Selasa, 01 Desember 2015

HARI KELABU

”Dia suda siap. Tinggal memakai sepatu...”

Nita menarik nafas lagi. Diam sejenak dan kemudian, melemparkan pandangannya jauh ke sebelah utara.

”Suruh saja dia makan duluan. Aku mau tidur lagi. Aku ngantuk. Katakan padanya ! laki-laki apaan tuuh !” celoteh nita dengan nada kesal, seperti menahan sesuatu. Bi Murni yang melihat sikap sang nyonya yang demikian hanya dapat mengangguk tanpa menjawab. Tetapi hati tak luput tersentuh. Ia menjadi bingung. ” Padahal semalam aku dengar tidak ada pertengkaran?!” bisik hatinya bertanya. ” Aku jadi bingung ? rumah  besar dan mewah. Mobil ada dua buah isi rumah ini penuh dengan barang-barang berharga      tetapi,  masiiih saja ada pertikaian.?

Akh...mungkin soal cemburu     atau      tau deh, akh  kalau enggak  soal itu! Iya benar pasti soal itu, namanya pengantin baru ” sambung hati bi Murni sambil menggaruk garuk kepala yang tak gatal.

”Tuan ” tegur bi Murni setelah dia berada dimuka pintu kamar. Disitu ia melihat sang tuan tengah duduk melamun dimuka kaca toilet. ”Kata nyonya, tuan disuruh makan duluan. Nyonya masih mengantuk, dia mau tidur lagi katanya ” ulang bi Murni dengan suara pelan dan merungkuk menghormati sang tuan.  Bahri yang sejak tadi duduk tersenyum memikirkan dirinya perlahan lahan menoleh dan memandang wajah orang tua itu.

”Duluan ?” ketusnya layu tak bersemangat.
”Iya ” bi Murni menganggukkan kepala.  Bahri menghela nafas panjang kembali. Ia merasa, pembantu itu agak kikuk menghadapi kejadiannya pagi itu, sehingga timbul rasa hiba.

”Baiklah bi, kerjakanlah pekerjaan lain! nanti biar saya makan sendirian!” kata  Bahri seakan akan menyuruh bi Murni untuk tidak ikut memikirkan kejadian rumah tangganya.

”Breeengsseeek!!” bentak  Bahri dalam hati, seraya memukul pelan tepian meja toilet, setelah bi Murni berlalu menuju ke ruang belakang. ”Penyakit setan ini tiba-tiba menyerang? Aku jadi bingung? Mendadak layu tidak karuan. Akhhh?”  Bahri mengangkat kepalanya menatap langit langit kamar, ”Padahal aku ingat, aku dulu adalah termasuk orang yang paling kuat dan gemar main main dengan para pelacur. Aku ingat benar itu. Aku bisa main sampai empat kali dalam satu malam. Pelirku kencang dan tak pernah kendur, aneeh ?”  Bahri menggaruk garuk kepala dan kemudian menghela nafas dalam-dalam. ”Aneeh    ” ia tersenyum lagi, ” Begitu kawin dan dalam . berpikir bagaimana perasaan  Bahri disaat itu. Maka perlahan-lahan ia palingkan mukanya, memandang kepada  Bahri.

”Berangkatlah     hari sudah muali siang. Nanti kamu terlambat lagi ”  Bahri tetap diam tak menjawab apa-apa. Kepalana tetap tertunduk memandang lantai. Perasaan Nita kian bertambah hiba. Ia tidak sampai hati melihat  Bahri bermenung seperti itu. Maka ia berusaha membuka mulutnya lagi.

”Carilah obat yang mujarab! Mudah-mudahan, bisa sembuh, aku hanya turut mendo’akan ! Tapi,  kalau tidak juga bisa  apa sangsinya?”    Nita berusaha mengobati perasaan  Bahri. Seketika  Bahri mengangkat kepala dan memandang kearah Nita. Senyumnya terkias dan dihelanya nafas panjang panjang.

”Okee...!!” serunya tanpa ragu-ragu. Kemudian ia bangkit, melangkah dan menjawil pipi kiri Nita. ”Kalau tidak berhasil, mama boleh berbuat semau mama! Papa ikhlas demi mama seorang...!

Nita hening. Dia tidak menjawab apa-apa. Dia memang sudah mengantuk. Ia kecapaian, sampai jam pagi tadi, ia berusaha menggerak gerakkan burung suaminya, agar dapat berdiri tegak, tetapi layu tak berdaya.    disamping Nita juga sudah berusaha mengisap isapnya sampai mulut Nita terasa kembung dibuatnya. Tetapi kenyataannya tetap saja nihil. Tetap seperti pada masa malam malam pertama tempo hari. Pelir itu lumpuh tak
bisa bekerja.

Bagaimana Nita tidak harus melakukan Demonstrasi kepada  Bahri. Ia merasa seorang wanita yang sehat. Yang sudah saatnya untuk menikmati arti KAWIN.?!    Yang harus mendapatkan kenikmatan dari seorang suami, seperti apa yang dikatakan orang-orang banyak.

”Baiklah, ma ” kata  Bahri memecahkan keheningan keduanya beberapa saat. Setelah sarapan nanti aku langsung berangkat kerja. Istirahatlah! Aku mengerti mama lelah
sekali    !”

 Bahri mengusap kening Nita dengan penuh kasih sayang. Lalu ia membalikkan tubuh berlalu menuju keluar kamar. Langkah itu gontai seperti dibawa sejuta penderitaan. Sebuah beban penderitaan yang jarang ditemui insan sejenisnya.





















= 2 =

Jam dinding di kamar berdering kencang satu kali. Nita yang asyik ngorok didalam nyenyak tidur, tersentak seketika. Ia bangkit dan duduk bersila di atas ras ranjang sambil mengusap usap pahanya. ”Sudah siang...” katanya dalam hati seraya melihat kepada pintu yang tampak masih tertutup rapat.

Nita melamun sejenak. Pikirannya kisruh tak menentu. Penasarannya tak henti-henti menghatui jalan pemikirannya. Penasaran agar ia dapa menggunakan kewanitaannya    sebagai seorang wanita normal.

Tengah asyik asyiknya ia melamun, tiba-tiba pemikirannya tertuju kepada suatu peristiwa. Ia dengan kawanya secara sembunyi-sembunyi pernah nonton Blue film di rumah Atik. Sebuah cerita film, yang mengisahkan sepnya hati seorang istri yang tidak pernah mendapat perlawanan dari suaminya.    ”Iya ” pikir Nita dalam hati ”Tak berbeda dengan yang aku alami ?!”

Nita mengangguk angguk. ”Satu-satunya jalan onani... gluuk” pikirannya seraya menelan air liur menahan nafsu. Mata Nita liar menyapu seluruh ruang kamar. Ia mencari sesuatu untuk dapat dimainkan pada lubang kemaluannya yang mulai terasa gatal. Tetapi tak ada satupun yang dapat
dijadikannya sasaran.

Sesaat kemudian ia langsung bangkit dan turun dari ranjang. Jantungnya berdebar-debar dan melangkah mendekati pintu. Setelah berada dimuka pintu, perlahan lahan mengunci pintu itu dari dalam. ”Amaan!” ketusnya dalam hati. Sesaat ia membalikan tubuh mendekati meja toilet. Dimuka kaca itu ia berpikir pikir sejenak ”Aku butuh! Tidak ada jalan lain, terkecuali melakukannya !” Nita memutuskan.

Perlahan-lahan ia menanggalkan gaun tidurnya. Setelah tanggal, ia tegak memandang tubuhnya yang sudah polos dari kaca. Memang demikian adanya. Sejenak ia kawinkan dengan  Bahri, ia jarang mengenakan beha ataupun celana dalam. Nita sangat menanti nanti kalau pelir  Bahri suatu ketika berfungsi. Tetapi kenyataannya sampai kini tetap nihil.

Perlahan lahan telunjuk tangan kanannya, ia ulas ulas pada puting susunya yang sebelah kiri. sedangkan telapak tangan kirinya ia usapkan pada bagian permukaan vaginanya. Matanya terpejam. Ia menghayal seperti apa yang penah ditontonya pada kaca televisi di rumah Atik.

Nita mendesis-desiskan bibir ”Eeesst eeessst !” matanya terpejam pejam menahan rasa birahi yang baru akan muncul itu. Itu ia lakukan beberapa saat, tetapi ia masih merasa belum puas. Maka ia berusaha memasukkan jari telunjuknya kebibir memekannya. Pada saat telunjuk itu masuk terasa olehnya cairan licin keluar dari liang vaginyanya. ”Aaakhhh    ” desahnya menahan nikmat.

Jari yang sudah masuk itu, ia tarik dan ia benamkan beberapa kali, sehingga lubang yang tadinya terasa kecil mulai dirasakannya melebar. Kemudian ia berusaha memasukkan dua buah jari. Dua buah jari itu ia tekan dalam dalam dan kemudian ia tarik.    Itu ia lakukan berkali kali, tetapi puncak kenikmatan belum juga ia rasakan. Lalu, ia berusaha memasukkan tiga buah jarinya.

”Akh     agak sulit...” pikirnya dalam hati. Tetapi Nita tetap berusaha ia ingin puas, sekali kepuasan itu datangnya tanpa dari  Bahri.

Ketiga jari itu ia paksakan secara pelan-pelan. Masuk sedikit lalu ditariknya kembali. Lalu ditekannya lagi sambil mengangkangkan lebar lebar kedua belah pahanya. ”Akhhh    ” desisnya lirih setelah separuh ketiga jari itu mulai menyelusup kedalam vaginanya. Nita masih belum juga puas. Klimaks kenikmatan belum juga ditemuinya. Ia berusaha melebarkan kedua belah pahanya lebih luas, berharap agar ketiga jari itu masuk kedalam vaginanya. Tetapi belum lagi ketiga jari itu masuk keliang vaginanya seluruhnya, tiba tiba ia mengerayang lirih.

”Aaaaaakkhhh Nita tiba tiba tubuhnya lemas tak berdaya, keringatnya mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya. Nafasnya terengah engah seperti orang habis berlari jauh. Ketiga jarinya yang masih terhujam dilubang memeknya, pelan pelan ia keluarkan.

