bertumpuh dengan siku-siku dan lututnya, Budiman menyodong badan Rini agak ketengah ranjang, sengan rudal yang masih separuh masuk    Keduanya bergeser agak ke tengah....Budiman mencium bibir Rini     Memainkan lidahnyadi dalam mulut Rini.

Rini mulai merasakan kenikmatan. Pelan-pelan rasa sakit yang menjalar di kemaluannya berubah menjadi kenikmatan tiada tara. Dan dia mulai merangkul Budiman. Ingin merasakan dada Budiman menempel di dadanya.

"Masukkan semuanya Bud...." pintah Rini.

"Tunggu " Budiman malah agak menarik rudalnya kemaluan Rini itu tertarik  dan pantatnya penasaran turut dinaikkannya, seakan-akan takut rudal itu akan lepas meninggalkan lubangnya.

Pada saat itu.... sangat keras.... Budiman menghujam kan rudalnya ke bawah"Ahhhhhhhhhhhh " Rini berteriak keenakan..."Ohhhhhhhhhhhhhh" Budiman mengerang dan gemetaran.

Di luar hujan mulai turun.... Suasana semakin dingin di kamar Rini. AC biasanya makin dingin kalau hujan. Tapi kedua insan lain jenis tersebut semakin panas saja bergulat mereguk kenikmatan. Keduanya sekarang malah sudah sangat berkeringat.

Budiman tampak punggungnya yang hampir menutup seluruh badan Rini yang ditindihnya di bawah. Sementara Rini sibuk mencakar punggung Budiman dengan ganas. Sekali-kali Rini melingkarkan kakinya ke paha kekar Budiman seakan akan ingin Budiman memasukinya lebih dalam lagi. Budiman sebaliknya tampak tak letih letihnya mengayunkan pinggang nya dengan lincah ke selangkangan Rini. Kadang kadang suara suara seperti closet mampet muncul akibat tarikan-tarikan rudal Budiman. Tiba-tiba keduanya menghentikan gerakan, dan Rini memalingkan mukanya ke arah pintu. Budiman juga Keringatnya masih mengucur deras turun ke jakunnya lalu menitis di badan Rini....

‛Om.... Om kok diatas mama?....‛ tanya suara mungil milik Dimas.... anak Rini. Rupanya suara hujan membangun kannya. Dan anak yang ketakutan ini bermaksud mencari ibunya, yang ternyata sedang bersenggama dengan pacar barunya Budiman. Yang selama ini dikenalnya sebagai Om.... yang baik, yang suka bawa oleh-oleh kalau datang. ‛Eng     karna Om sayang mama....‛ jawab Budiman
tersenyum.... rudalnya masih menancap kokoh.... Sejenak dia berpikir, apakah bijaksana mempertontonkan adegan dewasa ini di depan anak 3 tahunan? Namun, nalurinya yang lain berkeras untuk melampiaskan kemikmatan yang sudah susah payah selama 3 bulan ini ditahannya, dan ketika baru saja berhasil mendapatkannya dari Rini, janda cantik yang dikasihinya sudah harus diputus di tengah jalan. "Gak sakit Ma....?" tanya Dimas lagi....Rini tersenyum malu.

"Gak bakal sakit, Om gak bakal nyakitin mamamu..."Jawab Budiman. "Dimas takut.... ada petil...""Jangan takut Dimas..." Dan Budiman merarik rudal nya sedikit sebelum menghempaskannnya dengan nikmat. Sementara Rini susah payah menahan ekspresi liarnya agar tidak terlalu terlihat anaknya Dimas.

"Kalau digoyang begini, mama akan keenakan Dimas..." jelas Budiman gokil. Dan benar saja, dia mulai menggoyang pantatnya yang juga berbulu maju mundur. Rini hanya bisa merintih pelan tanpa tahu harus bagaimana membalas serangan Dimas "Dimas bantu yah    " Dimas maju ikut menyorong nyorong pantat Budiman. Dan Budiman mulai tertawa saatmerasakan tangan mungil Dimas mendorong dorong pantatnya yang sedang menghujam-hujam ke selangkangan Rini, Ibu Dimas. "Gila, aku menggauli Rini dengan dibantu anaknya ‚ pikir Budiman.

"Dimas juga sayang mama...." Kata Dimas polos. Dan lama-kelamaan, goyangan Budiman semakin cepat.... semakin ganas semakin tak beraturan     Sementara Rini makin kepayahan dan mulai mengerang keenakan.... "Ayo Om    Terus    " Dimas menyemangati.

Budiman tak sempat grogi, karena dirasakannya ada yang mendesak melecuti rudalnya. Terakhir kali ditariknya rudalnya dari lubang Rini dan disorongkannya kembali dengan sangat teramat kuatSambil mengerang...Crooooot    crootttttttttt.. Ejekulasi Budiman lama.... Sekitar 10 semprotan cairan kental putih sampai menetes di ranjang Rini. Lalu dia rebah di atas Rini tanpa berani menarik rudalnya dari lubang Rini. Malu dilihat Dimas. "Om.... Ada yang bocol..." teriak Dimas.

Budiman ngerti, pasti spermanya tumpah.... Dengan enggan dia menarik rudalnya dari lubang Rini yang sekarang sudah bonyok betul bentuknya. Dan rudal panjang besar yang sudah agak lemas itu sekarang terlihat basah menggantung diantara kedua paha besarnya.

"Ih... Jolok..." Dimas tergidik melihat rudal yang mirip terung dibakar itu berleleran sperma kental yang masih menetes netes....

Rini segera bangkit dan mencari pakaiannya di ruang tamu. Saat masuk.... Kembali ke kamar, di dapatinya Budi man masih telanjang bulat, dan rudalnya sudah sangat tegang lagi Karena rupanya Dimas sudah asyik main-main dengan rudalnya....

‛Punya om besar yah...‛

‛Punya Dimas juga nanti kalau sudah besar pasti besar juga....‛

‛Sekarang tidur yah...‛

Dan Rini buru-buru segera mengangkat Dimas dan memarahinya, lalu ditemaninya sebentar Dimas sampai benar benar tidur. Pikirannya masih was-was menilai apa yang barusan dilakukannya dengan Budiman. Kemudian bakal apa dampaknyabagi Dimas yang masih kecil. Apakah hal ini akan menyebabkan trauma.... Dia masih ingat bagaimana tadi Dimas terlihat sama bersemangatnya dengan dia main-main dengan rudal Budiman yang memang luar biasa.

Namun, disaat itu juga dia masih dapat merasakan kenikmatan luar biasa yang didapatnya dari Budiman. Dia masih merasakan gairah wanitanya dengan laki-laki yang sangat laki-laki itu. Pikirannya masih tak bisa lepas membayangkan rudal besar panjang, badan tegap sempurna, paha kokoh berbulu yang mampu menghujamkan rudal dengan pasti. Dia masih teringat gairahnya saat Budiman mencium putting susunya. Memikirkannya saja membuatnya merasa saat ini puttingnya mengeras.

Sekitar 10 menit Rini menidurkan Dimas. Di kamar rini, Budiman asyik membelai rudalnya yang masih basah dan lengket. Rudalnya masih saja tegang....Karena dia masih membayangkan tubuh mungil Rini yang barusan ada di bawah pelukannya. Dia masih membayangkan gundungan merah jambu yang menggiurkan di atara pinggang padat milik Rini. Juga masih diingatnya jelas payudara membusung tidak terlalu besar milik perempuan itu. Payudara Rini, tidak terlalu besar namun masih sangat ketat... agak seperti agar agar kalau disentuh, lembut, tapi keras.... Kau tahu maksudku.

Sekali-kali mata Budiman menatap langit-langit kamar putih yang sangat bersih itu. Dia masih ingat juga dan masih grogi membayangkan Dimas yang tadi membantunya menggo yang Rini. Rasa serba salah tak pelak lagi menerjangnya. Dia agak nyengir. Tapi, dasar Budiman, memang dia agak susah menahan nafsunya kalau sudah pengen. Apalagi seperti tadi, menjelang separuh ronde    Sedang panas-panasnya.

Pelan, dikocoknya rudalnya yang memang masih tegang. Dia mengerang-erang pelan menikmati tangannya sendiri. Dan pintu terbuka. Rini terbeliak melihat lelaki yang sangat laki-laki itu sedang onani di depannya. Tak pikir panjang, dia mendekati Budiman yang kelihatannya tidak terusik. Dan langsung saja, Rini balik mengunci pintu. Tak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi. Lalu, dia meloloskan tubuh mulusnya dari baju tidur yang belum ada setengah jam dipakainya kembali.

Budiman menyambutnya. Rini mulai duduk di atas Budiman. Tangan Rini menuntun rudal Budiman yang sudah tegak sekali ke sela-sela pahanya. Dan tanpa ragu-ragu kali ini dia mendudukkan pantatnya dalam diam Bless.... kali ini rudal Budiman terasa lebih lancar menerobos kemaluannya. Walau masih terasa sangat ketat dan perih bukan main     Cairan kemaluan Rini mengimbanginya dengan mengucur deras.

Tangan Budiman menggemgam kedua tangan Rini. Dan Rini mulai naik turun di atas rudal Budiman. Keduanya berpagutan. Budiman memindahkan tangannya ke pinggang Rini, membantunya menyamakan irama dengan sodokan pantatnya ke atas ke bawah. Tiap kali Budiman menarik pantat ke bawah, maka ditariknya pantat Rini menjauh keatas. Dan setiap Rini turun ke bawah, Budiman menyorong kan selangkangannya memasukkan rudalnya sedalam-dalam nya ke dalam lubang Rini.... Dan Rinipun menjerit lirih Sementara Biduman mulai menggeram buas.

Dan sekonyong konyong, Budiman memeluk Rini kuat. Rini menyambut pelukan Budiman. Budiman menyentakkan kakinya dan mulai berdiri dengan Rini dalam gendongannya.

Budiman turun dari ranjang. Lalu menggendong Rini ke arah dinding. Disitu, Rini habis diserbunya. Rudalnya menyerang dengan sangat teramat ganas.... Rini semakin kepayahan. Mulut Budiman tak lagi mencari-cari bibir Rini. Karna kali ini kepala Rini hanya pas di bawah dagunya. Konsentrasi lebih diarahkannya pada serangan rudal. Bonyok Itu kata yang paling pas kalau mengingat kondisi kemaluan Rini sekarang...

Dan Budiman adalah singa ganas.... Tak capek-capeknya dia mengayunkan rudalnya semakin cepat dan liar.

Rini juga berusaha mengimbangi dengan goyangan pinggul maut dan isapan-isapan dari dalam kemaluannya. Sesekali digigitnya dada tegap Budiman yang pas di mulutnya. Saat Rini menggigit, Budiman akan mengeram dan menyodok semakin gila. Begiru terus    Sampai    tak tahan, Budiman menghempaskan lagi Rini di ranjang dan menyerangnya dari atas.

Begitu terus, sampai keduanya mandi keringat dan mencapai puncak kenikmatan kedua bersama sama.

Lalu hening, Rini berbaring di pelukan Budiman. Kepalanya mantap berbantalkan dada Budiman. Budiman membelai rambutnya.

‛Aku mengkhawatirkan Dimas....‛ Bisik Rini pelan.

‛Hmmmm...‛

‛Kita kurang perhitungan...‛

‛Aku tahu....‛

‛Kau tadi tidak berhenti...‛

‛Kau juga menginginkannya‛

‛Aku tak bisa berontak‛ Rini protes, ‛kau sangat besar menimpahku...‛

‛Kalau kau berontak, Dimas malah mungkin mengira kita berantem‛

‛Aku malu....‛

‛Aku juga‛

pa malumu...?‛

‛Apa aku tak tahu malu, karna saat aku menyodok punyamu, anakmu malah membantu mendorong pantatku!‛ tukas Budiman sengit.

"Lalu mengapa kau tak berhenti?"

"eh...." Budiman berpikir sejenak, ‚karna kau terlalu indah untuk ditinggalkan..."

"Kau ingin menikahiku? Janda anak satu?"tanya Rini.

"Kita bicarakan belakangan, ok. Aku belum siap"

"Atau kau hanya inginkan badanku saja?"

"Ini sudah kita bicarakan sebelumnya"

"Yah.... Aku ingin kepastian..."

"Kalau kau tanya aku sekarang, aku belum siiap. Tapi kalau kau ingin tahu, aku sangat mencintaimu..."

"Lalu apa yang kau tunggu?" Sekarang kaki Rini mu lai naik ke sela-sela paha Budiman. Budiman memeluk kaki itu dengan kakinya.

"Aku belum siap, hanya itu. Aku tak menunggu siapa siapa. Kau pikir aku tak risau dengan usiaku yang sekarangsudak kepala tiga tapi belum juga punya pendamping? Aku juga bosan dianggap homo oleh teman-teman lamaku yang rata-rata sudah punya anak dua tiga orang. Aku tahu apa ada di pikiran mereka. Aku tahu mereka curiga.... Kujelaskan pada mu. Aku memang tak tahu bagaimana merayu wanita..." Budiman melingkarkan tangannya di tubuh Rini. Dan dagunya perlahan menyentuh leher Rini.

‛Kau mau aku terharu dengan ceritamu?‛

‛Aku tak inginkan apa-apa Rin! Aku tak bermaksud mempermainkanmu. Aku hanya menuturkan apa yang sekarang aku pikirkan. Inilah aku, kalau tak bisa menerima aku apa adanya, aku malah semakin ragu untuk melanjut berkomitmen‛

‛Kau mulai membuatku tersinggung, seakan aku wanita murahan yang mau saja main seks dengan setiap laki-laki‛ Rini merajuk. Namun tangannya justru mulai membelai selangkangan Budiman.

‛Kau tahu bagaimana pandanganku terhadapmu! Kau tahu aku setengah mati menunggu untuk dapat berhubungan badan denganmu. Sudah berapa lama kita berhubungan?‛

‛Kukira sekitar setahun‛

‛Dan kau janda‛

‛Lalu?‛

‛Tapi aku baru dapat benar benar memilikimu malam ini, Rin. Itu pun dengan setengah memaksa. Lalu kau rasa ba gaimana pandanganku selama ini padamu? Aku bukan hanya sekali ini berhubungan dengan wanita, jujur saja. Aku pernah beberapa kali berhubungan seks dengan wanita-wanita mantan pacarku. Bukan maksudku merendahkanmu... kau tahu, kau pribadi yang istimewa‛

‛Mungkin kau beranggapan aku selama ini pura-pura menahan diri tidak menginginkanmu?‛

Budiman diam sejenak. Lalu dia tersenyum menggoda, sambil menjawil benda mungil di selangkangan Rini dengan jarinya....

‛Atau memang benar begitu....Sayang...‛Kata Budiman nakal.

Belum sempat Rini menjawab, Budiman sudah membopong badan mulus mungil itu ke pelukannya.

Rini tertawa, sewaktu Budiman membawanya dalam gendongan menuju kamar mandi. Di dalam, pelan-sangat lembut, Rini direbahkannya di dalam bath tub. Lalu, sama hati hatinya dia masuk ke dalam bath tub yang langsung saja terasa sempit. Dan tangan Budiman mulai menghidupkan pancuran air panas dan dingin.

Tak lama sambil terus ngobrol. Keduanya sudah berendam dalam bath tub yang mulai berasap.