Ketiga jari itu basah oleh air peju Nita yang telah mencapai puncak orgas musnya.

Dengan tubuh polos, sesaat ia melangkah mendekati tepian ranjang. per lahan lahan ia melepaskan tubuhnya yang terasa lemas jatuh diatas tepian ranjang itu... ”Pantas semua orang pada gila dengan soalsoal ini  eeh  nikmaat enak...” pikir hati Nita, tetapi kemudian ia tampak lesu, ” sayang  Bahri tidak bisa berbuat seperti laki-laki lain. Pelirnya ditimpa penyakit Flu?!”

Tengah asyik asyik Nita merenung, setelah membuat kenikmatan secara sendiri, tiba tiba pintu terdengar diketuk orang dari luar. Tok... tok...tok... !

”Nyaa    ” suara bi Murni memanggil dari luar ” Hari sudah siang nya     makan siang dulu, nanti sambung tidur lagi     !”

”Iya, bi Sebentar ” sambut Nita dari dalam dan sekaligus bangkit membenahkan tubuhnya yang masih telanjang bulat. Setelah selesai membenahi tubuhnya, rambutnya ia sisir rapi, sehingga tidak ada tempat kecurigaan di mata pembantu itu.

Anak kunci diputar Nita, lalu ia tekan gagangnya. Begitu pintu terbuka, bi Murni tegak setia menunggunya. Nita menyunggingkan senyum kepada pembantunya.

”Ya     nanti saya     !” kata Nita pelan, bi Murni tersenyum melihat sikap sang nyonya yang sangat berbeda dengan sikapnya pagi tadi.

”Sekarang kerjakanlah pekerjaan lain, nanti saya makan sendiri dan sekaligus saya yang membenahi piring piring kotor yang saya pakai .. kerjakanlah  !” perintah Nita. Bi Murni mengangguk ”Baik, nya” ujarnya seraya membalikkan tubuh menuju ke dapur.

Hari kira kira pukul sembilan malam. Suasana di rumah  Bahri yang besar hening. Tak ada suara orang yang berbincang bincang. bi Murni yang selalu sibuk di rumah itu sudah tertidur lelap dikamarnya.    Nita berbaring baring di atas sofa ruang tengah. Ia asyik memutar lagu lagu Blues pada Tipe recorder yang ia letakan di sisinya. Ia benar benar tampak rilek dan tak seperti biasanya. Hampir setiap waktu seperti itu resleting celana  Bahri di usiknya. Tetapi hari ini ia benar-benar acuh. Sehingga kelakuannya itu mengundang perhatian  Bahri.

”Aneh ?! pikir  Bahri berkerut kening,” Biasanya begini hari ia sudah memain mainkan kontolku? Tapi hari ini benar benar acuh. Apakah ia dinasehati orang atau menyadari kesemuanya ini ?!”

 Bahri manggut manggut memperhatikan ulah istrinya yang santai di atas sofa itu. ”mudah mudahan ia dapat memaklumi penyakitku ini ” pikirnya lagi dan merasa lega didalam hati, karena melihat sikap yang santai dan acuh tak acuh itu,  Bahri pelan pelan menegurnya.

”Maa    ”

Nita kaget dan seketika menoleh kepadanya. ” Ada apa ?” dengan acuh tak acuh. Tetapi  Bahri memberikan senyum kepadanya. Nita juga membalas. Tetapi senyum hampa yang tak memberikan apa apa.

”Papa kasihan. Setiap malam mama kurang tidur, berharap agar kita bisa bersentuh secara normal. Tetapi ” keluh  Bahri” kontolku ini tidak pernah tegak sehingga mama menjadi merana dan kecewa karenanya. Maafkanlah papa, ma !” Nita tidak menjawab apa apa. Bahkan ia memejamkan matanya. Ia sudah seperti tak menghiraukan apa yang tadi diutarakan suaminya.

”Papa harap, mama mau menunggu kesembuhan ini ” suara  Bahri memelas. Nita menghela nafas panjang.

”Iya Tidurlah. Hari sudah malam. Aku sudah mengantuk. Aku sekarang menyadarinya, aku tidak akan memngusik usik pelirmu. Akan aku tunggu sampai sembuh!”

Kata kata yang terdengar kasar itu, membelah perasaan beku  Bahri.    Mencair dan membuatnya agak merasa lega. Perlahan lahan ia melangkah  mendekati Nita. Kemudian ia merebahkan tubuhnya disisi sang istrinya itu.

”Sebaiknya    papa tidur di kamar saja ” bantah Nita seraya menekan sikutnya kedada kiri  Bahri.    Hati     Bahri kecut seketika. Keningnya berkerut.

”Mama mengusir ?!”

”Tidak     !” Nita membalikkan tubuh dan memandang suaminya, ” Apa artinya kita tidur berdua, kalau tidak bisa main di atas ranjang ? Percuma kan?! Lebih baik kau tidur di kamar dan aku biarlah di sini. Aku tidak terganggu papa dan papapun tentunya dengan bebas dapat tidur dengan nyenyak ?!”

 Bahri kembali tersudut.    Dadanya terasa sesak. Kata kata Nita pedas dan terasa merobek hatinya. Namun demikian ia intropeksi diri.  Bahri menyadari semua itu adalah hatinya. Namun  demikian ian intropeksi diri.  Bahri menyadari semua itu adalah datangnya dari dirinya. Sehingga ia hanya dapat menghela nafas panjang dan menekan perasaan pada ketika itu.

”Yaah ” keluhnya seraya bangkit dan menelentangkan kedua belah telapak tangan, ” Kalau mama tidak mau ditemani apa boleh buat...” Nita tidak berkata apa apa, ia hening seribu bahasa. Bahkan setelah itu,    ia memeluk bantal yang kebetulan ada tergeletak disisinya. Melihat perilaku Nita yang demikian, akhirnya  Bahri dengan langkah langkah berat meninggalkan istrinya yang tampak beku itu,    menuju kedalam kamarnya.


























= 3 =

”Niiit    !!” tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki memanggilnya. Nita tengah asyik melihat lihat pakaian yang tergantung di toko dalam ruangan sebuah super market. Mendengar suara itu, mata Nita liar mencari. Sesaat daranya tersirap. Dilihatnya seorang lelaki tampan yang pernah dikenalnya menghampirinya. ”Kalau tidak salah Fahcdat ?” katanya dalam hati” Cuih gantengnya ?” desisnya pelan tanpa disadarinya.

”Sedang apa kamu di sini ...?” tanya lelaki itu setelah mendekati Nita. Nita menyunggingkan sebuah senyuman kepada lelaki . Ia tidak langsung menjawab. Dan lelaki itu membalas juga sehingga keduanya saling memberikan senyuman.

”Aku iseng   cuma melihat lihat pakaian. Kalau kalau ada yang senang disini  rupanya tidak ada yang cocok dengan seleraku. Dan kamu disini sedang apa ?” kata Nita berbalik bertanya. Lelaki itu tersenyum dan menghela nafas panjang.

”Kebetulan Nit!” ujarnya terpotong.

”Kebetulan apa ?” Nita kian penasaran.

”Aku mendapat kepercayaan menjadi pemimpin di super market ini...” lelaki itu merendah. Alangkah terkejutnya hati Nita, ”Pimpinan ?” pikirnya dalam hati.

”Kamu ini sedari dahulu senangnya bicara merendah diri melulu !” ketus Nita mencibir dan mencubit lengan lelaki itu.

”Loh, apa aku salah? Di percayakan dengan milik sendiri kan lain, Nit!”

”Yah    terserah kamu lah” potong kemudian, ” Sudah punya putra berapa sekarang?” sambungnya. Fachdat, lelaki yang bertubuh tegap, ganteng, berkulit hitam itu tersenyum dan menundukan kepala. Ia tampak menghela nafas panjang.

”Kamu sudah pernah dengar aku nikah enggak siih    ?”

”Tidak ! Entahlah, aku enggak tahu kok ” Nita menggeleng gelengkan kepala. Fachdat menyulut sebatang rokok. Sambil menghembuskan  asap itu jauh jauh kemuka ia berceloteh.

”Semenjak aku dikecewakan, aku tidak pernah mau membayangkan kawin ataupun pacaran. Aku ingin hidup sendiri, aku tidak mau diganggu lagi. Apa lagi tentang kawin dan punya anak  sungguh jauh semua itu di benakku, Nit!”

”Akh tidak mungkin!”    bantah Nita, ” Sebagai seorang lelaki normal, tentunya kamu pasti punya rasa cinta dan birahi     tidak mungkin kalau tidak kamu lakukan semua itu...!”

”Yaah,,  itu terserah kamu... kamu punya hak untuk menebak kok! Benar atau tidaknya adanya ditanganku !

Nita tersenyum, Fachdat pun tersenyum. Tanpa mereka rasakan sesuatu telah mulai meruak sesuatu perasaan. Perasaan masing masing merasa simpati.

”Oh, iay ” kata Fachdat kembali, ”ngomong-ngomong kamu ini sendirian...?”

”Iya! Aku sendirian. Pusing dirumah ada ada saja problem yang harus aku pikirkan ”

”Punya putra berapa sekarang...?”

”Belum punya. Baru saja tiga bulan kami melalui hari perkawinan kami!” Fachdar mengisap rokoknya. ”Enak ya jadi pengantin baru sejuta kenikmatan pasti diraihnya...” lalu ia menghembuskan    asap rokoknya jauh jauh kemuka.
Mendengar ucapan yang demikian hati Nita menjadi kecut. Jantungnya berdegup. Seolah mata hati lelaki yang ada dihadapannya itu dapat menerka peristiwa dirinya.    ”Dia seperti mengejek ?” bisiknya dalam hati.

”Enak apanya?” kening Nita mengernyit.

”Alaah, pura-pura. Aku cuma dengar kok, orang jadi pengantin baru itu paling menyenangkan. Saling mengisi kebutuhan lahir dan bathin tentunya!”

”Akhh    sudahlah jangan bicara soal itu, disini kan pasar      malu terdengar orang. Ngomong ngomong kamu sekarang tinggal dimana Fach ?” ujar Nita kemudian berbalik bertanya.

”Oh, iya!” Fachdat tergesah gesah merogoh saku bajunya, ”ini alamat rumahku ” dari saku bajunya ia mengeluarkan selembar kartu nama, ”Sempatkan doong kerumahku sekali sekali !”

”Pasti aku datang, tetapi tidak bisa aku pastikan waktunya !”

”Oke deh aku tunggu. Kebetulan aku harus segera masuk keruang kerjaku. Kita berpisah sampai disini dulu     marii ” ujar Fachdat seraya melambaikan tangan berlalu meninggalkan Nita yang masih tegak terpaku memegang kartu nama.

Semenjak pertemuannya siang itu dengan Fachdat, hati Nita mulai diombang ambingkan perasaan.    Hampir setiap malam ia terbayang lelaki ganteng yang bercambang, berkumis tipis dan berkaca mata hitam itu.

 Bahri mulai tersingkir dihatinya. Tetapi Nita tidak bisa berbuat sesuatu atas dirinya. Ia hanya seorang wanita istri seseorang yang resmi dan tak bisa berbuat banyak sehingga ia hanya bisa bertahan dengan  Bahri, bicara rumah, bicara makan bicara tetek bengek yang menjemukannya belaka.

”Kata orang banyak, biasanya pelir orang-orang bombay panjang dan besar? Apakah itu benar? Kalau begitu, punya Fahdat pasti panjang dan besar ?” pikir Nita pada suatu ketika. ”Wah    seandainya bisa main dengan dia, pasti aku bahagia! Pasti pilinya hitam dan berbulu lebat. Urat batangnya pasti besar-besar    aakh    aku ngelantur ”

Kemudian Nita cepat-cepat mengenyahkan pakaian itu, ia cepat cepat berolah raga semata mata untuk menghindari perasaan perasaan semacam itu.

Tepat pukul tiga malam. Nita terjaga dari tidurnya. Ia bangkit dan berlalu mendekati meja. Ia meneguk beberapa kali susu yang disediakan bi Murni dimeja itu. Kemudian ia kembali mendekati tempat tidurnya,    tetapi ia tidak langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, melainkan ia memandang  Bahri yang tertidur dengan pulasnya. ”Kasihan    ” bisik hatinya merasa terharu atas penderitaan yang dirasakan suaminya itu.

Sesaat kemudian, Nita merasa hendak buang air kecil. Dengan langkah langkah gontai, ia berlalu menuju kekamar mandi. Memang tidak sulit baginya, ia membuang air seninya itu dengan cara hanya menyingkap gaun tidurnya. Dan kemudian terdengar suit yang mendesis.

Tetapi apa yang dirasakan Nita pada ketika membasuh nonoknya. Lubang Vaginanya terasa menggelitik.    Birahinya tiba tiba muncul dan membuat ia salah tingkah. ”Akh  Aku ngaceng  lagi!” keluhnya sendirian.

Nafasnya turun naik. Jantungnya berdegup degup seperti memburu sesuatu. Tubuhnya bergetar menahan. Akhh! Desisnya lirih. Kemudian gaun tidurnya yang dikenakannya ia tanggalkan dan digantungkannya pada hampaian dinding. Per lahan lahan ia mendekati pintu kamar mandi itu, kemudian ia kunci dari dalam. ”Seandainya  Bahri atau bi Murni mengetuk, aku pura pura buang air besar ” bisik Nita didalam hati.

Setelah pintu terkunci,    Nita membalikan tubuh. Matanya liar mencari cari sesuatu yang dianggapnya bisa ia mainkan di lubang kelaminnya itu. Tetapi ia tidak menemui apa apa di kamar mandi itu. Hanya ada sebuah botol bekas limun yang kebetulan di taruh oleh bi Murni, dibagian pojok kamar mandi. Nita kurang tertarik.

Botol itu ia biarkan dengan pandangan dingin.

Jari telunjuknya mulai memuntir muntir kedua belah puting susunya. Darahnya berdesir kencang. Dadanya berdebar debar,    birahinya meronta seketika. Perlahan lahan ia merasakan dua buah jarinya, membuka kedua belah bibir memeknya.    Nonoknya mulai membasah oleh cairan air mani. Dua buah jari yang sudah menembus    masuk itu ia mainkan didalam. Jantungnya semakin berdegup kencang, rasa nikmat betul betul merusak nafsu birahi.

”Aaaaakkhhh eeeessst  aaakkhhhh eeessttt    ” desis mulutnya tak henti henti mengikuti ulasan kedua buah jarinya yang berada di lubang vaginanya.

Dengan hanya dua buah jari, sulit untuk ditemuinya. Maka kemudian ia memasukkan tiga buah jarinya. Ketiga buah jari itu ia tekan tekan dan masuk separuhnya. Berkali kali ia tarik, keluar kedalam semakin lama ketiga jari itu masuk dengan bebas dan mudah karena diberi pelumas cairan air mani. Nita menggeliat geliat menahan nikmat. Ia hanyut terlena dibawa nafsu birahi di pagi buta itu.

Lama ia memainkan alat kelaminnya dikamar mandi. Tetapi belum juga menemukan puncak orgasmusnya.    Tetap tenang dan santai, bahkan pada ketika itu ia mempunyai perasaan,    untuk tidak terlalu cepat mencapai organsmusnya. Sekalipun ia tahu pada ketika sudah mulai subuh.

Nita masih menggeliat geliat seperti orang gila di kamar mandi yang terkunci rapat. Ia tidak memperdulikan apa yang terjadi di luar kamar mandi itu. Yang ada hanyalah nyanyian syurga yang dibisikkan iblis ke telinga birahinya.

Puncak klimaknya belum juga dirasakan Nita. Tengah pada itu tiba tiba matanya tertumpu pada botol limun, yang sebelumnya tak tergubris dihatinya. Ia membelalakkan mata seketika, ”Rasanya ini lebih nikmat” pikirnya dan langsung mendekati botol itu. ”Ya    inilah ukuran konol Fachdat ya  pasti sebegini besarnya    ” katanya dalam hati seraya memperhatikan benda itu.

Sesaat ia memejamkan mata. Kedua belah pahanya ia kangkangkan lebar, sehingga bibir  nonoknya terkuak lebar. Pelan pelan moncong botol itu ia masukan kedalam vaginanya dari bawah. Lalu ia angkat ke atas sehingga posisi botol berdiri dan kian masuk keliang vaginanya. Desahnyaterdengar lirih dan membangkitkan birahi. Tubuhnya mulai mengalir air keringat. Degup jantungnya terasa semakin keras. Namun semua itu tidak ia hiraukan. Yang ada padanya ketika itu hanya, puas dan merasakan kenikmatan dunia.

Keringat di tubuhnya terus mmengalir. Nafasnya tersengal sengal. Tubuhnya menggeliat geliat dan kejang kejang menahan erotisnya botol yang ia benamkan dan ditariknya keluar masuk vagina.

”Aaaakhh eessst aakhh...eessst...”

Benda kaca masuk mulai lebih dalam. Sudah mencapai badan botol yang lebih besar, sehingga Nita harus lambat lambat menekannya. Ditekan dan pelan pelan ditarik, sehingga itilnya yang bersemu semu merah itu turut keluar masuk mengikuti hentakan keluar masuknya botol.
Ditekannya lagi lebih dalam dan tubuhnya kembali menggeliat. Ditariknya dan desisnya terdengar membangkitkan rasa birahi bagi siapa yang mendengarnya. Berkali kali ia lakukan itu hingga mencapai beberapa menit, tetapi klimaksnya belum juga ia rasakan.

Tarik tekan    tarik tekan    keluar masuk keluar masuk itu ia lakukan berkali kali, yang semula ia lakukan perlahan lahan, kemudian cepat dan kemudian lebih cepat. Hingga tak terasa botol telah lulus dengan mudah tiga per empat bagian.

”Fachdat ooh Fachdat enak eenaak ” desisnya lirih dan bergetar.

Kangkangan kedua belah pahanya semakin ia perlebar sehingga bibir nonoknya yang kian melebar itu, ikut berkeriput mengikuti keluar masuknya botol limun yang cukup besar itu.

Kedua belah tangannya ia hamparkan memegang pangkal botol, kakinya ia kangkangkan agar ia merasa mudah menekan dan menariknya. Botol yang keluar masuk kedalam vaginanya itu kini sudah mudah berlalu lalang. Karena selain lamanya waktu yang ia mainkan dan di samping itu cairan air mani tak henti henti mengalir membasahi seluruh liang vaginanya.

Nita belum juga mencapai klimaksnya. Nafasnya terdengar semakin tersengal sengal dan di balik itu jantungnya tak henti henti berdegup.

Tubuhnya basah oleh keringat. Matanya mendelik delik dan disertai desis dan rintihan napsu birahi yang belum juga mencapai puncaknya.

Botol di tekan dan di tariknya mulai agak lebih cepat. Makin lama semakin di percepat. Dan kemudian lebih cepat karena orgasmus ia rasakan hampir mencapai titik klimaksnya. Dan tak lama kemudian ”Aaaaaaaaaaaakkhhhhhh”

Nita terhenyak jatuh di lantai kamar mandi. Seluruh urat syaraf yang ada ditubuhnya terasa mengecang dan kemudian mengendur secara mengejutkan.

”Eeehhhkkhh ”desisnya lunglai seraya menyandarkan tubuh kedinding kamar mandi.

Sesaat ia biatkan tubuhnya yang lunglai tak bertenaga itu. Lalu perlahan lahan ia menyeka mukanya    dengan gaun yang tergantung di gantungan, sedangkan botol masih terjepit di lubang memeknya.

”Fachdat... punya    kamu enak juga ” ketusnya dalam hati. ”Kapan bisa kita lakukan dengan yang sebenarnya,” celotehnya pelan kemudian. Nita sudah gila! gila akan keranjingan nafsu setan, sehingga ulah dan tingkah lakunya sudah ta tak disadarinya lagi.