Kaki Rini nakal mengepit rudal Budiman yang sudah ngaceng lagi. Sementara Budiman rebah disisi lain dengan kaki terbuka dan tangan di letakkan di atas pinggiran bath tub. Dia menikmati kocokan kaku kaki Rini pada rudalnya yang sudah semakin membengkak.
Tak sabar tak juga orgasme, Rini mulai memainkan ta ngannya mengocok rudal kesayanganya. Dikocoknya rudal itu dengan cepat dan ganas. Budiman hanya meringis keenakan tanpa sekalipun berusaha menghentikan Rini.

Hingga ahkirnya Budiman mengejang keras dan memuntahkan cairan kental spermanya yang juga masih sama banyaknya dari ujung mulut rudalnya. Budiman berguman tak jelas ketika Rini masih saja mengocok dan memeras rudalnya sampai tetesan yang penghabisan.

Sebahagian sperma Budiman sampai menempel di badan Rini. Rini menggosoknya ke badannya dengan tangannya, seakan sperma itu adalah lulur yang akan memuluskan bandannya.

Kemudian keduanya mandi bareng. Budiman menyabuni Rini, demikian juga sebaliknya. Paling semangat Budiman saat membersihkan bagian terlarang Rini yang sudah bonyok gak karuan. Bentuknya kini agak melar tidak seketat sebelum nya. Caris pembela kedua gundukan bukit kemaluan itu sudah semakin jelas sekarang. Sesekali, digosoknya dengan sabun, benda menggairahkan itu. Nakal, Budiman kadang berhenti untuk menjawil kelentit mungil milik Rini, yang kontan saja membuat Rini mendesis seperti orang kepedasan."Aku tak akan melupakanmu Bud!"

"Aku akan membahagianmu..."

‛Tapi kau tak mau menikahiku...‛

‛Bukan berarti aku tak bisa mebahagiakanmu.... Berapa kalipun kau minta aku setiap malam, akan aku sanggupi..‛

Budiman tersenyum mesum.

‛Enak saja...‛ Rini mencubit rudal Budiman gemas.

‛Aduh    ‛ Budiman tersentak kaget tak menyangka akan di cubit Rini sekeras ini.

‛Aduh.... Aduh    ‛ Budiman sibuk memeriksa rudalnyayang lemas dengan hati-hati.... Rini tertawa geli Rini bangkit duluan meninggalkan Budiman yang masih kesakitan memeriksa kemaluannya. Dia melilitkan handuk ke badannya dan mulai mengeringkan badan.

Rini rebah di ranjang, walau dia merasa enggan untuk memakai kembali pakaiannya. Hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Dirasakannya masih menginginkan kenikmatan dari Budiman, laki-laki palaing laki-laki-laki yang pernah mengerjainya. Agak malu dia menikmati sensasi sedikit diperkosa oleh laki-laki kasar berkemaluan besar seperti Budiman.

Mulai pikirannya membandingkan Hendra mantan suaminya yang meninggal dua tahun yang lalu dengan Budiman yang baru akrab dengannya setahun ini. Segalanya, mulai dari badan Hendra yang tidak sebesar Budiman. Wajah Hendra yang imut-imut putih mulus dengan wajah Budiman yang cenderung kasar, namun justrukasarnya kulit wajah Budiman membuat Rini merasa benar-benar di gagahi. Artinya, dia ti dak menyesal menyerahkan tubuhnya pada Budiman. Dia menginginkannya. Kemudian, tak terhindarkan, dibayangkan nya tubuh tegap Budiman yang begitu maskulin menindihnya. Dirasakannya bulu-bulu wajah Budiman yang kasar menempel di wajah dan lehernya yang lembut. Kekontrasan yang mungkin terlihat saat tubuh besar tegap Budiman yang berkulit agak gelap terbenam dalam pelukannya yang mungil. Apalagi saat rudal Budiman dengan tak kenal ampun menerobos liang senggamanya yang terlalu kecil untuk ukuran Budiman.

Dan belum sempat dia menghayal lebih lanjut.

Budiman masuk ke kamar dengan tubuh telanjang bulat. Laki-laki itu memandang bergairah pada Rini yang merah padam. Lalu, tak ayal. Budiman menyerbu naik ke ranjang dan menarik lepas selimut pada tubuh Rini. Rini pura-pura menahan tarikan Budiman. Namun Budiman hanya tertawa lepas dan menyodorkan badannya ke badan Rini. Tak berdaya, Rini menerima pelukan Budiman dengan nafsu yang masih tertahan.

Namun, kemaluannya rupanya tak mau kompak dengan pikiran Rini. Kemaluannya justru sudah basah dan lembut saat Budiman meusuk nusuknya dengan jari tengah nya. Cairan bening Rini malah semakin mengucur deras. Dan Budimanpun lantas membenamkan hidungnya menghirup aroma khas Rini.

"Enak Rin?" tanya Budiman di sela-sela kegiatannya...Rini diam saja sambil menahan nafas.

Sebelah tangan Budiman asyik mengocok rudalnya sendiri saat dia menjilati gundukan kemaluan Rini. Rini menggelinjang hebat. Mengerang. Tangannya menekan kepala Budi man ke arah kemaluannya.

Budiman menjilati terus cairan yang terus saja keluar dari kemaluan Rini.

"Sekarang Bud...."

"Apanya...?" Budiman nakal.

"Masukkan kontolmu    Plisssss"rengek Rini.

"Kau tak malu minta dike***t?" ledek Budiman, namun badannya bangkit mulai menimpa Rini. Rini tersenyum malu.

Rudalnya digenggam Rini dengan cepat. Dan sekarang Rini menundul rudal Budiman ke arah mulut liang senggama nya. Terasa kepala rudalnya mulai menyentuh bibir kemaluannya. Digosokkannya pelan kepa rudal itu ke atas ke bawah agar basah dengan cairan vaginanya. Budiman juga mulai mengeluarkan precum bening tanda sudah siap untuk melakukankan proses reproduksi paling primitif makhluk hidup.

Namun, dia belum pernah tahu ada makhluk hidup lain yang bersenggama lebih dari sekali dalam waktu singkat. Atau mungkin belum ada penelitian ilmiah ke sana? Tapi, bagai mana dengan ayam, yang bisa ngeseks terus terusan. Itu lain, tujuannya memang untuk reproduksi. Tentu berbeda dengan perbuatan Rini dan dia malam ini, mereka tidak memikirkan reproduksi. Dalam hati malah Budiman berharap, kalau bisa jangan sampai Rini hamil. Mereka lebih dari melampiaskan nafsu syawat dari pada berreproduksi. Masa Bodoh....

Budiman mulai memasukkan rudalnya lagi. Kali ini tidak sedikit demi sedikit. Tapi disentakkannya dengan kuat kearah selangkangan Rini. Sekuat kuatnya. Sekuat kakinya bisa menekan ke bawah. Hampir patah tulang pinggangnya dirasa Rini. Lalu Bruk

Ranjang jatuh. Mungkin tak kuat menahan dorongankuat Budiman.
duanya berpandangan sejenak. Lalu tertawa. Tak perlu khawatir     Rumah ini sangat sepi, pikir keduanya. Paling Dimas yang mendengarnya. Apalagi dengan hujan lebat yang turun diluar. Tak bakal ada yang sadar kelakuan gilamereka berdua.

Lalu, dengan tak kurang ganasnya. Budiman menghujam hujamkan berulang kali rudal besranya. Rini meringis ringis merasakan sodokan ganas Budiman. Tak kuasa lagi dia mengimbangi sodokan Budiman dengan goyang pantat seper ti tadi. Tak kuasa.... Bernafaspun dia susah dengan Budiman yang agak tegak menyerang vaginanya.

Mata Rini sebentar tertutup sebentar terbuka. Lain dengan Budiman yang tak juga kunjung lelah memompa dalam posisi yang itu-itu saja. Budiman menikmati sensasi kesakitan yang dirasakan Rini. Dia menikmati setiak ringisan Rini. Semakin dilihatnya Rini kepayahan, semakin dia meng gasak dengan ganas. Entah berapa kali Rini mengalami orgasme dalam ronde kali ini. Sementara Budiman masih saja kuat dan belum memperlihatkan tanda tanda akan usai.

Budiman tiba tiba berhenti. Dicabutnya rudalnya pelan. Seperti suara kloset mampet, rudalnya tercabut agak susahdan langsung berdiri ngaceng menantang. Basah dan hitam gelap.

Budiman mengangkat kaki Rini sebelah. Disankutkan nya ke pundaknya. Dengan ranjang yang sudah rubuh kebawah. Budiman merasa semakin leluasa untuk menyalurkan seluruh kekuatannya. Tak main tanya, disodokkannya lagi rudalnya. Rini menjerit-jerit keenakan. Kepalanya menggeleng ke kanan ke kiri. Terasa kali ini rudal Budiman amblas sedalam-dalamnya. Budiman sendiri tidak menyianyiakan kesempatan ini. Dia juga merasakan kenikmatan teramat sangat dalam senggama kali ini. Begitu terus.

Terkadang Budiman merasa kelelahan juga. Dia sudah mulai keringatan lagi, Rini juga. Lalu Budiman rebah kesamping dengan rudalnya masih di dalam Rini. Diangkatnya sebelah kaki Rini dan mulai menyerang lagi dengan ganas lewat sela-sela paha Rini. Tangannya melingkar di badan Rini. Barmain-main dengan putting susunya. Mulutnya menjilati belakang leher Rini, menggigit lembut cuping telinganya. Membuat Rini semakin kelimpungan. Dan selang beberapa saat kemudian, ‛Aku mau keluar Rin    ‛Geram Budiman

Budiman mencabut rudalnya. Mukanya merah padam menahan agar tidak langsung nembak. Lalu dia melangkahi Rini dan mengarahkan rudalnya ke muka Rini. Rini terkejut, tak menyangkah adegan film bf begini bakal dialaminya. Namun nalurinya yang lain merasa kenikmatan ini tak ada batasnya. Lalu dia merangkul paha Budiman agar semakin dekat dengan mukanya. Dan spontal mulutnya terbuka.

Budiman lantas saja memasukkan rudalnya samping mengocok pangkal rudalnya dengan keras. Dan tak lama, sambil mengerang hebat Budiman memuntahkan cairan spermanya seluruhnya di mulut Rini... Sampai cairan putih kental itu menetes netes dari sela-sela bibirnya yang masih menjepit rudal Budiman. Gemetar paha Budiman menahan nikmat.
Perutnya mengejang beberapa kali.

‛Ohhhh....Ohhhh    Oh     ‛ erang Budiman.

Rini ragu akan menelan atau tidak cairan sperma kental milik laki-laki pujaannya itu. Lalu, tak ada salahnya mencoba, pikirnya. Dan ditelannya sedikit cairan sperma itu. Dipejamkannya matanya berusaha menikmati, dan ternyata diputuskannya, memang layak untuk dinikmati.

Sementara Budiman masih kejang membiarkan rudal nya masih di mulut Rini. Dirasanya Rini mulai menghisap rudalnya. Uffffffffff     Kali ini Budiman yang merasa kewalahan. Dia seakan kekeringan sperma saat Rini menghisap lebih kuat lagi.

Dan dibiarkannya seperti itu agak lama. Sampai dirasanya, dia masih bisa senggama paling tidak sekalli lagi....

Dan mulailah dia meminta lagi pada Rini.

Rini menggeleng pelan minta dikasihani. Jujur dia sudah sangat letih. Dia sudah merasa seperti budak seks laki laki kasar ini.

Namun kau tahu sendiri Budiman. Laki-laki ini mena rik paksa Rini. Menggendongnya dan membopongnya keluar kamar. Rupanya Budiman ingin sesuatu yang lain. Dia menuju belakang rumah. Dibukanya pintu belakang. Rudalnya berdiri tegak, sesekali menyentuh pinggang Rini. Dia mau main di pekarangan.

Yah.... Di bale-bale halaman belakang. Budiman duduk dengan Rini juga duduk dihadapannya. Rudal Budiman sudah menerobos masuk lagi. Lalu keduanya mulai melakukan tarian paling erotis yang dapat mereka lakukan. Hanya kali ini

Budiman lebih dasyat menikmatinya. Dia melakukannya sambil berpelukan dan berciuman dengan Rini. Hanya pantatnya yang maju mundur di bale-bale. Hujan masih turun, dan ke duanya kecipratan air yang turun agak jauh dari mereka.

Lalu, Budiman memaksa Rini untuk nungging. Rini mengerang entah keenakan atau kesakitan karena kali ini ternyata Budiman tidak kalah ganasnya dari tadi. Bale-bale bambu ini terasa mulai goyang.

Sampai Budiman mencapai lagi orgasemnya kali ini dan langsung disemprotkannya ke punggung mulus Rini. Rini menghela nafas lega.

Dan Budiman membopong Rini lagi ke dalam rumah.

Mengunci pintu dan masuk ke kamar. Keduanya reabh di ranjang ambruk.

‛Kau sudah mengerti maksduku tadi?‛ tanya Budiman pelan.

‛Iya     apa maksudmu?‛

‛Apa kau akan memintaku menikahimu lagi?‛tanya Budiman.

‛Tentu saja. Aku mencintaimu...‛

‛Justru itu!‛

‛Maksudnya?‛

‛Apa kau akan tahan setiap hari kuperlakukan seperti ini ?‛

Diam tak bergeming. Rini memutar-mutar otaknya berpikir.

‛Kau memperlakukan aku seperti pelacur...‛akhirnya Rini menjawab.

‛Tidak Rin! Tak sekalipun aku bermaksud demikian.‛ Jawab Budiman. ‛Aku selalu begini behubungan seks dengan pacar-pacarku....‛

‛Setiap hari...?‛

‛Hampir setiap hari ‛

‛Dengan siapa saja? Berarti ada yang lain selain aku saat aku belum memberikan badanku padamu...‛

‛Memang iya...! Aku seperti ini...‛ ‛maksudmu?‛

‛Aku tak tahu pasti     tak ada perempuan yang tahan denganku apabila sudah mengalami bersetubuh denganku....

Mereka akan mundur teratur tak sanggup melayaniku...‛ Kata Budiman pelan.

‛Oh    ‛ Rini ngeri. Namun, tak dapat dipungkirinya.

TAMAT

SELEMBUT SUTRA

TAMAN RIA Remaja Senayan. Air membentang seluas mata memandang. Perahu-perahu hilir mudik dengan berbagai bentuk. Kebanyakan berkepala bebek. Penumpang-penumpangnya bermacam-macam. Ada keluarga. Terdiri Bapak, Ibu dan anak-anaknya. Atau pasangan-pasangan yang sedang berpacaran. Wajah-wajah mereka menunjukkan kegembiraan. Ada yang senyum, tertawa cerah. Atau bercanda ria.

Memang demikianlah halnya kebanyakan pengunjung-pengunjung Taman Ria ini. Kebanyakan menampakkan wajah gembira. Ceria. Namun di antaranya, ada seorang yang tidak menampakkan wajah gembira. Benny ! Dia duduk di atas rerumputan pebukitan yang memanjang. Matanya memandang ke depan. Sebentar meredup,sebentar membola. Seperti ada golakan di dalam hatinya. Seperti gelombang yang menderu-deru. Tiap sebentar menghela napas panjang!

Langit cerah. Awan-awan putih bergumpal-gumpal di sela-sela langit biru. Benny merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Kedua lengannya disilangkan di bawah kepala. Lama dia memandang langit. Tetapi langit bagai tak tampak. Yang terlihat olehnya, bayangan kabut. Bergumpal-gumpal. Di antara kabut itu, bagaikan menyembul seraut wajah. Perempuan. Cantik. Dan tik. Dan Benny menarik napas panjang lagi. Seraut wajah itu tersenyum. Manisnya. Lebih manis dari pada gula atau segala yang paling manis di dunia ini. Benny memejamkan matanya. O, kesalnya dia. Tak ingin sebenarnya dia menyaksikan seraut wajah itu. Tetapi wajah itu seperti mengejarnya. Wajah Lisa. Wajah seseorang yang dicintainya.

Benny membuka matanya lagi. Secara jujur, Benny, pemuda yang berusia sekitar dua puluh empat tahun itu, harus mengakui, bahwa dia sangat mencintai Lisa. Belum pernah sebelumnya, Benny mencintai seseorang, seperti besarnya kecintaannya kepada Lisa, Tetapi sekarang! Cinta yang besar itu telah berobah menjadi kebencian. Kebencian amat sangat. Benny merentak. Setengah menyentak, dia bangun dari sikap berharingnya. Berpaling ke kiri dan meludah. Dan . . . tiba-tiba mata Benny bentrok dengan mata seseorang. Seorang perempuan.

Benny terperangah. Sejak kapan perempuan itu duduk di situ. Benny tidak melihatnya pada beberapa menit yang lalu. Perempuan itu, berwajah tirus dengan sepasang mata bola yang indah, dengan rambut dibiarkan tergerai pada bahunya, masih saja memandang Benny. Umurnya sekitar tiga puluh tahun. Sendirian ! Benny menelan ludah! Uf! Mata yang indah. Duduk dengan sikap agak sembarangan, sehingga ujung roknya tersingkap. Dan menyembullah pahanya yang memutih penuh !

Benny segera menarik pandangnya dan melemparkannya ke arah lain. Uf! Persetan dengan perempuan. Walau bagaimanapun cantiknya. Tentu dia tidak berapa jauh dengan Lisa! Benny memandang langit. Tetapi . . . mata perempuan itu sangat indah . . . Lebih indah dari pada mata Lisa. Secara naluriah. Benny berpaling lagi ke kiri. Dan lagi-lagi matanya bentrok. Uf! Perempuan itu membalas senyum Benny. lni benar-benar di luar dugaan. Dan Benny berpikir, perempuan itu cuma sendirian. Hmm! Benny mengangguk. Dan hati Benny jadi mengembang, bila perempuan itupun itu pun membalas mengangguk.

"Aku tidak boleh ge-er!" ujar Benny dalam hati. "Aku tidak boleh mengharapkan terlalu banyak. Cukuplah bila bisa ngobrol-ngobrol. Dia sendiri. Dan akupun sendiri. Lumayan menjadi teman ngobrol!"

Berpkir demikian, Benny menunjuk dirinya, kemudian menunjuk perempuan itu. Maksudnya, Benny menanyakan. bagaimana kalau Benny menemani perempuan itu duduk. menikmati alam indah Taman Ria. Perempuan itu tertawa kecil sambil mengangguk. Dan Benny tentu saja tidak ingin membuang-buang waktu. Segera dia berdiri dan menghampiri perempuan itu.

"Tidak mengganggu?!" tanya Benny sambil duduk di sisi perempuan itu.

"Senang sekali dikawani!" jawab perempuan itu.

"Sendirian?" tanya Benny.

"Seperti yang kamu lihat!" kata perempuan itu sambil mengerling. Kemudian melanjutkan: "Sebenarnya saya menunggu seseorang."

"Pacar?!"

"Belum bisa dikatakan begitu. Hanya kawan biasa. Dan kamu?!" tanya perempuan itu, yang tahu betul bahwa Benny jauh di bawah umurnya.

"Saya memang datang sendirian," ujar Benny.

"Nggak sama pacar?!" tanya perempuan itu sambil tersenyum.
"Saya . . . eh, belum punya pacar."

"Bohong!" kata perempuan itu spontan.

"Kenapa Mbak menuduh saya bohong?!" Benny mengernyitkan keningnya.

"Umur kamu berapa?!"

"Dust puluh empat!"

"Dua puluh empat tahun, belum punya pacar. Siapa yang mau percaya!"

"Tetapi saya betul-betul belum punya pacar!" jawab Benny. Padahal dalam hati, Benny sangat menyesali ucapan mulutnya. "Aku bohong, Mbak. Aku sebenarnya punya pacar. Tetapi aku sebel sama dia!"

"Nama kamu siapa?!"

"Benny. Dan nama Mbak?!"

"Aningsih."

"Ya. Kenapa?!"
"Nggak apa-apa! Nama yang manis!"

Perempuan itu tertawa kecil sambil memukul bahu Benny. "Uf kamu ini! Baru ketemu, sudah merayu!"

"Saya nggak merayu, Mbak. Nama Mbak memang manis, seperti orangnya. Cantik. Llncah. Dan ketawa Mbak itu, lho!"

"Memangnya kenapa dengan ketawaku?!"

"Manisnya nggak ketulungan!"

Perempuan itu ketawa lagi. ketawa lagi !

"Makin manis saja," kata Benny.

Perempuan itu, yang menyebutkan namanya Aningsih, memukul bahu Benny. Ganti Benny yang ketawa-ketawa senang.

"Kamu seharusnya sudah punya pacar."

"Nggak ada perempuan yang mau sama saya."

"Bohong! Kamu ganteng! Pasti banyak perempuan yang mau sama kamu!"

"Sungguh kok, Mbak," kali ini Benny bicara lebih serius. Dicabutnya sebatang rumput yang tumbuh di hadapannya. Digigitinya ujungnya sampai hancur. Kemudian dilemparkannya. Lalu berkata dengan suara lebih perlahan: "Tak ada perempuan yang mau sama saya!"

"Mengapa kamu beranggapan demikian?!"

"Kenyataannya memang begitu."

"Jangan-jangan kamu sendiri yang jual mahal. Sebenarnya banyak perempuan yang mau sama kamu. Tetapi kamu sombong. Tidak memandang sebelah mata pada mereka!"

"Tidak begitu, kok!" jawab Benny. "Saya biasa-biasa saja!"
"Kalau kamu biasa-biasa saja pasti sudah punya pacar!"

Benny mencabut lagi sebatang rumput, menggigitnya, kemudian membuangnya lagi jauh-jauh. "Saya memang pernah punya pacar. Kan saya sangat mencintainya. Tetapi . . . " terputus ucapan Benny.

"Tetapi mengapa . . . ?!" bertanya Mbak Ning antusias. Rupanya dia ingin tahu. Benny mencabut lagi sebatang rumput. Seperti tadi, digigitnya, kemudian dilemparkannya jauh-jauh.

"Putus, Mbak."
"Mengapa putus?!"

Benny diam. Memandang ke arah danau. Mbak Ning juga memandang ke arah danau, lalu kembali pada Benny.

"Mengapa putus?!" Mbak Ning mengulangi pertanyaannya.

"Barangkal sudah begitu nasib saya!"

"Pasti kamu yang memutuskan. Kamu sudah bosan sama dia. Kamu kepingin ganti pacar lain. Maka kamu mencari gara-gara!"

"Saya tidak serendah itu."

"Lalu mengapa bisa putus?!"

"Dia yang memutuskan."

"Dia pacaran dengan lelaki lain?!"

"Ya!"

Aningsih menghela napas. "Kalau begitu, kamu patah hati sekarang. Tidak apa. Kisah cinta tidak selalu berjalan mulus Kamu laki-laki. Tidak boleh cengeng. Masih banyak yang bisa kamu harapkan dalam hidup ini. Perempuan tidak cuma satu di dunia ini!"

"Barangkali memang begitu. Tetapi saya sulit sekali melupakannya."

"Kamu sangat mencintainya?!"

"Ya!"

"Kamu harus berusaha melupakannya. Itupun kalau kamu benar. Jangan-jangan kamu cuma bohong!"

"Sungguh kok, Mbak Ning. Saya tidak bohong. Kalau Mbak tidak percaya, Mbak boleh melihat fotonya," sambil berkata demikian Benny mengambil dompetnya dan mengeluarkan sehelai foto berukuran separoh kartu pos. Diserahkannya pada Mbak Ning. Perempuan itu mengamat-amati foto itu. Foto seorang gadis separuh badan. Cantik. Berusia sekitar dua puluh satu tahun.

Mbak Ning menyerahkan kembali foto itu.

"Cantik memang. Pantas kamu sangat mencintainya. Tetapi Mbak lihat, gadis ini type setia. Rasanya hampir tidak mungkin kalau dia mengkhianati cinta kalian!"

Benny menyimpan kembali sehelai foto itu ke dalam dompetnya, kemudian dimasukkan ke saku belakang celananya. "Mengapa Mbak tidak percaya, padahal saya sudah menceritakan yang sebenarnya."
"Kalau memang begitu, yah . . . apa boleh buat. Kamu harus tabah," suara Aningsih seperti yang sedang memberi petuah.

"Ya, memang. Saya harus tabah," ujar Benny.

Angin melembut, menggerai-geraikan rambut mereka. Perahu-perahu masih saja hilir mudik di danau buatan. Pucuk-pucuk pinus bergoyang di ke jauhan. Di bawah mereka, di aspal jalan yang melingkari bukit kecil panjang itu. Ada sepasang manusia yang berjalan mesra sekali. Lengan si lelaki melingkari pinggang si wanita. Sedangkan kepala si wanita menyandar ke bahu si lelaki. Mesranya! Selangit!

"Kadang saya sering iri jika melihat kemesraan orang lain," ujar Benny yang melihat sepasang insan yang saling mencinta itu.

"Kalau begitu, mengapa kamu datang ke mari sendirian?! Di sini banyak sekali pemandangan yang menyiksamu!"

"Tempat ini banyak memberikan kesan pada saya, Mbak. Saya dan Lisa datang ke mari. Kami bermesraan. Saya senang mengembalikan kesan-kesan itu!"

Mbak Ning tertawa. "Kau salah!" katanya. "Yang begitu, malah akan semakin menyiksamu!"

"Yah, saya memang salah. Memang salah!" ujar Benny seperti mengeluh. Lalu Benny mencabut lagi sebatang rumput. Digigitinya. Lalu dilemparkannya kembali. "Dan Mbak sendiri?! Mengapa Mbak ada di sini?!"

"Sudah kukatakan, bukan?! Aku menunggu seseorang." kali ini wajah Mbak Ning menampakkan kegelisahan

Benny menatap lebih tajam. "Kelihatannya Mbak bohong!"

"Kamu tidak percaya?!"

"Ya! Saya tidak pereaya!"

"Apa yang menyebabkan kamu tidak percaya?!"

"Mata Mbak! Mulut Mbak, bisa bohong. Tetapi mata Mbak tidak. Mata Mbak lebih jujur!"

Aningsih menggigit-gigit bibirnya sendiri. "Saya tidak bohong."

"Lalu, yang menunggu mbak itu, tidak datang?!"

"Sudah hampir satu jam aku menunggu. Rasanya dia memang tidak datang."

"Barangkali dia ada halangan."

"Ya! Barangkali!" Aningsih melihat ke jam tangannya. Sudah jam lima lewat. Matahari sudah redup di langit. Angin bertambah sejuk semilir. Lama mereka ngobrol. Melompat dari satu masalah ke masalah lain. Kebanyakan tidak penting. Suasana petang semakin hilang. Berganti dengan gelap. Bulan di langit tersenyum. Bulan sabit. Di pebukitan tidak hanya mereka berdua. Tetapi banyak lagi yang lain. Mereka adalah pasangan-pasangan yang saling memadu kasih. Dan sekarang, Aningsih dan Benny tidak lagi berjauhan. Aningsih meletakkan kepalanya ke bahu Benny. "Kalau saja pacar Mbak melihat kita, tentu akan cemburu!" ujar Benny.

Akingsih tersenyum. "Aku belum punya pacar." katanya. "Lalu?! Lelaki yang janjian sama Mbak, yang ternyata sekarang tidak datang?!"

Aningsih menggeser-geser rambutnya ke leher Benny, "Lelaki itu belum lama kukenal. Baru dua kali bertemu. Dan sekarang dia tidak datang. Janjinya tidak bisa kupercaya!" ujar Aningsih.

Benny merasakan geli yang nyaman ketika Aningsih menggeser-geserkan rambutnya ke lehernya. Geli yang merambati pembuluh-pembuluh darahnya. Angin malam berkesiur dingin, menusuk tulang. Tetapi tidak demikian halnya dengan Ning dan Benny. Keduanya sama sekali tidak merasakan dingin. Hati mereka hangat. Lengan mereka saling merangkul. erat. Keduanya merasakan diri melayang. Bayang-bayang pepohonan menimpa mereka.

"Boleh aku ke rumah Mbak Ning kapan-kapan?!" tanya Benny.

"Mengapa tidak?! Aku senang sekali kalau kau mau datang." kata Ning.

"Pasti! Pasti aku akan datang!" kata Benny.

Lalu mereka berkecupan. Hangatnya bibir Benny. Hangatnya bibir Ning. Lalu tangan-tangan mereka saling bergenggaman. Lalu saling meremas. Lalu berkecupan lagi. Mesranya. Dan bayang-bayang pohon semakin menghitam. Angin semakin dingin berkesiur. Mereka tak ubahnya seperti sepasang kekasih yang sudah lama saling memadu kasih. Sampai akhirnya, Aningsih seperti tersadar menatap jam tangannya. "Ah, sudah jam delapan!" katanya. Lalu dilepaskannya rangkulannya. "Kita pulang, Ben!"

Rasanya cepat sekali waktu berlalu. Benny dan Aningsih melangkah kecil, menuruni pebukitan itu. Lengan Benny melingkari pinggang Aningsih yang ramping. Suatu ketika, hampir Aningsih tergelincir. Lengannya bergelayutan di leher Benny. Benny cepat meraih pinggang Aningsih erat-erat. Mereka berpelukan sambil berdiri.

"Kuantarkan Mbak pulang." ujar Benny

"Tidak. Biar aku pulang sendiri."

"Kata Mbak, aku boleh ke rumah Mbak Ning."

"Boleh. Tetapi tidak sekarang."

"Kalau begitu, Malam Minggu nanti?!"

"Jangan Malam Minggu."

"Pacar Mbak datang. ya?!"

"Bukan. Malam Minggu nanti aku ada acara keluarga."

"Acara apa ?! Ulang tahun?!"

"Bukan! Arisan keluarga! Ah, kau banyak tanya."

"Kalau begitu, Malam Rabu depan. Seminggu lagi?!" Aningsih mcngernyitkan keningnya. "Baiklah! Aku tunggu kau!" lalu Aningsih menyetop taksi. Sejurus kemudian, taksi pun melesat meninggalkan Benny yang masih saja mematung memandangi taksi itu.

Lalu Benny menstarter motornya.

Sungguh, dia tak menyangka, malam ini akan bertemu dan berkenalan dengan Mbak Ning. Dan dia tak menyangka, bahwa perkenalan itu cepat menjadi rapat. Keduanya tersenyum-senyum kecil. Terbayang kembali, bagaimana mesranya bibir Mbak Ning menindih bibirnya. Betapa hangatnya. Betapa lembutnya. Hampir saja Benny menubruk bus tingkat yang tiba-tiba saja berhenti. Untunglah naluri Benny cukup tajam untuk menghindari tubrukan itu.

BENNY tidak dapat melupakan Aningsih. Di tempat pekerjaannya, Benny tetap ingat. Ini menjadikan Benny banyak melamun. Nelly mengageti Benny. Benny tersentak. Hampir saja berhenti jantungnya. Nelly terkikikkikik. "Tampangmu lucu sekali kalau lagi kaget," kata Nelly sambil menutupi mulutnya.