Perlahan lahan botol yang masih tertancap itu ia cabut keluar. Dilihatnya botol itu kian menjadi berkilat, berkilat karena cairan air mani dan peju yang menempel di seluruh batang botol limun itu. Kemudian ia mengangkangkan pahanya, ia melihat nonoknya    lebar.    ”Eseeet sampai merah    tapi nikmatnya bukan main    ” pikirnya ketika itu, kemudian pelan pelan ia mencoba memasukkan kelima buah jarinya ke dalam lubang memek yang sudah lebar itu ”Eeekhh    masuk...ya  cukup ”

Tengah asyik asyiknya ia gila sendirian dikamar mandi itu, tiba tiba terdengar suara gesekan sandal yang membentur ubin. ”Bi Murni sudah bangun ?” pikirnya kaget. Seketika saja ia bangkit dan    cepat cepat membenahi botol dan diletakkannya pada tempat semula. Karena terdengar bunyi suara kasak kusuk yang kebetulan bi Murni yang sebenarnya berada di luar kamar mandi segera saja ia mengetuk pintu. ”Tok...tok...tok” ketuknya tiga kali,” Tuan apa nyonya didalam...” kata bi Murni kemudian.

”Untung sudah selesai      kalau tidak tentunya akh bisa dibayangkan sepaningnya aku nanti ” bisik hatinya merasa lega.

”Saya bi! Lagi buang air ” kata Nita agak kencang menjawab pertanyaan sang pembantu.

Setelah mendengar jawaban itu, bi Murni tidak lagi bertanya, ia langsung saja mengerjakan pekerjaan lain.

Kini Nita sudah puas. Ia sudah merapikan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi. Ia kosentrasi sejenak, menghilangkan kekakuan kekakuan yang ada padanya agar tidak mengundang perhatian bi Murni atau pun  Bahri. Lalu dengan tubuh yang masih terasa agak lemas ia kembali kedalam kamar. Begitu ia tiba di muka pintu, dilihatnya  Bahri sudah membuka matanya.

”Kamu buang air lama betul...” tegur Bahri.

”Aku berak mejen pa, buang airku keras tampaknya aku terganggu buang air besar    ” sahut Nita tenang” Mungkin aku nanti petang kerumah sakit. Aku akan memeriksa penyakitku ini...!”

”Iya. Mama harus cepat memeriksanya. Mama jangan sampai sakit! Aku tidak mau kalau mama sampai sakit    ” ujar Bahri dengan nada menyanjung istrinya. Nita menghela nafas panjang,” Apanya yang sakit.? yang sakit cuma nonoku yang enggak pernah sodok sama kontolmu kok ” pikir Nita menahan geli didalam hati.

Sesaat Nita menghempaskan tubuhnya disisi Bahri. Bahri Menyambutnya dengan tangan kiri tertelentang. Sehingga kepala Nita adanya di lengan kiri Bahri. Pelan pelan Bahri membelai rambut Nita dengan penuh kasih sayang. Nita hanya diam, Air matanya tak terasa telah mengembang di pelupuk matanya. Hatinya tersentuh dengan sikap Bahri yang demikian. Sekalipun kata kata kasar dan menyakitkan hati, bahri tak pernah merah apa lagi membentak. Itu semua karena Bahri sendiri menyadari akan kekurangan itu. Tepat pukul empat lewat lima menit, Nita baru selesai mandi. Bi Murni menghidangkan segelas air susu hangat untuk Nita di atas meja makan. Sesaat ia membalikan tubuh ia berpapasan dengan sang nyonyanya itu.

”Jadi nyonya ke rumah sakit sebentar lagi ...” tegur bi Murni, mengangguk tanpa jawaban dan kemudian berlalu ke dalam kamar. Bi Murni kembali menuju ke dapur dan meneruskan pekerjaannya, memeriksa pakaian yang tinggal beberapa helai lagi.

”Aku lama lama menjadi    penasaran. Benarkah Fachdat masih bujangan ? Tapi dia ganteng, tampaknya pelirnya sehat tidak seperti Bahri yang berpenyakitan. Tapi aku kasihan pada Bahri     dia sangat mencintai aku? Bagaimana sebaiknya?” kasak kusuk hati Nita bertanya tanya. Ia tegak berdandan dimuka kaca toilet. Ia mengenakan gincu merah muda. Kuku kuku jari tangannya ia gunakan kutek berwarna merah tua, rambutnya dilepaskan bergerai kebawah. Di menjelang petang itu ia mengenakan rok mini berwarna kelabu dan dihiasi atasan berwarna kuning orange. Hatinya terasa berdebar debar ketika itu. Berdebar debar yang berhasrat ingin menjumpai Fachdat dirumahnya. Dan berdebar debar apakah niatnya itu niat yang tidak baik? Dan apakah ia bukan seorang penyeleweng, penipu atau berpikiran picik?

”Tidak!” bantahnya dalam hati.” Keharusan yang mutlak harus di temuinya, ia merasa harus bisa merasakan kenikmatan yang sesungguhnya dari seorang lelaki. Begitulah tekad Nita mengambil keputusan.

”Biii ” kata Nita pada saat selesai dandan dan berdiri dimuka pintu kamar. Bi Murni yang baru selesai mestriska bergegas menghampiri.

”Ada apa, Nya ?”

”Aku mau kerumah sakit ! jaga rumah baik, kalau aku terlambat pulang mungkin aku nanti kerumah temanku, katakan saja ke rumah Atik pada tuan”

”Iya, iya, nya. Baik ” bi Murni menganggukangguk. Nita melangkah menuju ke luar rumah. Sebentar kemudian terdengar suara stater mobil. Dari garansi rumah di sebelah kanan. Nita meninggalkan rumah dengan mobil Honda Accordnya.

Selama didalam perjalanan, pikirannya tak henti henti bertanya. Karena dibalik itu Nita masih mempunyai perasaan cemas, takut kalau kalau khayalannya hanya merupakan bertepuk sebelah tangan. Ia takut kalau kalau Fachdat sudah beristri atau sekurang kurangnya sudah memiliki pacar. Dan apakah mungkin semua ini bisa terjadi, seandainya Fachdat betul betul belum dimiliki siapa siapa.

”Bisa semua ini terjadi ? dan mungkinkah Fachdat akan memberikan kepuasan seperti apa yang ada yang da didalam khayalanku ?” begitulah tanya jawab di dalam hati Nita pada ketika itu.
Accord semakin dipercepat jalannya, sebentar sebentar membelok kekanan dan kekiri dan lurus. Mata Nita liar memperhatikan kendaraan kendaraan yang datang dari haluan muka. Sehingga dalam beberapa menit saja, Nita sudah dirumah Fachdat.

”Benar inilah nomor rumahnya ” celoteh Nita pelan seraya mencocokan nomor rumah den  gan nomor yang ada dikartu nama yang diberikan Fachdat, sesaat ia menekan klakson mobilnya ”Diiinnn !” Seorang lelaki tua setengah berlari menuju ke pintu halaman. Baru saja bapak tua itu hendak membukakan pintu halaman, Nita setengah berteriak ”Di sini rumah tuan Fachdat, pak .?!”

”Betuul. Betul !! Nonaaa ” sahut bapak tua itu dan langsung membukakan pintu yang tak terkunci itu. Pintu terbuka, Nita langsung memasukkan kendaraannya kedalam halaman rumah.

”Rumahnya tampaknya sepi sepi ” bisik Nita lagi.

Sesaat ia mematikan mesin mobilnya. Setelah mati, ia langsung keluar kendaraannya dan mendekati bapak tua yang kebetulan masih tegak menunggunya.

”Tuan Fachdat apa ada, pak...?” tanya Nita kemudian. Bapak tua itu lebih mendekat.

”Belum pulang, nona. Biasanya sebentar lagi dia pulang. Tunggu saja didalam. Paling paling beberapa menit lagi dia juga datang. Marii silahkan masuk!” bapak tua itu menelentangkan telapak tangan, menyilahkan agar Nita segera masuk ke dalam rumah.

Tiba didalam, Nita menjatuhkan pinggul di atas sofa ruang tamu, yang sebelumnya sudah dipersilahkan bapak tadi. Sejenak ia termangu mangu memperhatikan isi rumah yang serba srtistik dan menarik milik Fachdat. Karena tataan anggun dan apiknya barang barang yang disusun dirumah itu, terbesitlah hati Nita untuk bertanya pada bapak tua, yang barusan telah terlanjur masuk kedalam rumah.

”Sebaliknya aku tanya kepada bapak itu lebih” bisiknya dalam hati. Tengah asyiknya ia termenung, si bapak tua itu muncul sambil membawa segelas susu hangat. Orang tua itu tampak berhati hati tatkala ia meletakan hidangan kemuka meja Nita.

”Silahkan minum, nona ” katanya kemudian dan menyilahkan. ”Terima kasih, pak!” sahut Nita agak mengangkat bahunya dari sandaran sofa.  ”Eee...pak...” sambunganya pada ketika si Bapak tua itu hendak membalikan tubuh.

”Aa ada    aapa, non ? kata bapak tua itu membalikan tubuh.

”Istri tuan Fachdat mana? sedang tidur?”

Niata agak gugup, dan memperhatikan kepura puraannya. Seketika saja bapak itu terkekeh kekeh kecil.

”Mana dia punya istri, nona. Pacaran saja dia tidak mau nona. Tau deeh bapak juga heran kenapa tahu tahu dia jadi begini. Padahal ia sudah cukup umur!” Nita menghela nafas ”Kalau begitu benar” Fachdat jujur kepadaku    ” pikirnya dalam hati.

”Sampai detik ini dia benar belum beristri benar belum kawin...?” Nita lebih tandas dan serius menatap orang tua itu.

”Iya, non!, dia benar benar tidak mau kawin !!”

”Ooh...begitu ” Nita manggut manggut dan seperti berpikir pikir   

”Sambil menunggu nak Fachdat, silahkan nona minum hidangan ini    ” kata bapak itu kemudia seraya menelentangkan telapak tangan, ”Saya ingin mengisi air dulu mari    ”

”Silahkan    silahkan, paak!” Nita mengangguk angguk.

Sepuluh menit sudah Nita duduk menanti kedatangan Fachdat. Hatinya tak henti henti bertanya. Menduga duga dan berpikir dalam. Namun demikian, hatinya tak pernah surut untuk dapat apa yang dikhayalkannya kepada Fachdat. Ia bertekad untuk dapat memenuhi ransangan birahinya melalui kontol Fachdat. Kontol seorang lelaki Palembang yang berdarahkan Bombay itu.