"Kalau jantungku putus, apa kamu bisa ganti?!" tanya Benny kheki.

"Bisa! Aku ganti saja sama hati monyet!"

"Enak saja! Apa kau kira aku ini satu keluarga dengan monyet?! kata Benny lagi.

"Aku tahu. Pasti Benny lagi kasmaran," ujar Oding.

Apa yang dikatakan Oding memang hampir benar. Benny melamun. Dan Aningsih yang dilamunkan. Terbayang wajahnya. Terbayang gerak-geriknya. Terbayang tertawanya. Semua, semua. Dan Benny membandingkan Aningsih dengan perempuan-perempuan yang pernah dikenalnya. Dengan Hera, Yani, Dari dari banyak lagi wanita-wanita lain. Namun Aningsih mempunyai daya tarik sendiri. Rasanya lama sekali sampai menunggu hari Rabu tiba. Menit demi menit yang berlalu, rasanya sangat lambat. lngin dipaksakannya matahari bergeser cepat ke sebelah barat, agar hari cepat berganti!

HARI RABU.

"Mbak Ning tinggal sendirian di sini?!" tanya Benny pada Aningsih. Mereka duduk di ruang tengah rumah Aningsih. Pada jam sepuluh pagi, Akingsih belum mandi. Tetapi di mata Benny, bahkan Aningsih tampak lebih cantik dan menawan.

"Tidak! Bersama teman, Mbak. Hilda! Dan seorang pembantu!" jawab Aningsih sambil meletakkan segelas kopi susu di hadapan Benny.

Benny mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah. Hm, rapi. Pertanda rumah ini ditangani oleh orangorang yang apik.

"Mbak Ning kerja?!" tanya Benny lagi.

"Tidak! Aku cuma dagang permata. Yah, hasilnya lumayan juga," kata Aningsih sambil berdiri dari duduknya.

"Kau tunggu sebentar. Mbak mandi dulu. Kalau mau baca-baca majalah, tuh du bupet. Banyak!" kemudian Aningsih masuk ke kamarnya, mengambil handuk. Kemudian keluar lagi dan melenggang ke kamar mandi. Mata Benny tak lepas dari pinggul Aningsih yang bergoyang-goyang.

Aningsih melepaskan satu-satu yang melekat di tubuhnya. Hmm, air terasa sejuk ketika mengguyur tubuhnya yang mulus. Lalu tangannya yang lentik mulai menyabuni. Mulai dari leher, turun ke bahu, turun lagi ke sepasang pebukitan indah di dadanya. Seluruh apa yang ada pada dirinya, merupakan panorama sangat indah yang akan mendatangkan kesan mendalam bagi yang memandangnya. Sambil menyabuni itu, Aningsih berpikir: "Benny benar-benar datang!" Aningsih benar-benar tidak menduga, bahwa Benny akan menepati janji. Pemuda itu sangat menarik. Tubuhnya tegap dan atletis. Tubuh yang dirindukan oleh perempuan.

"Bennnn !!!" Benny yang sedang duduk membaca majalah di ruangan tengah, mendengar suara Aningsih yang memanggilnya mesra.

Benny menutupkan majalah dan buru-buru ke kamar mandi. Pintu kamar mandi setengah terbuka. Aningsih berdiri dengan handuk sebatas dadanya! Benny terkesiap. Hmm, dengan handuk itu, tubuh Aningsih tercetak indah. Terutama kulit bahu dan pahanya yang sangat mulus. Kencang dan sekal. Membuat mata Benny tidak berkedip.

Aningsih tersenyum sambil menjentik pipi Benny. "Mengapa kau pandangi aku seperti itu, sih?! Apa ada yang aneh pada diriku?!"

"Ah, tidak. Aku . . . eh, Mbak cantik sekali!" kata Benny gelagapan dan serba salah.

"Wowww! Rayuan gombal!" ujar Ningsih sambil mengerling manis. "Bennn!! Tolong ku, ya . . . ?!"

"Tolong apa, Mbak?!"

"Tolong ambilkan aku sendal di kamar. Sendal yang warna merah. Brengsek, deh. Aku lupa pakai sendal ke kamar mandi." kara Aningsih dengan suara manja. Suara yang membuat hati Benny panas dingin.

Benny segera ke kamar Mbak, Ning, mengambil sendal merah. La.lu kembali ke kamar mandi. "Terima kasih, Ben!" ujar Aningsih sambil mengenakan sendal yang diambilkan Benny.

Tetapi baru saja mengenakan sebelah, tiba-tiba kaitan handuk Aningsih terlepas. Dan cepat sekali handuk itu meluncur ke bawah. Aningsih terkejut. "Oh . . . !" serunya. Tetapi Aningsih sudah tidak mengenakan apa-apa lagi.

Yang terlebih gawat adalah Benny. Jantungnya dirasakan bagai akan meledak . . . Matanya membelalak. Dan Benny tidak nampu menguasai diri lagi. Ditubruknya Aningsih. "Bennnn! Kau ini, Apa-apaan . . . ?!" Aningsih meronta-ronta. Namun rontaan-rontaan itu terlalu lemah. Tidak mungkin mampu melepaskan diri dari pelukan Benny yang ketat. "Bennn! Jangan, ah! Oukh, kamu ini . . . !!" Aningsih masih mencoba meronta. Tetapi . . . ah, tidak. Lebih tepat dikatakan menggeliat. Kepala Aningsih menggeleyong ke kiri dan ke kanan. Menghindari bibir Benny yang mencari-cari bibirnya. Benny tak sabar. Didorongnya tubuh Aningsih. Ditekankannya ke dinding kamar mandi, sehingga Aningsih tidak leluasa lagi bergerak. Dan sekejap kemudian, mulut Benny berhasil menangkap bibir Aningsih. "Hmmmm! Mmmmmm !!" Aningsih tidak lagi meronta. Matanya segera meredup. Menerima pelukan dan kuluman bibir Benny yang hangat. Bahkan sekarang, Aningsih ikut membalas. Dijulurkannya lidahnya. Saling mendorong dengan bibir Benny. Matanya semakln redup. Lincah sekali lidah Aningsih mengait-ngait lidah Benny. Mendapat sambutan yang hangat, darah muda Benny semakin membuncah. Panas! Menuntut pelepasan. Apalagi ditambah dengan sepasang payudara ranum milik Aningsth yang menekan dada Benny yang bidang!

"Bennnnn! ! Hmmphh . . . akh!"

"Mbak !! Ssssh !!"

"Sesak napasku, Bennnnn!!"

"Biarlah sesak!"

"Putus jantungku!"

"Biarlah putus!"

"Kalau aku mati . . . ?!!"

"Aku akan ikut mati!"

Aningsih tertawa sambil mencubit pipi Benny. "Ih, kok kayak Romeo dan Yuliet saja. Kalau aku mati, apa kau benarbenar mau ikut mati?!"

"Mau! Demi Mbak!.'ujar Benny sambil menciumi leher Aningsih dengan lembut sekali. Aningsih menggeliatgeliat. Lehernya menggeleyong-geleyong ke sana-ke mari. Sikap seorang perempuan yang penuh rangsangan.

"Benn . . . !!" Aningsih menyebut nama lelaki itu ditengah-tengah rintihannya.

"Ada apa Mbak?!"

"Mengapa kau bersikap begini padaku?!" dan Aningsih lebih terengah-engah lagi, bilamana hidung Benny menyapunyapu pankkal buah dadanya yang montok.

"Saya . . . saya . . . cinta pada Mbak . . . !!" ujar Benny di tengah dengus-dengus napasnya.

Aningsih tertawa kecil. Telapak tangannya sebentar mengeluas dan sebentar menekan belakang kepala Benny.

"Kamu nggak bohong?!" tanya Aningsih sambil membusungkan dadanya yang montok dan putih itu, agar Benny lebih leluasa melakukan aktifitasnya.

"Saya nggak bohong, Mbak!"

"Kamu bohong . . . !" Aningsih memijit hidung Benny dengan gemas.

"Aww . . . !" Benny menjerit. Pijitan itu mendatangkan sakit. Tetapi juga nikmat.

"Kamu bohong, Ben! Lelaki memang begitu. Suka bohong. Rayuannya gombal. Selangit. Tetapi buktinya, nol! Nol kosong! Dan perempuan-perempuan banyak yang tertipu. Mereka akhirnya cuma bisa menangis dan menangis!" ujar Aningsih sambil sambil menekankan dadanya yang sekal, lengkap dengan putihnya yang kemerahan menantang itu kedada Benny yang bidang. Dan Benny merasakan sesuatu mengutik-utik di antara kedua pangkal pahanya, di balik celana panjangnya.

"Tetapi aku tidak begitu, Mbak. Kau tidak boleh menyamaratakan semua lelaki!" Benny panas dingin menahankan sesuatu yang bergelora, membuat kelenjar darahnya berdenyut-denyut.

"Tetapi, Ben! Apa betul kamu sungguh-sungguh mencintaiku?!" Aningsih melepaskan satu demi satu-satu kancing hemd Benny. Dan kemudian melepaskan hemd lelaki itu. Hemd itu meluncur begitu saja, jatuh ke lantai kamar mandi yang basah.

Seperti yang dibayangkan Akingsih, tubuh Benny sangat mengagumkan. Tubuh atletis. Bahunya tegap. Kedua lengannya kekar, berurat. Dan dadanya berbulu lebat. Sirrr . . . ! Berdesri darah Aningsih bilamana bulu-bulu dada yang keriting lebat itu bergesek ke dadanya.

"Bennn!" bisik Aningsih.

"Ada apa, sayang?!" tanya Benny.
"Bawa aku kamar. Di sini . . . di sini . . . dinginnnnn . . . !!!"

Benny tak perlu menunggu diperintah sampai dua kali. Segera didukungnya Aningsih ke luar dari kamar mandi. Mbok Inem, pembantu Aningsih sedang ke pasar. Benny meletakkan tubuh mulus yang sudah tidak ditutupi sehelai benangpun ke tempat tidur. Kemudian lelaki muda itu melepaskan celana panjangnya. Sambil berbaring. Aningsih menatap tubuh Benny yang aduhai itu. Benny hanya mengenakan celana dalam kecil saja. Berwarna putih. selangkangan Benny tampak menonjol. Dan Aningsih menelan ludah. Di balik celana dalam itu, meremang hutan lebat menghitam. Bergompyok. Terus menyambung sampai ke pusar Benny. Dan Aningsih sekali lagi menelan ludah.

"Bennnn . . . !!" ujar Aningsih. "Ada apa, sayang?!"

"Bukalah celana dalammu. Bukalah!"

Benny tersenyum, melepaskan celana dalamnya. Dan . . . wow!! Mata Aningsih membelalak. Bagaimana tidak?! Sesuatu yang biasanya selalu tersembunyi itu, kini terpampang bebas. Bazoka Benny! Senjata yang menggayut setengah tegang itu, panjang dan besar. Hebat sekali! Seakan-akan menantang bagi yang memandang. Benda luar biasa itu mengangguk-angguk. Menghitam! Mulai dari bagian pangkalnya, lebat ditumbuhi rambut kriting, Bukan  main! Seumur hidupnya, Aningsih belum pernah menyaksikan benda sehebat dan seindah itu.

DUA

Baru bukan sekali ini Aningsih menghadapi lelaki. Tetapi secara jujur, Aningsih harus mengakui, bahwa lelaki seperti Benny sangat jarang ditemuinya. Lelaki bertemperamen panas. Jantan! Romantis. Lelaki-lelaki yang dihadapinya, kebanyakan loyo. Tidak dapat memberikan kepuasan padanya!

Aningsih membiarkan saja Benny meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan putingnya yang kemerahan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan-gerakan bukit indah itu. Dan Benny meremasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan.

Aningsih merengek manja. Menggeliat sambil merintih. Matanya meredup. Oukh, telapak tangan Benny hangat dan seakan-akan mengandung magnit. Membuat Aningsih jadi terangsang. Tangan lelaki itu masih juga meremas. Berpindah-pindah. Puas sebelah kanan. Beganti dengan sebelah kiri. Bervariasi dengan tekanan-tekanan yang romantis. Mendatangkan rasa geli-geli dan nikmat. "Oukh, Bennnn! Hmmnrhhh . . . sssh, akh!" ujar Aningsih sambil membusungkan dada yang sedang diremas Benny, agar Aningsih lebih dapat meresapkan rasa geli-geli nikmat itu.

Benny memang pintar menaikkan rangsang perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang pintar bermain. Tetapi juga hidung dan mulutnya. Hidungnya menciumi permukaan payudara yang padat dan montok itu. Tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Bentuknya sangat indah. Membuat gemas. Cara Benny menciumi sepasang payudara itupun bervariasi. Sebentar keras dan sebentar lembut. Dan darah yang mengalir di tubuh Aningsih semakin deras saja!
"Ben !! Kamu sering main perempuan!" tanya Aningsih ditengah-tengah napasnya yang terengah.

"Tidak sering, Mbak. Baru beberapa kali saja." ujar Benny sambil membuka mulutnya dan memasukkan puting buah dada yang merah kecoklatan itu.

"Auww . . . !!" Aningsih menjerit lirih. Dan perempuan itu menggelinjang-gelinjang, bilamana puting buah dadanya dikulum oleh Benny. Dan untuk kesekian kali, Aningsih harus mengakui, bahwa kuluman bibir Benny sangat berbeda dengan kuluman bibir lelaki-lelaki lainnya. "Hsssh, akh! Terus, Bennnn! Terussss, sayangghhh . . . !! Hmmmhhh . . . !!" dua telapak tangan Aningsih mengerumasi rambut Benny sambil menekankan.

Benny semakin terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada itu. Dikulum oleh Benny. Dilepaskan. Dikulum. Dilepaskan lagi. Berganti-ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosanbosannya. Dan puting itu semakin tegang lagi. Benny melakukannya bervariasi. Sebentar lembut dan sebentar keras. Dan rasa geli bercampur kenikmatan semakin terasa. "Oukh, Benny! Teruskan, sayanghhh . . . !! Sssh ennnak, Bennnn!!!" mulut Aningsih mendecap-decap seperti orang kepedasan. Tersendat-sendat. Dan buah dada Aningsih semakin keras, pertanda perempuan itu kian terangsang. Lebih-lebih bilamana Benny menggesergeserkan di antara gigigiginya. Nikmat! Dan napas Aningsih turun naik. "Bennyy!! Keras, dikit! Ya, ya. gitu. Aukh, Bennnn! Kok enakkkh, sihhhh !" dan Aningsih merintih-rintih.

Benny semakin bersemangat. Digigit-gigitnya pentil susu yang kenyal itu. Dihisapnya. Lalu dijilatinya dengan bernafsu. Sebentar ditinggalkannya, puting itu. Lalu Benny mengecupi buah dada ranum itu bertubi-tubi. Lalu kembali ke pentil susu .yang siap menanti. Dibisapnya lagi. Digigitinya. Dikulum-kulumnya Lalu dilepaskannya lagi. Sementara tangan Aningsih tak menentu mengerumasi rambut Benny yang tebal, sehingga rambut lelaki itu menjadi acak-acakan.

Lama Benny mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu. Demikian pula dengan ketiak perempuan itu. Benny tak mau membiarkan menganggur. Ketiak Aningsih berbulu lebat. Sesuai dengan selera Benny. Benny memang paling senang dengan perempuan-perempuan yang cantik yang ketiaknya berbulu lebat. Sesuai dengan pengalaman Benny, biasanya perempuan-perempuan itu bertemperamen panas.

Benny menciumi ketiak perempuan itu, lalu menurun sampai ke pinggang sebelah kiri. Naik lagi ke ketiaknya, menurun lagi sampai ke pinggangnya. Demikian berulang-ulang. Benyy juga menggunakan ujung lidahnya untuk menjilatjilat sambil menggigiti keras dan lembut. "Uukh, Bennnn! Kami sungguh pintar membahagiakan
perempuan . . . !!!" bisik Aningsih terputus-putus.

Benny bukan hanya sekali ini mendengar ucapan seperti itu. Ketika mencumbu ibu kostnya, Tante Dewi, Benny juga menerima ucapan-ucapan seperti itu. Di samping itu, Tante Dewi juga mengatakan, bahwa seumur hidupnya, dia takkan mampu melupakan Benny.

Permainan lidah Benny terus dengan gencar menyerang tempat-tempat di tubuh Aningsih yang sensitip. Dijilatinya perut Aningsih yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman-ciuman Benny berulangulang. Sambil berbuat demikian, tangan Benny membelai-belai kedua paha Aningsih yang masih terkatup.

Aningsih sudah gemetar tubuhnya. Panas dingin. Ketika Aningsih menengok ke bawah, pandangannya beradu pada sesuatu di antara kedua paha Benny. Aningsih menelan ludah. Benda itu sejak tadi menggodanya. Aningsih menurunkan tangannya. Digenggamnya batang zakar Benny yang aduhai. Benny yang sedang menciumi sedikit di bagian bawah pusar Aningsih tertahan-tahan napasnya. "Oukh. Mbak . . . !" katanya. Aningsih merasakan benda yang digenggamnya, yang baru separuh tegang, hangat dan besar. Senang sekali menggenggam seperti itu. Sementara itu. tangan Benny masih juga terus meraba-raba Aningsih berganti-ganti.

"Sabar, Mbak!" bisik Benny. "Nanti Mbak boleh berbuat apa saja terhadap punyaku. Tetapi sekarang, aku sedang ingin mencumbu tubuh Mbak. Seluruh tubuh Mbak! Kurang leluasa kalau Mbak menggengam punyaku begini!"

Apa boleh buat. Meskipun Aningsih masih ingin menggenggam batang zakar yang luar biasa itu, terpaksa dilepaskan. Maka kini dengan leluasa melakukan aktifitasnya.

Dan . . . hhmmmh! Benny menahan napas bilamana pandangannya ditujukan ke selangkangan Aningsih. Bagian itu gompyok ditutupi rambut yang tebal keriting. Hmmh! Rambut kemaluan Aningsih bukan main lebat dan ikal. Menghitam! Kata orang, semakin tebal rambut kemaluan perempuan akan semakin enak kalau digituin. Dan sekarang, secara jujur, Benny harus mengakui, bahwa dia belum pernah mendapatkan perempuan yang rambut kemaluannya setebal dan selebat Aningsih. Benny menelan ludah. Jika menuruti nafsunya, tentu saja seketika itu juga Benny akan membenamkan batang kemaluannya yang sudah kian tegang, ke belahan daging hangat di balik rimbunan hutan lebat itu. Tetapi Benny bukanlah type lelaki yang serba grasa-grusu. Dia tidak akan menggituin pereinpuan, sebelum lebih dulu memberikan kesan yang sangat mendalam. "Oukh, Ben!" Aningsih menepuk pipi Benny lembut. "Kau kok jadi berobah seperti patung! Apa aku ini aneh bagimu!"

Benny menelan ludah sambil tersenyum. "Bukannya aneh, Mbak. Tetapi anumu, nih . . . !" ujar Benny sambil membelai rambut kemaluan Aningsih. "Rambut kemaluan ini indah dan menawan sekali. Baru rambutnya saja sudah begini menggiurkan, apalagi kemaluanmu. Tentunya enak sekali. Hmmh!"

Aningsih tertawa kecil. "Kau senang sekali pada rambut kemaluanku. Ben?!" tanya Aningsih sambil menggosokgosok bulu-bulu rambut di dada Benny.

"Senang sekali, Mbak. Senang sekali," Benny masih terus dengan mesra membelai-belai rambut kemaluan yang indah itu.

"Kamu sering mengerjai perempuan yang rambut kemaluannya setebal punyaku!"

"Belum, Mbak. Baru sekali ini. Bahkan aku pernah menccipi punya perempuan yang botak!" ujar Benny.
Aningsih tertawa kecil lagi sambil mengerumasi ramhut Benny. "Nah, terserah kaulah. Perbuatlah apa saja yang kau sukai pada punyaku!"

Walaupun tanpa diperintah seperti itu, tentu saja Benny akan berbuat sesukanya terhadap kemaluan Aningsih yang kini sudah terpampang di hadapannya. Benny menggerai-geraikan rambut kemaluan yang tebal, panjang dan keriting itu. Lalu ditekan-tekannya. Lalu diciuminya. Kadang-kadang ditarik-tariknya. Aningsih merasakan kemesraan amat sangat. Secara naluriah, pahanya mulai membuka sedikit demi sedikit. Jari-jari tangan Benny bermain-main di pebukitan itu. Hmmh, mesranya! Selangit!

"Bennn !!" Aningsih merintih.

Benny menguakkan bibir-bibir kemaluan Aningsih. Hmm, tampak bagian dalamnya yang kemerahan. Sangat indah menawan. Benny menelan ludah. Beginilah kiranya kemaluan perempuan. Dengan mesranya, Benny meraba-raba vagina yang indah itu. Merah dan licin. Pada bagian atas, pada pertemuan antara dua bibir, tampak sekerat daging kecil. Nyempil sendirian. Tidak berteman. Sungguh kasihan. Benny memandangi sepuas-sepuasnya panorama indah mengesankan itu. Ningsih memijit hidung Benny agak kuat. "Oukh, Ben! Mengapa cuma melihati saja?! Memangnya punyaku barang tontonan!"

Benny tersenyum. Tahulah dia, bahwa Aningsih sudah kepingin sekali dikerjai vaginanya. Padahal Benny masih ingin lebih lama memandangi. Vagina Aningsih rasanya lebih indah dari pada vagina-vagina perempuan lain yang pernah disaksikannya. Dengan mesra, jari-jari Benny menyentuhnya. Aningsih tergelinjang. "Wow! Hmmh, Bennnnnnn!! Ss sh, akh!" Aningsih menggeliat. Jari Benny terus juga bermain. Mengutik-utik kelentit yang nyempil aduhai.

Benny menempatkan di antara kedua paha Aningsih yang sudah mengangkang. Liang vagina yang sebaris dengan sibakan bibir inilah yang dapat menjepit dan memberikan kenikmatan kepada zakar. Lagi-lagi tangan Benny menyentuh kelentit yang cuma sekerat itu. Dan lagi-lagi Aningsih bergelinjang. Nikmatnya bukan main. Orang suka bilang, kelentit itu bisa berdiri. Benarkah?! Benny senang sekali dan mengulangi perbuatannya berkali-kali. "Oukh, geli, Ben! Geliiiii! Sssh, akhh . . . !!" Aningsih merintih-rintih.

Tingkah Benny saat itu, bagaikan kanak-kanak yang memperoleh permainan yang mengasyikan. Permainan yang tidak ada dijual di toko. Semakin giat Benny menyentuhi sekerat daging kecil itu. Aningsih mengerumasi rambut Benny.

Tidak puas dengan hanya menyentuh dengan tangan saja, bibir-bibir kemaluan yang ditumbuhi rambut itu, dikuakkan oleh Benny semakin lebar lagi. Kedua kaki Aningsih kini telah niengangkang selebar-lebarnya, menekuk ke atas. Sekarang, bagian dalam kemaluan itu telah terpampang selebar-lebarnya. Terbebas sama sekali. Sedetik kemudian, Aningsih terpekik: "Awww . . . !" Tubuhnya tersentak ke atas. Rupanya Benny telah membenamkan hidungnya ke dalam belahan daging yang aduhai itu. "Bennn . . . !! Uf ! Ssssh ennnakhhh, Bennn!!" Aningsih merintih-rintih sambil menekankan belakang kepala Benny dengan kedua tangnnya. Maka hidung Benny mulal menggusur ke sana-ke mari. Seperti akan membongkar seluruh bagian vagina Aningsih. Kaki Aningsih menendang-nendang ke atas, merasakan kenikmatan tidak bertara. Benny terus dengan giatnya menciumi. Vagina Aningsih menyebarkan aroma yang segar merangsang!

"Oukh, Bennn! Enak . . . enak . . . enak, sayangghhhh! Teruskan, Ben! Ayo, lebih cepat .dikit. Hmmmh Bennnn! Terus, sayang. Terus, terus, akhhhh !!"

"Aku juga, Mbak! Aku . . . aku . . . juga enak," bisik Benny sambil juga menggunakan. lidahnya, menjilat dan menjilat.

Mata Aningsih merem melek. Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Lehernya menggeleyong-geleyong. "Bennn! Kamu senang menciumi punyakuuuu . . . ?!! Shhh . . . !!!" tersendat-sendat suara Aningsih.

"Senang sekali, Mbak! Punyaku jadi semakin tegang, nih!" kata Benny tersendat-sendat pula. Dan lidah Benny terus juga menjilat dan menjilat. Menyapu-nyapu kelentit Aningsih. Benar saja! Kelentit itu semakin tegak, menandakan Aningsih telah terbakar oleh nafsu birahi. Kedua kaki Aningsih terus menyentak-nyentak ke atas. Pantatnya diangkat dan digoyang-goyang. Oukh, sungguh, permainan yang mengasyikkan.

Benny benar-benar menyukai menciumi dan menjilati vagina Aningsih yang harum itu. Sama sekali tidak jijik. Justru sebaliknya. Ketagihan. Benny semakin rakus dan semakin rakus.

"Bennn!!! Hhhssshh. Hmmm . . . hmmmhhh!" suara Aningsih menggeletar. Badannya nienggeliat-geliat tak menentu. Tubuhnya menggelepar-gelepar, bilamana ujung lidah Benny mengait-ngait dan menusuk-nusuk liang vagina Aningsih yang terasa liat. Sentuhan-sentuhan lembut vagina yang berdenyut-denyut itu kian membakar nafsu birahi. Dan tiba-tiba Aningsih mengejang. "Bennn . . . !! Sssh ! Akkkhhhuuu tak kuaattsss, sayaugghh . . . !!" Aningsih merentak-rentak.

"Ayoh, Mbak! Keluarkan! Aku sudah siap menerima!" ujar Benny yang terus juga dengan bersemangat menusuknusuk vagina Aningsih dengan ujung lidahnya.

"Iyyaa, Bennnn! Akhhhu shhi . . . aukhh! Bennn! Ennnakkhhhh, meronta-ronta bagaikan kesetanan. Berbarengan dengan jeritannya yang menyayat, Aningsih mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan menekankan belakang kepala Benny sekuat-kuatnya, sehingga tanpa ampun separuh wajah Benny membenam sedalam-dalam ke bagian dalam kemaluan Aningsih. Bertepatan dengan itu pula, menyemprotlah cairan hangat dan licin. Kental. Menyiram lidah Benny yang terus menusuk-nusuk lobang vagina Aningsih.

Benny yang memang sudah siap menerima, bagaikan kesetanan, menghirup habis cairan yang banyak sekali itu. Terus dijilat dan disapu bersih, masuk ke kerongkongannya. Sudah tentu Aningsih semakin berkelojotan, dikarenakan rasa nikmat yang luar biasa sekali. Sampai akhirnya tetes cairan yang terakhir. Tubuh perempuan itu melemas. Sedangkan Benny sendiri, merasakan pula nikmat luar biasa ketika mereguk cairan licin itu. Cairan kenikmatan Aningsih gurih sekali, lebih gurih dari pada segala yang paling gurih di dunia ini !
Benny tertunduk sambil menjilati sisa-sisa cipratan cairan Aningsih yang melekati pinggiran bibirnya. Aningsih melompat dan memeluk Benny kuat-kuat. "Oukh, Bennn! Terima kasih, sayangl Kau hebat! Jantan! Kau mampu membuat perempuan bahagia!" dan Aningsih menciumi bibir Benny bertubu-tubi.

"Aku sampai kenyang menelan cairanmu. Banyak dan kental sekali! "ujar Benny.

"Kau tidak jijik, Ben ?!"

"Sama sekali tidak. Malah aku ketagihan. Kalau masih ada, aku masih mau meneguknya lagi!"

Aningsih tambah gembira. Menciumi lagi bibir Benny bertubi-tubi. Kemudian didorongnya tubuh lelaki muda itu sehingga tergelimpang di atas kasur. "Kau sudah mengerjai punyaku! Sekarang, ganti aku yang mengerjai punyamu!" ujar Aningsih yang segera menyergap selangkangan Benny.

"Auwww . . . !" Benny menjerit kaget.

Namun Aningsih tidak menghiraukan. Batang bazoka Benny yang sudah benar-benar tegak mengacung, sejak tadi sangat menggoda. Aningsih sudah ingin sekali menciumi dan mengemoti. Dan sekarang, keinginan itupun kesampaian.

Dengan mesranya Aningsih membelai-belai batang kemaluan itu yang bukan main luar biasa besar dan panjangnya. Demikian pula dengan kepalanya yang berkilat dan membengkak. "Oukh, punyamu hebat sekali, Ben! besar dan panjang. Hmmhh . . . !!!" Aningsih terus juga membelai sambil sesekali menggenggam. Mulai dari pangkalnya yang dipenuhi rambut lebat sampai ke ujungnya yang berkilat dan membengkak, berbentuk topi baja.

"Kamu suka pada punyaku, Mbak?!" tanya Benny sambil membiarkan Aningsih mengeser-geserkan zakarnya yang hebat itu ke pipi dan matanya.

"Suka sekali, Ben! Tetapi ugh! Punyamu besar banget. Bengkak! Aku jadi negeri!"

"Ngeri kenapa?!"

"Ngeri kalau-kalau vaginaku sobek dan rusak!"

Beny teatawa kecil. "Kau ini ada-ada saja. Kan semakin besar semakin enak!"

"Iya! Tetapi punyamu ini besarnya nggak ketulungan!" ujar Aningsih.

Benny tertawa lagi. Batang zakarnya berkejat-kejat digenggaman Aningsih. "Aku belum pernah merasakan batang zakar yang besar dan panjangnya kayak punyamu ini," ujar Aningsih lagi.

Benny merasakan geli dan nikmat bukan main ketika Aningsih menciumi zakarnya yang semakin membengkak.
Rasa geli yang nikmat dirasakan Benny. Tubuh lelaki itu kejang. Matanya membeliak-beliak. "Hmmh, Mbak! Sssh . . . !" mulutnya mulai merintih-rintih.

Sambil menciumi, Aningsih memijit-mijit batang bazoka yang keras bagaikan tonggak itu. Menjadikan Aningsih gemes. Ujung lidah menciumi benda aduhai itu. Benda yang dapat memberikan kenikniatan luar biasa kepada wanita. "Ben! Perempuan-perempuan yang sudah kau kerjai, pasti pada ketagihan!" ujar Aningsih.

Benny tidak menjawab. Dia mendacap-decap bagaikan orang kepedasan. Tengah meresapkan kenikmatan yang luaz biasa. Lezat!