Bagaimana Nita tidak mempunyai pikiran seperti itu. Bagaimana ia tidak akan tertarik. Dia lebih ganteng dari Bahri. Dia lebih gagah, memiliki kumis tipis dan bercambang di dagunya, apa lagi didadanya. Yang kesemuanya itu kian membuat Nita penasaran jadinya.

Tengah asyik asyiknya ia melamun, tiba tiba di luar terdengar suara deru sebuah mobil yang masuk kedalam pekarangan rumah itu. Nita langsung melemparkan pandangan kearah datangnya suara mobil itu. ”mungkin ini dia ”bisik Nita dalam hati dan seketika itu pula jantungnya terasa berdegup degup.

”Mudah mudahan kehadiranku ini tidak mendapat kekecewaan ”

”Hai rupanya kamu serius...”tegur Fachdat pada ketika ia tiba dimuka pintu dan melihat Nita sudah duduk santai di atas sofa-” Sudah lama ?” ulangnya seraya melangkah dan mendekati. Nita memberikan senyum, dibalik degup degup jantung yang tak henti henti.

”Serius doong! kira kira seperempat jam. Sendirian ?”
”Ya, sama siapa lagi? aku cuma sendiri kok..!” Fachdat menjatuhkan pinggul pada kursi yang berhadap hadapan dengan Nita- ”kamu sendirian...?

”Sama seperti kamu !”

”Ajak doong suami kamu. Kenalkan kek dengan aku...!”

Nita menghela nafas panjang. Muka langsung menciut. Melihat sikap Nita yang demikian hati Fachdat menjadi tertarik. Seketika ia mengernyitkan alis mata.

”Kok kamu muram, Nit...?” ujar bertanya dengan sikap keheranan.

”Akh tidak! Tidak tidak apa apa ” sahut Nita berusaha tertawa, menghilangkan kecurigaan yang dihadapi Fachdat” Dia tidak bisa ikut kesini karena kebetulan ia mendapat tugas selama tiga bulan ke Belanda    ” Nita berdusta.

”Aduuuh....kasihan betul, baru saja kawin tiba tiba ditinggal selama tiga bulan. Tentunya kamu kesepian doong...”celoteh Fachdat tanpa disadarinya,” Kalau begitu selama ia tidak ada aku yang gantiin deeh    ”

Jantung Nita serasa hendak terhenti seketika. Ucapan Fachdat mengangkat semangat kecewanya. Hampir saja Nita berteriak mengatakan Ia. Tetapi untung ia cepat intropeksi diri, ia cepat mengalihkan kosentrasinya. Ia hanya memberikan senyum senyum yang mengatakan ”Iya!”

Sesaat keduanya hening. Keduanya membungkam memandang kepermukaan meja. Satu sama lain saling menimbang nimbang.

”Aku akan berrterus terang padamu, Fach..” tiba tiba suara Nita pelan. Fachdat mengangkat muka dan dipandangnya wajah Nita yang tampak merah padam.” Aku butuh bantuan kamu...”

”Butuh bantuan...?” Fachdat mengernyitkan alis mata, dilihatnya tersentil juga. Ia mengerti. Ia faham. Ia dapat menerka apa yang tengah dihadapi Nita dikala itu.

”Iya !” suara Nita tandas. ”Aku memerlukan kamu...!”

”Soal apa? Uang...?” Fachdat pura pura.

”Bukan! Aku butuh kehangatan seorang lelaki....”

Seeerr....darah Fachdat langsung tersirat mengalir keseluruh tubuhnya. ia menghela nafas panjang dan memperhatikan wajah Nita yang tampak merah padam.

”Memang inilah yanng ku tunggu tunggu. Semenjak aku ketemu dengan Nita dulu sebenarnya aku juga sudah ngaceng. Tetapi, nit? Kamu belum tahu besarnya kemaluan aku ini ” bisik hati Fachdat

”Bisakah Fach...?” ulang Nita lembut tanpa malu malu. Fachdat tidak langsung menjawab, ia melemparkan pandangan menelusuri sekilas kedua belah dada nita yang tampak masih kecil dan pada bagian pahanya.

”Bagaimana nantinya perasaan suami kamu, seandainya ia tahu kamu telah berbuat serong ?”

”Itu urusanku. Dia pasti memaklumi semuanya ini.... sebenarnya suamiku mempunyai penyakit flu, fach...”

”Haah...” mata Fachdat mendadak melotot ”Jadi...jadi... selama ini kamu merana tidak pernah mendapat kepuasan dari dia ...?”

”Ya, begitulah! Maka itulah aku sengaja datang ke sini, aku harap kamu bisa menolong kegelisahan ku ini ...”

Fachdat manggut manggut. Ia tersenyum dalam hati. ”Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya, Nit! Aku sebenarnya adalah lelaki play boy, yang gemar akan sek dan memiliki senjata yang cukup besar, apakah kamu sanggup, Nit ?”

”Kita tidak bisa main diluar seperti ini, Nit, sebaiknya kita masuk kedalam kamar ayo ” ujarnya kemudian seraya menarik lengan Nita. Nita langsung tak sadar. Ia tidak ragu ragu dan langsung bangkit dari tempat duduknya.

”Bagaimana dengan bapak tadi, kalau ketahuan apa tidak apa apa...?” Fachdat tersenyum.

”Sebenarnya aku sudah bisa membawa wanita keruma ini. Beliau sudah biasa dan sudah mengerti dengan kehidupanku, jadi soal masuk kekamar dengan seorang wanita, bagi dia soal soal biasa ”

”Jadi....jadi...?!”    ketus Nita gagap dan langsung disela Fachdat. ”Aku ini sebenarnya lelaki pemuas nafsu, dari itulah, selain aku merasa kecewa karena disakiti dan juga ada kepuasan tersendiri dalam hidupku, sekalipun aku tidak pernah memiliki istri atau pacar.

Pada umumnya wanita wanita yang haus itu yang membayarku uang !”

Tiba didalam kamar, Fachdat langsung membuka baju, jantung Nita berdegup, dilihatnya bulu dada lelaki itu tebal dan langsung membangkitkan nafsu birahi.

Nita menceguk air liur, nafsu melihat tubuh yang tinggi besar dan berbulu didada itu. Lalu Nita mengalihkan pandangannya. Ia langsung memandang pada bagian selangkangan lelaki itu. Kembali ia meneguk air liurnya. Diselangkangan lelaki itu membenjol, menggunung seperti seekor kucing tidur dibalik reslitingnya.

”Ayo....mari....sudah siap...?!” tegur Fachdat tersenyum melihat dan memberikan kode untuk segera berlalu menuju ke atas dipan yang ada disampingnya.

Nita menarik nafas. Hatinya merasa lega. Kedatangannya itu tidaklah bertepuk sebelah tangan. Melainkan, mendapat sambutan dan sebenarnya inilah yang dikehendakinya.

Sesaat Nita melangkah mendekati dipan yang disuruh Fachdat tadi. Jantungnya semakin berdegup degup dan bergemetaran. Begitu tiba di tepian dipan, lalu pelan pelan ia menjatuhkan tubuhnya.

”Agak ketengah....” bisik Fachdat pelan. Nita mengikuti, ia membaringkan tubuhnya lebih ketengah ranjang. Pelan pelam Fachdat menjatuhkan tubuhnya pula diatas dipan menjejeri tubuh Nita yang sudah terbaring siap itu.

”Kau ingin puas...?” tanya Fachdat sesaatt. Nita tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Dibalik itu jantungnya tak henti henti berdebar, cemas, takut tetapi ia sangat membutuhkan.

”Buka ruesliting celanaku ini dulu cara ” Pelan pelan Nita bangkit dan menggeser tubuhnya, beringsut dan kemudian membuka ruesliting celana lelaki itu.    Terasa olehnya dibalik celana dalam lelaki itu sebuah benda
besar dan lembut.

”Untuk lebih puasnya kamu, sebaiknya kau tanggalkan dahulu seluruh celana yang melekat ditubuhku ini. Lalu, kamu tanggalkan pula seluruh pakaianmu. Nanti, kamu aku ajari supaya kamu mendapat kepuasan    !” perintah Fachdat pelan.

Dengan degup degup jantung yang tak henti henti, Nita mengikuti perintah Facdat. Pelan pelan ia menanggalkan celana panjang yang masihmelekat, lalu celana dalam Fachdat yang berwarna merah itu di perosotkannya kebawah. Dibukanya, sehingga batang pelir Fachdat yang hitam dan berurat urat besar itu tampak secara jelas oleh Nita. Batang kontol itu terkulai belum berdiri, mata Nita memblalak”Belum berdiri saja sudah sebesar ini, bagaimana kalau sampai tegak...?” pikirnya disertai nafas yang mulai memburu.

”Berapa panjang batang pelirmu ini, Fach...?” tanya Nita dengan gemuruh birahi yang mulai bangkit. ”Ukuran sedang, Nit, cuma dua puluh empat sentimeter.

Besarnya, bergaris tengah kira kira sepuluh sentimeter, itu sudah diukur oleh seorang produser film blue ” sahut Fachdat tenang acuh
tak acuh.

”Jadi kamu pernah menjadi tokoh di film film blue itu....?” Nita agak kaget dan berkerut kening memandang Fachdat yang masih santai.

”Ya, kalau tak salah sudah ke empa puluh tiga kali...!”

Nita menghela nafas panjang. ”Untung aku nekad akhirnya aku temukan apa yang tengah ku cari...”

Nita tidak langsung memainkan pelir Fachdat yang masih terkulai itu, melainkan ia mendekap dada Fachdat yang masih santai tidur tertelentang. Ia menggosok gosokan dadanya diatas dada lelaki yang    berbulu lebat itu. ”Akhhh ” desisnya perlahan. Fachdat hanya tersenyum melihat ulah Nita yang demikian. ”Tanggalkan dulu pakaian kamu....” ujar kemudian. Nita yang tampak sudah tak tahan, langsung bangkit bersimpuh melepaskan rokmininya. Setelah itu ia tanggalkan baju dan behanya, sehingga yang tinggal hanya celana dalam. Tetapi Fachdat tampaknya sudah tak sabar, seketika saja ia melorotkan celana Nita yang masih tertempel tampaknya sudah tak sabar, seketika saja ia melorotkan celana Nita yang masih tertempel di tubuhnya itu.

”Kamu tidak punya jembut....masih tipis sekali....” katanya seraya mengulas ulas permukaan kelamin Nita dengan telapak tangan. Karena ulasan tangan yang sudah terbiasa tak ayal membuat Nita terpejam dibuatnya. ”Akhhh....eeessst....”

Fachdat mengambil tangan Nita, lalu tangan itu di sorongkannya kebatang pelir yang masih terkulai dan terjulai sampai ke alas kasur. Karena sorongan itu, Nita membuka matanya. Dilihatnya pelir itu mulai bergerak.

Batang pelir itu mulai bergoyah, tetapi Nita masih bingung apa yang harus ia kerjakan ketika itu, ia masih kurang mengerti. Sedangkan air mani di liang nonoknya sudah terasa mulai membasahi.

”Isaap....”perintah Fachdat pelan. Diantara nafas yang sudah memburu, pelan pelan Nita menjatuhkan kepalanya di ujung kontol bombay yang besar dan panjang itu. Nita membuka mulut selebar lebarnya, ia berusaha memasukan kepala pelir itu kemulutnya. ”Hauf!” suara mulut Nita ditutupi kontol hitam itu, kepala kontol itu ditekan Fachdat tetapi masuk hanya seperlunya, mulut Nita tidak muat dimasuki batang pelir sepanjang itu. Nita terus menghisap dan menjilat kepala pelir Fachdat. Ditekannya ke dalam sampai membentur kerongkongannya, lalu ditariknya ekmbali, ditekannya dan ditariknya kembali. Sedangkan Fachdat dengan relak memuntir muntir puting payudara Nita, keduanya bekerja dengan santai. Relak dan tidak tergesa gesa.

”Jika kamu ingin benar benar puas, sebaiknya kita santai dengan cara seprti ini dahulu...” celoteh Fachdat dan tak henti henti memilas milas puting payudara Nita. Nita tidak menjawab. Mulutnya tersumpal oleh kepala pelir yang tak henti henti mengosok kerongkongan Nita.

Nafas Nita tersengal sengal. Nafsunya mulai memburu.    Kepala pelir    Fachdat dihisapnya kencang, sedang ketika itu air maninya sendiri terasa mengucur kian membasahi lubang nonoknya.

Sambil mengkolom pelir, sesekali Nita mengulas ulas biji pelir itu. Biji yang besarnya tidak kurang dua genggam barang. Terkadang sempat pula dilakukan Nita mengulas ulas bulu bulu jembut yang ada disekitar kontol hitam itu.

Semua yang dilakukan Nita semata mata kian membuat puncak nikmatnya. Birahinya memuncak sedikit demi sedikit, sedangkan itu, ia sendiri tidak menghiraukan tubuhnya yang mulai dibasahi oleh keringat yang mulai mengucur. Desah birahinya memburu kencang, ”Haahhrr.... hhaauuup... haaauuuff... ” suara Nita sambil mengisap isap kepala kontol Fachdat.

Fachdat agak membangkitkan tubuhnya. Dengan posisi duduk mengangkang, Fachdat membiarkan pelirnya yang masih dihisapnya Nita. Pelan pelan jarinya yang agak kasar dan ada bulunya itu, ia coba masukkan kelubang nono    Nita. ”Akhhhhh ” Nita mengerang kencang.

”kenapa...?” Fachdat berkerut kening. Nita langsung mencabut kepala pelir yang masih tersumpal dimulutnya.

”Aku sudah keluar...Fach....” ujarnya tersengal sengal.

”Keluar...?!”    Fachdat mengernyitkan alis mata, ”rupanya kamu belum biasa...!”

”Iya! Aku memang baru kali ini, sebelumnya aku tidak pernah....”

”Sekarang lepaskan orgasmu dahulu. Nanti beberapa saat lagi, setelah kelesuhan syarafmu normal, kita main lagi, berbaringlah dahulu, aku mau membasuh pelirku dahulu dan mungkin mau sekalian mandi. Kau tunggu di sini....oke...?!”

”Oke. Baiklah, aku lemas sekali ”

Nita memberikan senyum, Fachdat tersenyum, kemudian lelaki berkulit hitam itu berlalu mendekati hamparan kain yang ada didalam kamarnya. Dari hamparan itu ia mengambil handuk. Dan dengan ditutupi handuk, iapun berlalu meninggalkan Nita yang masih terbaring menikmati pantai Syurga yang baru dilakuinya.

Selesai mandi, Fachdat kembali kekamar dengan hanya mengenakan tubuh yang ditutupi handuk, dilihatnya Nita tertidur. Lelaki itu tersenyum kecil dan menggeleng gelengkan kepala.

Sesaat Fachdat menyulut sebatang rokok lagi. Sambil santai dan menunggu Nita terjaga dari tidurnya, dia duduk pada kursi di depan lemari. Asap rokok dihisapnya dalam dalam, kemudian ia hembuskan jauh jauh kemuka.

”Lubangnya masih kecil,masih sedang mengenakan...” pikir Fachdat ketika itu. Ia sendiri sebenarnya sudah tak sabar. Amper yang berada diselangkangan di balik handuk sudah turun naik, ingin segera menembak musuh.

Habis sebatang rokok, dilihatnya Nita masih terkulai tidur. Pelan pelan ia mendekati ranjang. Begitu tepat ditepi ranjang, pelan pelan ia menanggalkan Handuk yang masih menutupi tubuhnya. Handuk itu ia biarkan jatuh keatas lantai. Pelir yang mulai ngaceng itu bergoyah goyah pada ketika ia bergerak.

Pelan pelan ia menengkurap mendekati paha Nita yang tertidur dengan tubuh polos. Jarinya pelan pelan membuka mulut lubang vagina Nita. Karena rasa sentuhan tangan yang tiba dimemeknya, seketika Nita terjaga dan membuka matanya.

”Kamu masih ngantuk....?” tanya Fachdat sesaat. Belum sempat Nita menjawab pertanyaan itu, tiba tiba matanya tertutup pada benda yang tergantung diselangkangan lelaki itu. ”Waah besaaaarnya ” bisik Nita dalam hati.  Seraya saja nafsu birahinya timbul kembali.

”Tidak!” sahutnya kemudian.

”Kalau tidak, coba lebarkan pahamu    ” kata Fachdat. Nita langsung menguakan kedua belah pahanya sampai lebar. Jari telunjuk dan jari jempol Fachdat masuk menerobos kelubang memek Nita, setelah sampai di ujungnya. Kedua jari itu dikuakan lebar lebar, sehingga seluruh dinding dinding vagina Nita tampak jelas. Warna kemerah merahan. Tak ayal juga membuat darah Fachdat mengalir deras diseluruh tubuhnya, apalagi lubang itu tampak licin oleh cairan cairan mani yang masih mengembang, Kian bertambahlah nafsu setan Fachdat.

Yang ada hanyalah semangat yang berkobar kobar untuk memasukkan penisnya kedalam lubang memek Nita.

Fachdat semakin buas. Ia tidak hanya menjilat itil dan bibir nonok Nita, melainkan lubang dubur Nita pun disapunya dengan ujung lidahnya. Sehingga seluruh selangkangan Nita terasa basah oleh air liur lelaki yang berdarahkan Bombay itu.

Sesaat Fachdat menghentikan permainannya. Kontolnya yang sudah berdiri kencang, yang besarnya tak kurang dari sebuah botol bir, ia putar putarkan kebuah dada Nita. Nita mengerang ngerang ”Auuuff....auuuuff    ” kontol yang besar itu digenggamnya dan kemudian dihisapnya kembali.

Nafas Fachdat terdengar memburu. Meraung seperti seekor singa yang tengah menemukan mangsanya.

Fachdat menarik kontolnya yang masih dihisap Nita, kontol yang sudah licin dan basah karena air ludah nita, kemudian ia sorongkan kedada Nita kembali, kemudian payudara Nita direjangnya. Di tariknya dan di puntir puntirnya sampai agak memanjang. Nita kian menggeliat geliat. Nita kian lupa akan diri, yang ia ingat ketika itu hanyalah seonggok nafsu yang tak ada kesudahannya.

”Tidur! terlentang dan buka pahamu lebar lebar....!” perintah Fachdat lagi. Nita mengikuti, sekalipun matanya tetap terpejam, pelan pelan Fachdat menjatuhkan tubuhnya di atas dada Nita seraya menyorongkan kepala pelirnya kepermukaan memek perempuan itu.

”Masssuuukaaan....” suara Nita lirih membangkitkan birahinya.

”Ia! ingin aku masukan....” sahut Fachdat dengan suara bergetar akibat sudah tak tahan. Perlahan lahan Fachdat menekan pinggul yang sudah berhadap hadapan dengan pinggul Nita. pelan pelan, Nita membantu, ia membuka bibir memeknya hingga menjadi lebar. Setelah dirasakannya pas, maka kemudian ditekan Fachdat.

”Blleeeeeeeeesssssss    ”

”Akhhhhhhhhhhhhhhh     ” desah Nita panjang. Air syurganya benar benar telah menyirami birahinya. Air yang membuat ia lupa akan segala galanya.

Kontol yang besar, sebesar botol bir perlahan lahan menyelinap masuk mengikuti tusukan yang ditekan melalui pinggulnya. Sambil meremas remas payudara Nita Fachdat menekan nekan pinggulnya, berharap agar pelir yang besar itu dapat lebih masuk kedalam. Sedangkan dibalik nafas yang tersengal sengal, pelan pelan kedua belah telapak tangan Nita mengulas ulas biji pelir Fachdat yang tergantung dan  bergoyah goyah.

”Aauuufff    aauuuuufffff  aauuufffhhh  sseee.” Desis Nita menahan nikmat.