Alat vital dalam genggaman Aningsih itu semakin membengkak dan semakin memanjang lagi. Aningsih yang gemas bukan main, semakin tak tahan. Segera dia menempatkan dirinya sebaik-baiknya diantara kedua kaki Benny yang tertekuk. Kedua paha Benny terlentang selebar-lebarnya, sehingga tangan kanan Aningsih menggenggam alat vital yang kencang itu, tangan kirinya memhelal-belai rambut kemaluan Benny yang tebal dan ikal, tumhuh sanipai ke pusar. Merinding bulu-bulu roma Aningsih bilamana dia menciumi seluruh batang dan kepala kemaluan yang luar biasa itu. Bukan main. jari jari Aningsih hampir tidak muat menggenggam alat vital yang luar biasa itu. Memang inilah yang sangat disukai Aningsih. Dulu, dia pernah mendapatkan lelaki yang juga memiliki bazoka besar. Dan sejak itu, Ningsih sangat merindukannya. Dan baru sekarang, dia memperolehnya kembali setelah bertahun-tahun berselang. Aningsih yang semakin gemas segera menjulurkan lidahnya, menjilat batang kemaluan itu. Lalu dingangakannya mulutnya dan dimasukkannya bazoka luar biasa itu. Keruan saja Benny nienggelinjang kaget namun nikmat. "Ouw, Mbak! Hmmh . . . enak sekali, Mbak!" Benny merintih. Kedua kakinya terangkat naik dan menyepak-neyepak ke atas.

Mendengar rintihan Benny, Aningsih jadi semakin bersemangat. Kepala bazoka yang berbentuk topi baja itu dikulumnya. Digigitnya. Tingkah Aningsih tidak ubahnya, bagaikan seseorang yang mendapat makanan lezat. Nikmat sekali. Sampai matanya terpejam-pejani. Air liurnya menetes-netes. Kepala yang berbentuk topi baja itu sangat hangat dan. kenyal. Demikian pula halnya dengan Benny. Kunyahan-kunyahan mulut Aningsih dirasakannya sangat nikmat dan merangsang nafsu birahinya. Benny merintih-rintih. Kedua kakinya semakin menyepak. Matanya mebeliak-beliak, sehingga hanya putihnya saja yang tampak. Aningsih kian bersemangat. Sekarang, bukan hanya kepalanya saja yang dikulum dan digigiti Aningsih, tetapi seluruh batang kemaluan yang perkasa itu. Semntara itu, kedua telapak tangan Aningsih tidak tinggal diam. Sementara mulutnya mengulum, tangannya menarik-narik rambut kemaluan Benny yang luar biasa lebarnya. Dan tangan yang satu lagi mempermainkan sepasang biji milik Benny.

"Enak, Ben . . . ?!" tanya Aningsih ditengah-tengah kesibukannya.

"Enak sekali Mbak. Ennaaakkkh !!!" Benny berusaha menyahuti tersendat-sendat. Kedua tangannya.

Aningsih terus juga melalap senjata yang luar biasa itu. Demikianlah secara beraturan, kepala dan batang zakar Benny keluar masuk mulut Aningsih. Pada waktu masuk, mulut Aningsih sampai kempot. Sedangkan pada waktu keluar sampai monyong. Semakin lama semakin cepat. Tubuh Benny gemetar. Jemarinya mencengkeram rambut Aningsih kuat-kuat. Rintihan . . . rintihannya semakin menghebat, sementara Aningsih kian gencar menyerbu menggebu-gebu. Akhirnya, Benny menjerit histeris. Pantatnya diangkatnya tinggi-tuiggi, sedangkan kedua telapak tangannya menekan belakang kepala Aningsih kuat-kuat. Dan batang serta kepala kemaluan Benny pun membenam sedalam-dalamnya, merojok sampai ke tenggorokan Aningsih. Dengan bersemangat sekali, tangan Aningsih mengocok pangkal kemaluan Benny dengan cepat dan mesra. Dan tanpa ampun lagi : "Crroott! Crrrroooottss! Crrottttsssss . . . !!!" menyemprotlah cairan kental dari dalam batang kemaluan yang berdenyutdenyut dengan dahsyatnya. Daya semprotnya luar biasa sekali. Tubuh Benny menggigil. Aningsih tidak menyianyiakan kesempatan. Dengan nikmat sekali disedotnya batang kemaluan Benny. Maka tanpa ampun, bergumpal gumpal cairan kenil:matan Benny, tertumpah semuanya ke dalam mulut dan tenggorokan Aningsih. Mata Aningsih sampai terpejam-pejam, menelan seluruhnya sampai tetes terakhir. Benny setengah mengeluh memejamkan matanya. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. "Oukh, Mbak. Kau sungguh hebat!" bisiknya.

Aningsih tertawa sambil menyeka mulutnya yang sebagian masih dibasahi sisa-sisa cairan kental. "Bagaimana, Ben?! Enak?!" tanya Aningsih.

Benny menarik lengan Aningsih, sehingga perempuan itu jatuh ke dalam dekapannya. "Enak sekali, Mbak. Oukh, enak sekali! Kaupun mampu membahagiakan lelaki!" ujar Benny.

Aningsih tersenyum mendengar pujian Benny, "Aku haus, Ben. Tolong ambilkan aku minum di meja itu, dong!" ujar Aningsih.

Benny melompat turun dari tempat tidur, menuangkan Fanta merah dari botol besar ke gelas sampai penuh. Kemudian memberikannya pada Aningsih. Aningsih meneguknya dengan lahap. Haus sekali rupanya. Sampai habis tiga perempat gelas. Kemudian Benny menuangkan lagi ke gelas sampai penuh, kemudian meneguknya sampai habis.

"Benny . . . !" mata Aningsih berkejap-kejap. Punyaku sudah ingin sekali dimasuki punyamu." Dan Aningsih melirik ke selangkangan Benny. Senjatanya masih tegang mengacung.

"Kita istirahat dulu sebentar ya, sayang!" bisik Benny sambil membelai rambut Aningsih.

TIGA

Hanya sepuluh menit mereka membutuhkan waktu istirahat. Benny naik ke atas tubuh Aningsih yang sudah siap menanti. Kedua susunya menyembul putih bagaikan salju. Benar-benar menantang. Pinggangnya ramping dan pinggulnya mekar dan indah. Benny menciumi bahu dan payudara Aningsih, sementara bazokanya yang sudah benar-benar tegang menggeser-geser di paha Aningsih.

Aningsih menggenggam batang bazoka Benny yang sangat kekar. Sambil membalas ciuman-ciuman Benny yang bertubi-tubi dibimbing dan kemudian ditempatkannya kepala kemaluan Benny yang sudah membengkak tepat di ambang gua vaginanya. Sementara itu, kedua paha Aningsih sudah direntangkannya selebar-lebarnya. "Benn . . . !! Pelan-pelannn, sayanghhh!!" bisik Aningsih gemetar. "Kepunyaanmu besar sekali!"

Benny mengangguk. Dirasakannya kehangatan menyengat pada kepala zakarnya. "Ayoh, Benn! Tekan, sayangghh!! Sssshh . . . pelan-pelllaann !!" Aningsih memejamkan matanya.

Benny mendorong pantatnya. Dan kepala zakarnya pun melesak, dan: "Auww . . . !!!" Aningsih menjerit tertahan. "Bennnnnn!! Sssaakkhittsss!" dan tubuh Aningsih mengejang, bergetar menahan rasa perih.

Benny mengerti. Dia tidak main asal tabrak saja. Dinantikannya sampai rasa sakit Aningsih. Benny merasakan lobang vagina Aningsih menjepit keras, mencekik leher zakarnya. Adduuuhhh! Bukan main nikmatnya!

"Ayoh, Ben! Tekan lagi!" bisik Ningsih setelah rasa sakit itu hilang.

Benny menekan lagi. Dan srrrt! Dan batang zakar Benny yang luar biasa besarnya itu melesak lagi sampai sepertiga. Dan sebagaimana yang pertama, Aningsih tersentak sambil menjerit: "Addduuhhh! Bennn! Ssssaakkhittss "

"Tahankan, sayang!" bisik Benny sambil tersenyum dan bertulang mengecupi mata Aningsih yang berlinang.

"Nanti kau akan merasakan nikmat yang luar biasa!"

Benny membiarkan zakarnya membenam sampai sepertiga, kemudian ditariknya perlahan-lahan sampai sebatas leher kemaluannya. Lalu ditekannya kembali pantatnya. Dan batang bazoka yang luar biasa itupun menggelosor masuk. Lagi-lagi Aningsih merasakan kemaluan Benny bagaikan membongkar seluruh lorong vaginanya. Aningsih menggigit bibirnya sendiri, menahan rasa sakit dan linu. Namun lama kelamaan, rasa sakit dan linu itu semakin berkurang dan semakin berkurang lagi. Sebagai gantinya, zakar Benny keluar masuk mulai mendatangkan rasa nikmat luar biasa. Keluar-masuk. Keluar masuk! Demikian berulang-ulang. Bless! Slessep!
Bless! Slessep! Bagaikan kereta api yang sedang langsir. Tetapi terbatas hanya sampai separuh saja. Pada waktu didorong masuk, vagina Aningsih sampai kempot. Dan pada waktu ditarik, sampai monyong . . . Hmmm! Kepunyaanmu enak sekali, sayang. Sempit sekali. Rasanya hampir lecet kepunyaanku," kata Benny.

"Kepunyaanmu terlalu besar, Ben," ujar Aningsih sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Hal mana semakin mendatangkan nikmat bagi Benny. Demikian pula bagi Aningsih. Pinggulnya yang besar dan montok itu melakukan gerakan memutar, seirama dengan keluar-masuknya batang zakar Benntu. "Bagaimana, sayang?! Masih sakit?!" tanya Benny sambil mengecupi belakang telinga Aningsih. Aningsih menggelinjang-gelinjang geli.

"Kemaluanmu enak sekali, sayang! Betul-betul lezat." bisik Aningsih.

"Nah, apa kataku tadi. Rasa sakitmu cuma sebentar, kan?!" ujar Benny. "Kemaluanmu juga enak, Mbak. Enak sekali!"

"Bennn . . . !!" Ujar Aningsih yang tersenyum bangga, menerima pujian Benny.

"Ada apa?!" tanya Beatty.

"Apakah kepunyaankn betul-betul enak?!"

"Enak sekali, sayang. Kepala zakarku bagaikan dipijit dan disedot-sedot. Pokoknya lezaaatttss . . . !!" Benny meliuk-liuk ke sana-ke mari. Tenutunya diapun sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa sebagai akibat pijitan-pijitan dinding-dinding lorong kemaluan Aningsih yang bagaikan hidup. Sementara itu, cairan lendir semakin membajiri lorong kemaluanku. Semakin licin dan basah.

"Nah. manisku! Lorongmu semakin lancar sekarang," bisik Benny dengan mesranya. "Bagaimana kalau kubenamkan seluruh batang zakarku?!"

"Ayoh, sayang! Aku sudah siap," kata Aningsih sambil mengangkangkan kedua pahanya lebih lebar.

Dan Benny pun mendorong pantatnya sehingga kemaluannya lebih dalam membenam ke dalam lobang vagina Aningsih. Blesss! Wow!, Aningsih bagaikan melayang ke langit ketujuh. Terasa benar bagaimana menggelosornya benda itu. Nikmat sekali. Tetapi Aningsih jadi agak kecewa ketika Benny menghentikan dorongannya. Batang kemaluannya yang kukuh bagaikan tonggak itu belum seluruhnya masuk. Aningsih jadi penasaran dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. "Masukkan semua, Ben! Sanwa! Jangan disisakan laghhiiiii! Masukkan, dorongghh . . . .!!" kaki Aningsih menjepit pinggang Benny. Dan tangannya, berusaha mendorong pantat Benny ke bawah. Benny mengerti, Aningsih sudah histeris. Sudah ingin menikmati seluruh batang kemaluannya tanpa sisa lagi. Tetapi bukannya mendorong, Benny malah mengangkat pantatnya. Dan kemaluannya menggelosor ke luar. Aningsih jadi penasaran. Diangkatnya pantatnya setinggi-tingginya. Bertepatan dengan itu, Benny mengayunkan pantatnya kuat-kuat. Dan . . . blashhh!! Tanpa ampun, seluruh batang kemaluannya yang kokoh, indah . . . dan perkasa itu menghunjam dan membenam sedalam-dalamnya ke liang kemaluan Aningsih. Aningsih menjerit sekuat-kuatnya. Tubuhnya meronta-ronta ke sana-ke mari, bagaikan sapi disembelih. Dan, "Crot! Crrrt! Crrrotttss . . . !!" semua cairan mani yang tersimpan di dalam kandungannya, menyemprot seketika. Banyak sekali. Membanjiri seluruh lobang gua Aningsih. Suatu kenikmatan luar biasa yang sebelumnya belum pernah dirasakan oleh Aningsih. Dan bersamaan dengan jeritan Aningsih, Benny pun mengeram kuat. sambil merangkul tubuh Aningsih kuat-kuat. Aningsih merasakan tubuhnya bagaikan remuk. Hmmmh!" Akh. Mbak! Hmmm! Akkkkhhhuuu keluarrr, sssh! Mbaaakkk . . . sssh, ennnnaakhh!!" Benny meracau sambil meronta-ronta. Matanya membeliak-beliak ke atas, sementara kepalanya terlontar ke sana-ke mari. Dan bersamaan dengan itu, Aningsih merasakan batang zakar Benny berdenyut-denyut keras dan memuntahkan lahar panas. Berkali-kali terasa semprotansemprotan itu. Maka lobang kemaluanku pun semakin membanjir.

Setelah beberapa detik lamanya merasakan dirinya terlontar ke angkasa, Benny merasakan dirinya lemas. Dan tergulirlah dari atas tubuh Aningsih. Keduanya merasakan kepuasan amat sangat. Aningsih memijit hidung Benny. "Luar biasa sekali," ujar Aningsih. "Kaulah satu-satunya lelaki yang berhasil memuaskanku, Ben! Sungguh!"

"Aku juga begitu, Mbak. Baru kaulah yang benar-benar memuaskan diriku!" balas Benny. Lalu keduanya berkecupan dengan mesranya.

Apa yang dikatakan Aningsih memang benar. Dia sudah berpengalaman dengan lelaki. Namun baru kali inilah mendapatkan kepuasan yang benar-benar aduhai.

Tidak hanya sekali saja mereka lakukan kemesraan itu. Namun berkali-kali. Dan berbagai pose pula. Model nungging, model berdiri. Model diganjal bantal. Semuanya memuaskan! Aningsih merasakan kebahagiaan amat sangat. Demikian pula halnya dengan Benny. "Aku semakin mencintaimu, Mbak!" bisiknya.

Aningsih menggeleng-gelengkan kepala. "Kau belum tahu siapa diriku sebenarnya, Ben!" ujarnya Aningsih.

"Siapapun dirimu, aku tetap mencintaimu, Mbak!" ujar Benny lagi.

"Aku tidak peduli. Cinta tidak memandang umur. Pokoknya aku mencintaimu, Mbak. Dan aku ingin memilikimu!"

Aningsih memijit hidung Benny dengan mesra. "Ih, dasar bandel!" ujar Aningsih. "Kalau saja kau tahu siapa diriku, pasti kau akan membenciku!"

"Tidak, Mbak. Sungguh! Dengarlah. Diriku sendiripun sudah pantas untuk menikah. Usiaku sudah dua puluh empat tahun. Aku sudah bekerja. Gajiku cukup untuk hidup kita berdua. Di samping itu, orang tua aku di kampung sudah sangat mengharapkan punya cucu dariku. Nah, apa lagi, Mbak?! Apalagi?!"

"Kau ini nggak sabaran sekali, Ben! Kita baru berkenalan, sudah mengajak kawin. Kau harus tahu, perkawinan itu bukan sekedar barang permainann. Harus benar-benar melalui pertimbangan yang masak. Kita harus berpikir, apakah kita sudah benar-benar cocok. Kau belum tahu sifat-sifatku dan akupun belum tahu sifat-sitatmu. Tunggulah sampat tiba saatnya kita sudah benar-benar siap untuk menikah!

Benny tidak menjawab. Hanya merenung.

"Deagarlah, Ben!" ujar Aningsih sainbil mempermainkan bulu-bulu dada Benny. "Dan pikirkanlah. Aku ini janda. Bercerai dua tahun yang lalu karena tidak ada kecocokan. Untung saja akn belumpunya anak. Nah, aku tidak ingin jika nanti aku harus menjadi janda untuk kedua kalinya. Aku harus berhati-hati!"

"Baiklah, Mbak. Aku . . . aku . . . akan memikirkannya! Akn . . . aku akaa bersabar menunggu," jawab Benay.

Jam satu lewat tengah malam, Benny meninggalkan rumah Aningsih. Sebenarnya berat sekali harus berpisah. Namun Benny ingat, besok dia harus ngantor. Sedangkan dia tidak membawa pakaian ganti. Sampai di rumah kostnya, Taate Dewi sendiri yang membukakan pintu. "Kau dari mana, Ben?! Kok sampai malam sekali pulangnya," kata Tante Dewi yang heran atas tingkah Beany. Tidak biasanya Benny pulang di malam selarut ini. Paling malam, jam sebelas. Benny termasuk kategori orang yang lebih suka tinggal di rumah daripada kluyuran.

"Ini, Tante. Teman ulang tahun!" ujar Benny seenaknya, sambil terus mendorong motornya ke belakang.

Tante Dewi menguncikan kembali pintu, kemudian mengikuti langkah-langkah Benny ke kamar. Baru saja Benny melepaskan sepatunya, Dewi telah memeluknya. Benny! Uf!" Tante kangen sekali padamu. Seminggu kita tidak berkencan. Sekarang, Oom sedang ke luar kota. Tadi pagi berangkat!" ujar Dewi sambil mulutnya menghujani bibir Benny bertubi-tubi.

"Uf! Saya letih sekali. Tante. Lain kali saja!" ujar Benny sambil berusaba menghindari ciuman-ciuman Dewi. Tetapi Dewi yang sudah naik spanning, tak mau peduli. Dewi mendorong tubuh Benny, sehingga lelaki itu tergelimpang ke alas tempat tidur. Dengan tergesa, Dewi cepat sekali mcmbukai hemd Benny. Sesaat kemudian, hemd itu telah melayang kc lantai. Menyusul celana panjang, dan celana dalamnya. Kemudian dengan tergesa pula, Dewi melepaskan dasternya sendiri.

Dewi, perempuan yang walaupun telah berusia di atas tiga puluh tahun itu, ternyata memiliki tubuh yang aduhai sempurna. Seperti gadis yang berusia dua puluh tahun saja. Masih sekal dan menggiurkan. Dan Benny yang bertemperamen panas, sekalipun sudah letih sekali, segera naik nafsu birahinya.

"Benny! Tante sudah sangat rindu. Sudah lama mennnggu kesempatan seperti ini. Jangan kecewakan Tante, Ben! Bennnnn!!" ujar Tante Dewi merengek-rengek, seraya menggosok-gosokkan buah dadanya yang sekal padat ke dada Benny yang bidang dan berbulu lebat. Sementara itu, tangan Tante Dewi meluncur ke bawah dan meremasremas milik Benny yang besarnya lebih besar dari pada pisang ambon. Dalam waktu tidak lama senjata Benny sudah benar-benar tegang. Tegak bagaikan tonggak. Besar dan panjangnya minta ampun. Tante Dewi yang sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya, melompat ke atas tubuh Benny, Kedua pahanya mengangkang di atas selangkangan Benny. Digenggamnya senjata yang aduhai itu. Dengan mesranya dibimhingnya menuju lobang vaginanya yang sudah menganga, siap menanti datangnya sang perkasa. Diletakkannya tepat di mulut gua. Kemudian Tante Dewi menekan pantatnya. Dan: "Ohg . . . !!" kepala kemaluan itu melesak masuk. Blesss! Tante Dewi nyengir-nyengir kuda, menahan rasa sakit dan linu. "Hnmmhh . . . ehg!" Bennypun nyengir, menahan nikmatnya kepala kemaluannya digigit dan dipijit-pijit oleh mulut vagina Tante Dewi yang berkerinyut-kerinyut kencang.

"Oukh, Bennn! Hmmhh . . . ssshhh . . . !!" Tante Dewi gemetar tubuhnya. Tetapi cuma sesaat. Tante Dewi yang sudah terbiasa menikmati kepunyaan Benny segera hilang rasa sakitnya. Dan Tante Dewi menekan lagi. Blassssh! ! !" Oukhhhh, Bennnnnn! Hmhhh . . . enak sekali , sayang hhhhh. Ssssh . . . !!" Mata Tanta Dewi membeliak-beliak. Batang zakar Benny telah amblas seluruhnya ke pangkal-pangkalnya. Tanta Dewi merasakan kenikmatan bukan alang kepalang. Demikian pula halnya Benny. Dinding-dinding vagina Tanta Dewi bagaikan hidup, menekan-nekan batang kemaluan Benny. Nikmaaaaat! Tanta Dewi menarik lagi pantatnya ke atas. Dan . . . uf! Seluruh isi bagian dalam lorong vagina Tanta Dewi bagaikan terbongkar bersamaan dengan menggelosornya zakar Benny. Demikian pula Benny. Lorong vagina Tanta Dewi bagaikan menyedot-nyedot. Benny mendesahdesah. Tante Dewi bagaikan kesetanan, menggoyang-goyangkan pantat dan pinggulnya yang besar, montok dan putih itu. Benny mengangkat pula pantanya, mengimbangi gerakan-gerakan Tante Dewi. Ternyata dengan posisi ini, cukup mendatangkan kenikmatan juga. Tantea Dewi di atas dan Benny di bawah. Sambil terus juga dengan bersemangat menaik turunkan pantatnya. Tanta Dewi menciumi bibir Benny bertubi-tubi. Benny membalas tak kalah semangat.

Lidahnya masuk dan mengait-ngait lidah serta gigi-gigi Tante Dewi yang bersih, putih dan bagus bentuknya. Sementara itu, tangan Benny pun tidak tinggal diam, meremas-remas payudara Tanta Dewi yang kenyal, padat dan besar. Tentu saja dengan remasan-remasan mesra! Tante Dewi semakin lama semakin kesetanan. Benny pun demikian pu1a. Keduanya merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak darl dalam diri mereka. Semakln lama desakan-desakan itu semakin kuat sehingga membuat napas mereka tersendat-sendat. Ibarat orang yang sedang mendaki bukit untuk mencapai puncak. "Ehb, Bennn . . . !!!"

"Hmnmh! Sssh . . . oukh, Tante! Cepat dikit, sayang! Ayoh, Tante!"

"Bennnn! Sash . . . eng! Ennaaaaaakhh, say . . . !!"

"Sssst! Hmmmh . . . !!"

"Bennnn! Akh! Akhhuu mau keluarrrr . . . say!"

"Sayyyaaa jugghaaa, Tan . . . ! Oukh! Ayoh, Tantea! Putar terus! Semangat, Tante! Semangat! Oukh . . . !!"

"Bennnnn !!!" Tante Dewi semakin kesetanan. Tangannya mengerumasi dada Benny, sehingga Benny kesakitan. Namun bercampur enak. Demikian pula dengan tangan Benny. Membantu pantat dan pinggul Tanta Dewi. Disaat menurunkan pantatnya, Benny membantu dengan menekankan pantat Tanta Dewi kuat-kuat ke bawah. Blasssh!! Maka tanpa ampun, amblaslah seluruh zakar Benny ke dalam kemaluan Tante Dewi. Masuk ke pangkalpangkalnya!

"Bennnnnnn!!" Tante Dewi meronta-ronta di atas tubuh Benny." Ennnaaakhh, Bennn! Akkhhuuu tak kuatttsss laggghhhi, say!! Akhhu kelluuuuarrr! Ssssh . . . akkkhhhh . . . !!" bersamaan dengan jeritan Tante Dewi, tubuh perempuan itu berkelojotan ke sana-ke mari. Kedua kakinya menyepak-nyepak. Tante Dewi mencapai puncak kenikmatan sempurna, yang tidak pernah diperolehnya dari suaminya yang setengah impotent. Benteng pertahanannya bobol! Bertubi-tubi bagian dalam lobang vaginanya menyemprotkan cairan kental, hangat dan licin.

Secara hampir bersamaan pula Benny pun mengeram keras. Bagaikan harimau lapar, Benny memeluk Tante Dewi kuat-kuat. Dan kemudian dengan sigap, Benny membalikkan tubuhnya, sehingga tubuh Tante Dewi yang berada di bawah. Benny menekan kuat sehingga Tante Dewi gelagapan. Batang zakar Benny berdenyut-denyut keras. Dan cairan kental, hangat dan licin pun bertubi-tubi pula menyembur, membanjiri lorong vagina Tante Dewi yang memang sudah banjir!

Tante Dewl tergelincir dari atas tubuh Benny. Terkulai lemas. "Bennnn! Oukh, aku puasss sekali!" bisik Tante Dewi sambil memeluk Benny dari samping.

Benny tak menjawab. Memandang langit-langit. Batang zakarnya masih tegak. Basah dan licin bekas-bekas cairan kenikmatan mereka berdua. Tante Dewi menciumi Benny bertubi-tubi. Tangannya meluncur ke bawah dan mulai mengurut-urut batang zakar Benny yang kehitaman. Rupanya Tante Dewi termasuk perempuan bertemperamen panas juga. Nafsunya menggebu-gebu. Merupakan pasangan setimpal dengan Benny. Diurut-urut terus oleh Tante Dewi mesra, nafsu Benny bangkit kembali. Napas Benny mulai lain. Tante Dewi senang sekali. Dia melompat dari sikap berbaringnya.

"Ayoh, Bennn! Timpah aku dari belakang!" ujarnya sambil mengambil posisi nungging. Pantatnya yang besar dan montok itu diacu-acukan ke depan. Melihat pemadangan yang sangat merangsang itu, Benny, tak kuat lagi menahan diri. Dia melompat ke belakang pantat Tante Dewi. Dengan bernafsu, Benny meremas-remas dan menggigiti bungkalan pantat Tante Dewi yang bundar dan putih. "Ayoh, Ben! Timpah aku! Hantam, Bennnn! Hantam! Jangan sungkan-sungkan! Lakukan saja sekehendakmu!"

Ditantang seperti itu, tentu saja Benny yang berdarah jantan dan panas, tidak akan mundur. lnilah yang membuat Tante Dewi senang; sekali. Benny benar-benar kuda. Berapa kalipun melakukan sanggama, dia tetap siap. Tidak seperti kebanyakan lelaki-lelaki lain, yang sudah loyo hanya baru sekali atau dua kali bertempur saja.

Benny mengambil posisi di belakang tubuh Tante Dewi yang nungging. Digenggamnya batang zakarnya yang sudah siap tempur. Diselipkan diantara belakang kedua paha Tante Dewi, dan kemudian menerobos bibir-bibir kemaluan Tante Dewi yang mencuat dan sudah terbelah. Dan, "Ehg . . . !!" Tante Dewi menahan napasnya. Kepalanya menyentak ke atas. Walaupun sudah terbiasa, mencicipi kepunyaan Benny, namun pada saat pertama kali kepala kemaluan yang bengkak itu menyelip, selalu Tante Dewi merasa kaget dan sedikit sakit!

"Ayoh, Ben! Aku sudah siap . . . !!" ujar Tante Dewi dengan tubuh sedikit bergetar, menahan berat tubuh Benny yang memeluk pinggangnya dari belakang. Tante Dewi lebih menunggingkan pantatnya, sehingga bukit kemaluannya yang sudah bengkak itu semakin mumbul. "Hantammm, Bennnnn!" ujar Tante Dewi yang seolaholah komandan memberikan aba-aba pada anak buahnya untuk bertempur.

Benny segera melakukan tugasnya. Mengayun pantatnya. Dan batang zakar yang segede alaihim itupun menggelosor masuk, menerobos belahan daging kemaluan Tante Dewi dari belakang. Tante Dewi meringis-ringis, merasakan nikmat yang tidak bertara. Seluruh urat-urat tubuhnya bagaikan mengembang. "Terus, terus Bennnn! Semuanya, sayangghhh . . . !! Jangan disisakan! Semuanya . . . oukhhhhh!!" Tante Dewi merintih-rintih dengan suara sengau.

Benny merasakan hangat menyengat dan pijitan-pijitan lembut dinding-dinding vagina Tante Dewi membuat nafsunya semakin bergelora. "Oukh, Tante! Enaakhhh banget, khoook?!" Benny menggumam dengan mata merem melek. Pada waktu senjata Benny menggelosor masuk, Tante Dewi mengangkat pantatnya tinggi-tinggi,
menyambut terobosan maut yang sangat mesra itu. "Ayoh, Bennnn! Hantammm terus! Yang keras, sayang! Kerassss, Bennnn! Kerasssshhhh . . . !!

"Tante Dewi menggoyang-goyangkan dan memutar-mutar pinggul dan pantatnya dengan mesra sekali. Pada waktu Benny menarik senjatanya, Benny agak sedikit menekan pantatnya, sehingga Benny merasakan batang zakarnya yang luar biasa itu bagaikan dipulir-pulir. Oukh, nikmatnya! Bukan main! Inilah yang membuat Benny terkesan oleh Tante Dewi!

Sebagaimana yang pertama, kali inipun keduanya sama-sama menyemprotkan cairan kenikmatan. Banyak sekali. Tante Dewi tersenyum-senyum bahagia. Oukh, Benny benar-benar hebat. Tante Dewi sudah beberapa kali menyeleweng dengan lelaki-lelaki lain, dikarenakan suaminya tidak dapat memberikan kepuasan. Namun diantara lelaki-lelaki itu, hanya Benny yang dapat memberikan kebahagiaan sempurna. Dan sejak Benny kost di rumahnya pada beberapa bulan yang lalu, Tante Dewi tidak pernah main dengan lelaki-lelaki lain.

"Bennnn! Jangan tidur dulu! Aku . . . aku . . . masih kepingin, sayang!" bisik Tante Dewi.

"Ih, Tante kayak kuda betina saja!" kata Benny sambil memijit hidung Tante Dewi.

"Dan kau kuda jantannya!" Tante Dewi tertawa kecil sambil menarik lengan Benny.

"Ayoh Ben! Kita bertempur sambil berdiri!"

Demikianlah, sampai pagi, mereka terus bertarung. Entah berapa kali, tak terhitung. Keduanya akhirnya samasama menggeros kelelahan setelah matahari terbit. Namun sama-sama puas. Hari itu, Benny tidak ngantor. Tenaganya terkuras habis!

Empat

Bilamana Benny membuka matanya, ternyata matahari telah naik tinggi. Sinar mataliari yang menerobos dari ventilasi, jatuh tepat ke wajah Benny. Terasa panas. Benny melompat! Bekker di kamarnya telah menunjukkan pukul sebelas. Oukh! Tadi sebelum tidur, tenaganya benar-benar habis. Namun sekarang, Benny kembali segar. Sesegar bunga yang baru mekar. Inilah kelebihan Benny yang sangat disenangi perempuanperempuan yang haus kasih sayang!