Haaarrirrirrirri....  suara Fachdat yang tak berbeda apa yang dialami Nita. Sama sama menikmati rasa. Rasa kenikmatan birahi yang tak ada kesudahannya.

Kontol yang besar panjang itu membentur pangkal hang vagina, itu terasa sekali oleh keduanya. Fachdat tidak menekan lebih dalam lagi. Ia tank pelan pelan lalu, ia masukan kembali, ditekannya dan di tariknya. Ditekan dan ditariknya berkali kali. Semula perlahan lahan. Kemudian agak cepat dan kemudian cepat sekali, sehingga Nita menggeliat geliat dibuatnya.

aaaauuuumnn.. aaauuuiinnn... . . . . .aauuiin. . .Nita kian mengeliat menahan nikmat. Dengan desahan desahan Nita yang membangkitkan birahi itu, tak ayal membuat Fachdat semakin cepat mengesek pelirnya didalam lubang memek Nita.

Sesaat Fachdat mencabut pelir, keduanya terdiam beberapa saat. Terdiam dengan disertai nafas yang tersengal sengal dan debaran jantung yang kian menyengat.

"Nungging...." perintah Fachdat kemudian. Nita bangkit, kemudian ia menungging.

Fachdat langsung mengambil ancang ancang. Ia membuat posisi seperti apa yang dilakukan Nita. Tubuhnya yang lebih tinggi, men gangkangi tubuh Nita yang berada lebih pendek darinya. Sehingga posisi itu mirip anjing yang hendak kawin.

Tangan Nita langsung dijulurkannya kebelakang, pelan pelan ia menggenggam batang pelir Fachdat. Fachdat agak menarik pinggulnya kebelakang, lalu ia tekan agak kemuka. Kepala pelir yang sudah tergenggam Nita, langsung saja ia letakan dimuka bibir memeknya. Setelah terasa pas, pelan pelan Fachdat menekan pelirnya lebih kemuka, dan ” Bleeeeesss ” benda keramat itu masuk menerobos ke lubang nonok Nita yang sudah lembek dan lebar itu, dan ”Aaaakhhhhh....esssstttttt” Suara Nita mendesis.

Pelir itu masuk dan ditekannya dalam dalam. Sedangkan suaranya bergetar seperti seekor singa yang tengah melahap mangsanya. Nita menggeliat geliat sambil memegang batang pelir yang keluar masuk di lubang vaginanya.

Kontol Fachdat dirasakan Nita semakin keras, urat uratnya terasa kian mengecang. Kian bertambah pula rasa nikmat yang diterima Nita. Sehingga ia benar benar lupa akan segala galanya.

Sesaat Fachdat menarik pelirnya dari lubang memek Nita, lalu ia merunduk dan menilati lubang dubur perempuan itu. Nita diam. Ia membiarkan ulah lelaki yang hampir saja menjadi tertawa. Lucu dan duburnya terasa agak geli. Tetapi demi pengalaman, akhirnya ia hanya menahan semua yang dilakukan lelaki itu.

Lubang dubur Nita basah oleh air liur Fachdat. Lelaki itu pelan pelan mengarahkan senjatanya kelubang dubur Nita. Kemudian ia tekan. Semula, terasa sulit, tetapi Fachdat tetap memaksanya sehingga akhirnya, kepala pelir itu menjelit dapat menembus masuk menerobos lubang dubur itu.

”Akhh....sakiiit...” suara Nita lirih dan meringis wajahnya.

”Akh,tidak apa apa Nit! Sakitnya cuma sebentar    ” bisik Fachdat pelan. Akhirnya Nita diam. Ia pasrah apa yang akan dilakukan lelaki itu lagi, ia biarkan kemauan lelaki itu berbuat semaunya.

Perlahan lahan Fachdat menekan pelirnya yang sudah agak masuk kedubur Nita.Setelah ditekan, lalu ditariknya. Kemudian ditekannya kembali dan ditariknya lagi. Berkali kali ia lakukan dan akhirnya pelir itu mudah menggelusur keluar masuk dilubang dubur Nita. Semula dirasakan Nita Sakit. Tetapi lama kelamaan, akhirnya menjadi lain. Nita merintih, Rintihan semakin merasa nikmat.

”Teruuuskaaan    enak    ....teeerusssskaaan enaaaak....!” bisiknya dengan suara bergetar. Mendengar permintaan yang demikian, Fachdat menjadi kesetanan, ia menekan pelirnya semakin dalam dan semakin cepat. Nafasnya kian tersengal sengal seperti memburu sesuatu. Fachdat benar benar seperti seekor serigala yang tengah memburu sesuatu ketika itu.

Bibir memek Nita menggelawir bergoyah manakala Fachdat menekan pelir keduburnya. Pada kesempatan itu iapun mendapat insting, Kurang sreg rasanya, seandainya memeknya tidak ada yang mengusiknya. Kebetulan, didekatnya ada botol buat yang terhampar dibufet ranjang itu. Nita segera
menggapainya dan kemudian ia cocokan kelubang nonoknya yang sudah lebar itu.

Fachdat masih mengerang erang menahan nikmat, batang pelirnya keluar masuk dilubang dubur Nita. Ia lakukan secara estafet. Terus dan terus tak henti henti dengan mata terpejam pejam.

Tak berbeda dengan apa yang dirasakan Fachdat, nita pun demikian. Ia terpejam pejam merasa nikmat. Nikmat yang baru kali ini ia rasakan.

”Aaaakhhh....eeekkhhhh....aaakkhhhh    ” rintih Nita penuh birahi. ”Aauufff aaauuuff    aaauuuff    ” suara Fachdat bergetar. Kedua insan itu lelap dibawa nafsu setan, yang ada di kamar itu, hanyalah terdengar rintihan menahan nikmat yang tak tertepi. Keringat yang mengucur dari tubuh masing masing dan suara derit dipan yang tak pernah berhenti.

Fachdat masih menekan nekan pelirnya di dubur Nita. Sedangkan Nita tidak diam. Ia mengorek nonoknya dengan botol brut. Semakin cepat Fachdat menekan lubang duburnya, semakin keras pula botol brut itu ia korek. Dan tak lama kemudian ”Aaaaaaaaaaakkkhhhhhhhhhhh  ” suara Fachdat mencapai orgasmusnya, sesaat lelaki itu terkulai layu dan jatuh dipunggung Nita menahan tubuh Fachdat, dia belum mencapai orgasmusnya. Cepat cepat ia mengambil batang pelir Fachdat yang masih tertancap diduburnya dan kemudian ia masukan kelubang nonoknya.

”Bleeessssss ” pelir itu masuk. Nita cepat cepat menggoyah goyahkan tubuhnya, sehingga pelir itu dapat bergerak di lubang nonoknya. Lama Nita lakukan seperti itu dan tak lama kemudian,   

”Aaaakkhhh    ” rintih Nita mencapai klimaksnya. Tubuhnya mengencang dan kemudian melemah tak berdaya. Akhirnya kedua insan itu terjerembab lunglai diatas hamparan kasur dipan. Dihamparan segala kenikmatan. Dihamparan syurga dunia.

Tepat pukul setengah delapan, Nita sudah sampai dirumah. Ditemuinya Bahri menyambutnya dengan wajah berseri. Tak sedikitpun menamankan kecurigaan.

”Bagaimana sakitmu....?” sambut bahri pada ketika ia hendak melangkah masuk kedalam rumah. Nita menghela nafas panjang, berupaya agar tindak tanduknya seperti biasa biasa saja.

”Tidak apa apa. Kata dokter sakit perut biasa ! sahut Nita melemparkan tas sandang yang dibawanya ke atas meja.

”Syukurlah kalau begitu    ”

”Papa sudah makan....?” ujar Nita kemudian dan menjatuhkan pinggul disisi Bahri. Bahri menyunggingkan senyum.

”Sudah ! mama ?”

”Mama tadi sempat makan di roda. Kebetulan reute yang mama tempuh lewat rumah makan itu....”

”Yah    syukurlah kalau begitu....” Bahri manggut manggut merasa senang melihat sikap istrinya yang tiba tiba baik seperti itu.

Sejenak keduanya hening, seakan akan mereka saling intropeksi diri. Suasana kamar itu senyap. Tak Taksecelotehpun yang keluar dari mulut Nita ataupun Bahri. Tengah pada itu, tiba tiba bi Murni datang dari luar.

”Tuan    saya lupa  ”katanya tergesa gesa.

”Anu ee tadi siang ada seseorang lelakikesini. Katanya dia petugas dari sebuah pabrik obat tradisionil dari jawa tengah    ee ”bi Murni seperti berpikir pikir, ”kalau tidak salah namanya    ” kata kata bi Murni kembali terputus.

”Burno....Burno Suparman......?!” Potong Bahri cepat.

”I...iya! iya betul tuan tuh obatnya ” bi Murni menunjuk kebelakang. ”Nanti bibi ambil dahulu....!” sambung pembantu tua itu dan kemudian ia berlalu ke belakang, mengambil obat yang titipan orang kepadanya.

Menjelang kembali bi Murni, jantung Bahri tak henti henti berdegup, ia benar benar berharap agar obat itu mujarab dan dapat menyembuhkan penyakitnya. ”Mudah mudahan,ma!” ujar Bahri pelan kepada Nita. Nita hanya menghela nafas panjang. ”Mudah mudahan obat ini mujarab, obat itu memang aku pesan secara khusus pembuatannya, tentunya aku bayar denganharga mahal...” ulang Bahri lagi. Tetap diam. Pikirannya kusut tak menentu, dan disamping itu, nonoknya terasa perih, begitu pula dengan duburnya. Sehingga ia agak gelisah duduk seperti itu.

”Ini dia tuan obatnya....”kata bi Murni tergesa gesa menyodorkan sebuah botol obat kecil yang berwarna hitam. Bahri langsung menyambarnya dari tangan pembantu itu. Setelah ada didalam genggamannya, kemudian Bahri membaca petunjuk dan aturan yang tertera dipembungkus obat itu.

”Diminum tiga kali dua tablet satu hari ” lalu Bahri melihat pada tulisan yang paling bawah” dijamin berhasil, Kalau tidak berhasil, uang kembali atau dituntut dimuka hakim”

”Dug!” jantung bahri berdegup, seketika semangatnya timbul. Sambil memukulkan botol obat itu ke pahanya, ia berceloteh.