Pada saat sedang duduk di pinggiran tempat tidur, Benny mendengar suara cekikikan perempuan. Benny mengenali salah seorang diantaranya. Suara tawa Tante Dcwi. Tetapi siapa seorang lagi ! Benny bangkit dari duduknya dan ke luar dari kamar.
"Nah, dia sudah bangun . . . ! suara Tante Dewi. "Bennnnn! Kenalkan, nih! Teman Tante, Zus Mia!"

Benny mengulurkan tangannya menyalami Zus Mia. Wah, bukan main. Benny sampai terpana. Cantiknya selangit. Apalagi dengan rambut di potong pendek, model lelaki. Diam-diam Benny berkata dalam hatinya: Bagaimana sih rasanya perempuan seperti Zus Mia. Enak tentunya!

"Maaf, Zus ! Saya mandi dulu," ujar Benny.

"Silahkan," jawab Zus Mia.

Setelah Benny berlalu ke kamar mandi, Tante Dewi menjawil Zus Mia seraya katanya: "Kelihatannya Benny naksir kamu, Mia!"

"Kayaknya sih begitu!" balas Mia.

Benny mandi puas-puas. Tubuhnya terasa semakin segar lagi. Bila Benny memasuki kamarnya setelah selesai mandi, Benny terkejut sekali. Tante Dewi dan Zus Mia sudah terlentang di tempat tidurnya dalam keadaan merangsang, tanpa busana! Tetapi hanya sekejap Benny terkesiap. Segera dia melepaskan handuk yang membelit tubuhnya. Benny dalam keadaan telanjang bulat, menyergap Zus Mia yang terlentang di pinggiran tempat tidur. Zus Mia membalas. Agak malu-mau. "Ben!" ujar Tante Dewi. "Aku sering menceritakan tentang dirimu pada Zus Mia. Zus Mia terkesan. Dan ingin pula mencicipi kejantananmu yang perkasa itu!" kata Tante Dewi.

Benny mandi puas-puas. Tubuhnya terasa semakin segar lagi. Bila Benny memasuki kamarnya setelah selesai
mandi, Benny terkejut sekali. Tante Dewi dan Zus Mia sudah terlentang di tempat tidurnya dalam keadaan
merangsang, tanpa busana! Tetapi hanya sekejap Benny terkesiap. Segera dia melepaskan handuk yang membelit
tubuhnya. Benny dalam keadaan telanjang bulat, menyergap Zus Mia yang terlentang di pinggiran tempat tidur.
Zus Mia membalas. Agak malu-mau. "Ben!" ujar Tante Dewi. "Aku sering menceritakan tentang dirimu pada Zus
Mia. Zus Mia terkesan. Dan ingin pula mencicipi kejantananmu yang perkasa itu!" kata Tante Dewi.

"Betulkah itu, Zus!" tanya Benny.

Zus Mia mengejap-ngejapkan matanya. "Eh . . . tidak ! Eh, iyyaa! Tetapi nggak apa-apa, kan! Kamu bersedia, kan ! Memberikan kebahagian padaku!" ujar Zus Mia agak gagap.

"Tentu saja! Siapapun akan siap memberikan kebahagiaan pada Zus Mia yang cantiknya selangit begini!" kata Benny.

Zus Mia tertawa-tawa kecil ketika Benny mengecupi bibir dan seluruh wajahnya bertubi-tubi. Mendapat giliran pula lehernya yang jenjang merangsang. Lalu pentil-pentil susunya yang tegak merangsang. Uf! Ternyata menggeluti Zus Mia mempunyai keasyikan tersendiri. Buah dadanya lebih besar dan lebih padat pada millk Tante Dewi. Pentil susunyapun lebih besar dan merangsang! Demikian pula bukit kemaluannya. Lebih mumbul. Hanya saja, rambut kemaluannya tidak selebat milik tante Dewi dan Aningsih!

"Bennnnn! Ehg. Aukhhhh . . . !!!" Zus Mia menjerit sejadi-jadinya bilamana kepala zakar Benny yang bengkak dan besar itu menyeruak lobang vagina Zus Mia yang sangat kecil dan sempit. Zus Mia merasakan sakit amat sangat. Ini dimaklumi, karena Zus Mia belum pernah merasakan senjata yang besarnya seperti kemaluan kuda !

"Bennnnnn ! Ssssakkkittthhhsss . . . !!" kata Zus Mia berkelojotan.

"Tahankan, Mia. Tahankan!" ujar Tante Dewi sambil. memegangi keclua kaki Zus Mia. "Nantipun kau akan merasakan enak. Tahankan, sayang !"

Benar saja. Kalau tadi, Zus Mia merasakan sakit luar biasa, lama kelamaan rasa sakit itu hilang, berganti dengan rasa enak luar biasa. Sudah tentu Zus Mia senang sekali, Gerakan-gerakan memutar pantat dan pinggulnya sungguh romantis, seirama dengan ayunan-ayunan pantat Benny yang naik turun dan sesekali melakukan gerakan memutar yang aduhai. "Oukh., Bennnn! Ennnaakhhh, sayangghhhh . . . !" demikian ujar Zus Mia berulang-ulang.

Benny tersenyum sambil terus juga memnyerbu bukit kemaluan Mia yang indah menantang. Tante Dewi yang menyaksikan adegan itu jadi terangsang. Segera dia berdiri, mcngangkangi kepala Zus Mia. Ditariknya kepala Benny. Benny mengerti. Tante Dewi ingin agar Benny mengerjai kemaluan Tante Dewi dengan mulutnya. "Ayoh, Bennn! Ciumi punyaku ! Aku juga sudah tidak tahannhhhh . . . !" ujar Tante Dewi dengan suara sengau tak menentu.

Benny melakukan dua macam kesibukan. Sementara kemaluannya menerobos keluar masuk belahan daging Zus Mia, mulutnya dengan mesra menciumi bukit kemaluan Tante Dewi yang sudah mekar menantang.

"Bennnn ! Aukhhh! Terruusssh, Bennnn! lyyyyaaakhhh . . . ! "Zus Mia terus meracau.

"Addduuuuh, Bennnn ! Enaknyaaa! Terrusssh. sayangghhh! Kelentitnya, Bennnn ! Iyyyaaahhhh! Nah, itu, tuuuuuh! Uf! Hmmm, . . . nyem! Nyem! Gigit, Bennnn! Gighhhiuitttssss . . . !!" Tante Dewi juga meracau sambil menekan belakang kepala Benny, sehingga hidung dan mulut lelaki muda itu masuk seluruhnya ke belahan kemaluan Zus Mia yang mekar semekar-mekarnya.

"Besssss!"

"Sleessep!"

"Blessss!"
"Ahk . . . ih!"

"Oukh . . . !!"

"Hmhhh !!"

Berbagai suara, ditingkah dengan berkecipaknya zakar Benny yang timbul tenggelam, terdengar sangat merdu dan mesra. Mulut vagina yang sempit itu ikut monyong ketika Benny menarik senjatanya dan sampai kempot melesak ke dalam pada waktu Benny mengamblaskan zakarnya. Lama mereka bertarung mati-matian, sampai akhirnya Tante Dewi yang terlebih dulu kejang. Tante Dewi menekan belakang kepala Benny sekuat-kuatnya, sambil menjerit histeris.

"Bennnnn!AkhhhuUUu kelluarrr . . . !!! Sshhh . . . akkkkhhh . . . !!" dan Tante Dewi sambil setengah berdiri, meliuk-liuk seperti orang kesetanan ! Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Dengkulnya gemerar sekali. Punggunya setengah menekuk, bagaikan udang tangannya meremas-remas dan menjambak jambak rambut benny
sampai lelaki itu merasa sakit. Namun bercampur kenikmatan. Pada saat itu pula. Benny merasakan semburansemburan lahar panas dari dalam lorong vagina Tante Dewi. Banyak sekali. Kental dan licin. Benny bagaikan orang yang haus, dengan rakus meneguk semua cairan itu. Tanpa tersisa lagi. Terasa gurih dan harum!

Tante Dewi segera jatuh tergelimpang dengan lemasnya.

Namun penuh puas!

Benny masih bertarung dengan Zus Mia. Dua menit setelah jatunhnya Tante Dewi, Zus Mia menjerit-erit histeris. Tubuhnya berkelojotan, seperti ayam disembelih. Menggelepar-gelapar. "Oukh, Bennnnn! Akhhuuuu keluarrrhhhh!!! Ssshhh, Bennn! Akkhhh! Ennnnnaaakhhhh !!! dan Zus Mia tidak lagi mampu mempertahankan bentengnya. Bobol seketika. Lahar menyembur-nyembur. Mata Zus Mia terbeliak-beliak. Cuma kelihatan putihnya saja. Kuku-kukunya yang panjang-panjang itu, mencakar-cakar punggung Benny sampai berdarah!

Zus Mia segera lemas setelah mencapai puncak kenikmatan. Namun Benny sendri belum, Benny masih terus menaik turunkan pantatnya dengan bersemangat. "Oukh, Ben! Akkhhuuu lemassss Lettttiih Isti . . . rahattsss duluuu, Bennnnn! !!" Zus Mia merintih-rintih.

"Sebentar, Zus. Tanggung, nih! Mau enak, Zus! Tahankan!" ujar Benny tersendat-sendat.

"Ampun, Bennnn!Ampunnnnn! !!"

Tetapi mana mau Benny mempedulikan rintihan-rintihan Zus Mia. Malah Benny semakin ganas dan bersemangat menghujamkan batang kemaluannya. Zus Mia meronta-ronta. Benny menekan tubuh Zus Mia dengan tangannya. Dan zakarnya terus juga bekerja. Blassssh! Slesssepsss!Srrrt! Blassshhhh ! !!" Ampun, Bennnn ! Ampunnn !"

"Sebentar, Zus . . . !!"

Dari letih, lemas dan tidak bertenaga, akhirnya Zus Mia jadi bernafsu lagi, karena bukit kemaluannya terus menerus diserbu habis-habisan oleh zakar Benny yang perkasa. Dan Zus Mia pun mulai menggoyanggoyangkan pinggulnya, memutarmutar romantis. "Bennnnn, . !! Uukh, kau sungguh perkasa dan pintar. Aku jadi nafsu lagi. Enak lagi, Bennnnn!!" Zus Mia mengerumasi rambut Benny. Dan merekapun terus bertarung, mendaki bukit yang terjal.

Lima belas menit kemiudian, barulah keduanya mencapai orgasme secara bersamaan. "Zusssshhhh! Akkkhhuuuu kelluuuarrr, ssshhh . . . ! Akkkkhhhh !! Oukh !!" dan Benny menggeram hebat bagaikan harimau lapar bertemu lawan. Kedua lengannya yang kekar memeluk dan menekan tubuh Zus Mia sekuat-kuatnya, sehingga Zus Mia merasakan tubuhnya remuk seketika. "Oukh, Ben! Akhhhuuu jughhhaaa kelluarrr . . . sssh, akhhhhh !!" Banjirlah lorong vagina yang sempit itu, sehingga sebagian menetes-netes ke luar, membasahi sprei. Semprotan-semprotan bertubi-tuhi telah menyemburkan cairan yang luar biasa banyaknya, saling bercampur kental, hangat dan licin! Hmmmmmh, benar-benar sorga dunia!

Benny segera tergelincir dari tubuh Zus Mia. Tante Dewi yang sudah mendapatkan istirahat cukup setelah menyemprotkan cairan mani, naik spanning. Dia tidak memberikan kesempatan pada Benny untuk beristirahat. Ditariknya lelaki itu dari tempat tidur. "Ayoh, Bennn! Kerjai aku sambil berdiri. . . . !!" ujar Tante Dewi yang sudah-tersengal-sengal bernafsu!

Benny bukanlah Benny kalau dia tidak mampu melayani tantangan perempuan secantik Tante Dewi. Dasar mesin tokcer, sekalipun tanpa istirahat, Benny sanggup untuk bertarung lagi. Dalam keadaan berdiri, Benny menekan tubuh Tante Dewi ketembok. Sebelah paha Tante Dewi diangkatnya tinggitinggi, sehingga memperlihatkan belahan kemaluan yang sudah mekar semekar-mekarnya. Benny lalu mengunjamkan senjatanya ke belahan yang amat menawan itu. "Oukh, Bennn!! Ennnaaakhhhhh!!"

Pertarungan sengit sambil berdua itu dimenangkan oleh Benny. Tante Dewi lebih dulu mengeluarkan cairannya dan segera merosot jatuh lemas ke lantai. Benny penasaran, karena belum mencapai puncak kenikmatan. Senjatanya maslh tegangtegangnya. Benny melihat Zus Mia masih berbaring dengan kedua paha terkangkang selebar-lebarnya. Maka Benny segera menubruknya. Dan pergumulanpun terjadi. Semakin dahysat dari pada yang sudah-sudah!

Demikianlah berganti-ganti Benny mengerjai kedua perempuan cantik itu. Benny benar-benar kuda jantan yang patut diacungi jempol. Tante Dewi dan Zus Mia benar-benar merasa puas. Bahkan Zus Mia lebih gawat lagi, ingin memiliki Benny seutuhnya!

Namun secara jujur, Benny harus mengakui, bahwa diantara sekian banyak perempuan-perempuan yang pernah digaulinya, hanya dengan Aningsih Benny merasa puas. Benar-benar kepuasan sempurna. Tante Dewi enak. Zus Mia lebih enak dari pada Tante Dewi. Namun kepunyaan Aningsihlah yang terlebih enak! Maka Benny tidak dapat melupakan Aningsih!
Harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Betapa kecewanya Benny ketika mendatangi rumah Aningsih pada beberapa hari kemudian, ternyata Aningsih sudah pindah menempati rumah sendiri. Baru dibelinya ! Ujar teman sekamar Aningsih.

"Pindah ke mana, Zus!" tanya Benny penasaran.

"Maaf! Saya tidak dapat memberitahukan. Ini atas kemauan Aningsih sendiri!"

"Lho, mengapa begitu!" tanya Benny makin penasaran. "Saya sendiri tidak tahu," teman sekamar Aningsih mengangkat bahu.

Benny menghempaskan napasnya. Mengapa Aningsih bersikap aneh begitu ! Disaat rindu sedang menggebu-gebu, dia menghilang,. Padahal aku dan dia baru saja berkenalan, demikian kata hati Benny. Dengan lesu benny minta diri dan meninggalkan rumah Aningsih. Kemana dia ? Mengapa dia tidak mau memberitahukan tempat tinggalnya yang baru! Apakah dia membenciku ! Apakah aku telah melakukan kesalahan fatal sehingga dia tidak mau memaafkanku! Benny mengerumas rambutnya setelah tiba di tempat kostnya. Aningsih! Mengapa kau begitu cepat menghilang, padahal aku benar-benar sangat merindukanmu! Hanya kaulah yang mampu memberikan kepuasan yang sempurna padaku. Tidak perempuan-perempuan lain! Dan untuk kesekian kalinya, Benny meremasi lagi rambutnya dengan resah. Bertepatan dengan itu, pintu terbuka. Masuklah Tanta Dewi. "Kau kelihatannya resah sekali, Ben!" bertanya Tanta Dewi.

"Saya sedang pusing, Tante . . . !!" ujar Benny malas-malasan.

Aningsih dengan sengaja seolah-olah menghindari Benny, pada hal perempuan itu mengakui, telah memperoleh kebahagiaan sempurna dari Benny. Mengapa bisa demikian ! Benarkah Aningsih membenci Benny! Benarkah Benny telah melakukan kesalahan fatal, sehingga Aningsih tidak dapat memaafkannya !

SELESAI