”Kalau enggak berhasil, awas kamu, no ” sesaat Bahri memalingkan pandangannya kepada Nita. Dilihatnya Nita lesuh tak berdaya. Dengan penuh rasa kasih, perlaha lahan ia berkata.

Kalau mama mengantuk, tidurlah. Mudah mudahan obat ini manjur. Pokoknya mama pasti papa bikin puas....!”

”Ya, mama cuma bisa berdoa...” sahut Nita acuh, dia sudah tampak tak bernafsu untuk meladeni Bahri. Tidak kosentrasi. Ia tampak lemas dan serasa ingin lekas lekas tidur.

”Kalau begini sebaiknya, mama tidur saja    ” kata Bahri kemudian setelah memperhatikan wajah istrinya yang tak bersemangat itu.” Tampaknya mama lemas sekali....tidurlah duluan.    Duburnya masih perih begitu pula dengan memeknya. Pelir Fachdat begitu ganas, tetapi memuaskan sekali. Sakit sakit enak masih terasa ditubuh Nita ketika itu. Sehingga kata kata Bahri yang begitu penuh harap padanya, hanyalah dianggapnya ocehan ocehan kosong belaka.

Tujuh hari sudah Bahri memakan obat. Tepat hari kedelapan, di tengah malam buta, jam dinding berdentang tiga kali ia terjaga dari tidurnya, terasa olehnya ingin membuang air seni, maka ia cepat cepat bergegas menuju kekamar mandi. Tiba di kamar mandi, ia langsung membuka celana tidurnya, bermaksud membuang air kencing. Begitu selesai kencing, batang pelirnya ia goyah goyahkan. alangkah terbelalaknya mata Bahri ketika, ”Haaiii.. penyakitku sembuh....” katanya setengah berteriak. Dalam keadaan setengah telanjang itu, Bahri langsung berlari kedalam kamarnya kembali. Begitu sampai ia langsung menghela lengan istrinya.

”Ma!...ma!...ma!” sentaknya mengagetkan. Nita langsung membuka matanya, dilihatnya Bahri berdiri ditepi ranjang sambil memperlihatkan pelirnya yang sudah dapat berdiri tegak.

”Haai....” seketika saja Nita bangkit, ”sembuhnya dengan mata nanar. Semula ia merasa agak malas melihat pelir yang tak sebesar pelir Fachdat itu. Tetapi dengan kebetulan saja, karena hawa dingin dipagi itu menyerang tubuhnya, mendadak saja nafsu birahinya timbul.

”Apa yang harus kita lakukan sekarang, ma..?” tukas Bahri masih didalam perasaan gembira. Nita tidak banyak cakap, saat itu ia memang membutuhkan kehangatan seorang lelaki lagi, pelan pelan digapainya pelir Bahri yang masih tergantung itu, lalu dihisapnya.

”Aaaaakhhhh    ” Bahri menyeringai nyeringai,” uuf...ooow    uuuuf    ” Batang pelir Bahri terasa ngilu. Isapan Nita begitu kencang. Sehingga kian lama batang pelir itu semakin terasa dan menghujam seperti tanduk badak.

Sesaat Nita melepaskan isapannya. Pelir Bahri tetap tegak seperti kayu.

”Sebaliknya papa tidur menetentang    ” perintah Nita. Bahri tak banyak tingkah lagi, seketika saja ia menuruti apa yang diperintahkan Nita. Ia langsung ke atas ranjang dan menelentangkan tubuhnya.

Nita menanggalkan gaun tidurnya. Lalu ia melepaskan beha dan celana dalam yang kebetulan hari itu ia pakai. Kini tubuh Nita bugil. Pelan pelan ia kembali mendekati kepalanya pada pelir Bahri. Kepala kontol yang sudah menegang keras itu iasapu dengan ujung lidah, Bahri menyeringai. ”Aaaakhh ” ngilu tetapi terasa nikmat.

Lama Nita memain mainkan pelir Bahri dengan ujung lidahnya. Ia harus melakukan cara begitu agak lama. Ia harus membuat birahi lebih muncul lagi. Sambil menhisap hisap batang pelir itu, perlahan lahan tangannya mengambil tangan Bahri. Tangan Bahri diletakannya di permukaan nonoknya. Secara reflek dan kebetulan Bahri pernah melakukan seperti itu dengan pelacur, seketika saja ia memasukan jari telunjuknya kelubang vagina Nita.

Kini    Nafsu    birahi    Nita    mulai memuncak. dilubang memek perempuan itu sudah terasa licin. ” Mudah untuk dimasuki kontolku ” kata Bahri didalam hati.

”Bagaimana kalau dimasukkan, ma....” bisik Bahri ketelinga Nita. Nita diam tak menjawab apa apa, namun mulutnya terus menerus mengisap pelir Bahri. Ia tidak mungkin dapat mencapai orgasmusnya jika hanya disosok oleh kontol tak seberapa besarnya itu.

Tingkat demi tingkat, birahi Nita mulai mencapai, itu ia rasakan seluruh liang vaginanya telah basah oleh cairan air mani yang kian membecek. Sesaat Nita melepaskan isapannya, lalu pelan pelan dengan cara duduk menjongkok, ia memegang batang pelir Bahri yang tegak berdiri keatas langit. kepala pelir itu diletakan Nita dipermukaan lubang nonoknya. Kemudian pelan pelan ia menurunkan pantatnya sedikit sedikit hingga kepala pelir itu membentur bibir vagina.

Dengan mata terpejam, lalu Nita membukabelahan bibir memeknya dengan dua buah jari tangannya hingga terkuak dan mudah dimasuki penis Bahri.Begitu dirasakan Nita pas,lalu ia melepaskan tubuhnya terhenyak  diatas perut Bahri, dan     ”Clloooooooossssssss ” penis Bahri menghujam masuk tanpa tedeng aling-aling. mulus, gampang dan lolos. ”Akhhh    ” desis Bahri dengan tubuh menegang. Begitu pula dengan Nita. Nafasnya tersengal sengal, birahinya muncul berkobar kobar. Dengan relak dan santai, ia mengangkat pinggulnya sedikit, lalu dibenamkannya. Dimasukkannya dan dibenamkannya. Diangkat dan dibenamkan. Secara kontinyu Nita melakukan terus menerus.

”Clooss Cloooooos    Cloooooossss ” benturan memek Nita dengan penis Bahri, berlalu lalang dengan bunyi bunyi suara becak itu. Namun keduanya tak mengindahkan bunyi suara becak itu. Yang ada, hanyalah desahan desahan lirih yang membangkitkan birahi.    Desahan desahan yang selama ini nyaris membuat rumah tangga mereka retak.

”Clooosss cloooosss aaaakkkhhhhh ” suara Nita dengan mata terpejam pejam. Menikmati dan menghayal lebih jauh ke ata syurga.

”Haahh    haaaaahhhh    aaaakkkhhhhh....” desis mulut Bahri, yang tak berbeda dengan apa yang dialami Nita. Sejuta perasaan nikmat menyelimuti sekujur tubuhnya. Perasaan lega mengetuk seluruh pintu perasaannya. Santai, relak dan mengasikan.

Desah desah nafas keduanya makin memburu kencang. Keringat keringat mereka mulai membasahi sekujur tubuhnya. Debaran jantung kian berdegup kencang dan tak lama kemudian.

”Aaaaaakkkkhhhh     ....”Bahri mencapai klimaksnya. Klimaks yang sebelumnya menegang, lalu mengendur secara dratis. Kini tubuh Bahri terkulai lemas tanpa daya. Tetapi Nita masih belum apa apa. Puncak klimaksnya memang sudah memuncak, tetapi belum mencapai titik orgasmusnya, maka dipegangnya kuat pengkal penis Bahri, lalu dihenyak henyaknya keliang vaginanya. Lama ia lakukan itu, dan akhirnya.

”Creeeeet    creeeet    creeeet    ” pejunya muncrat dan membasahi seluruh jembut Bahri. Nita tidak langsung menjatuhkan tubuh ke atas pelukan suaminya. Ia menopang tubuhnya dengan belah lengannya, ia biarkan beberapa saat, kemudian dari lubang nonoknya mengalir cairan cairan putih, cairan air peju Bahri yang bercampur dengan cairan
air pejunya. dan menggumpal dirimbunnya bulu jembut Bahri.

Sesaat Nita menjatuhkan tubuhnya. Bahri menyambutnya dengan mesra didalam pelukannya. ”Akh....” rintih Nita seraya menjatuhkan kepala didada suaminya itu. Bahri diam, hatinya berkasak kusuk tanda tanya.

Sepengetahuannya, ia kawin dengan Nita, secara bujangan dan gadis. Tetapi ada kelainan yang dijumpai Bahri pada ketika itu?

Jangankan mendapatkan kegadisannya, pelirnya saja dengan mudah lolos masuk. Longgar, mulus dan tak ada tedeng aling aling.
Maa....” suara Bahri berbisik.

”Apa....” balas Nita pelan.

”Kok lolos dan gampang ya ?”

Sreg hati Nita serasa terpotong oleh benda tajam, perih dan menyayat. Tanpa disadarinya air matanya pun mengembang. Nita sulit menjawab perkataan Bahri.

”Kok mama diam....?”ulang Bahri lagi, merayu dan berusaha menjinaki Nita.

”Looooh    kok mama menangis....?” sambung Bahri setelah ia menyadari bahwa didadanya telah menitik butiran butiran air mata. ”Kenapa, ma...? jawab doong pertanyaan papa. Apa papa salah kalau papa bertanya seperti itu....?” Air mata Nita kian mengalir deras. Tidak hanya disitu yang membuat bahri kian keheranan, sebentar kemudian ia merasakan isak tangis Nita yang memilukan.

”Coba mama terangkan, kenapa mama menangis? Apapun yang terjadi, baik atau buruk adalah resiko papa! Papa tidak akan gusar atau marah.

Percayalah, ma!”

Dengan sendat yang memilukan, perlahan Nita membuka mulutnya.

”Mama telah berbuat serong!”

deer! Dada Bahri terasa ingin pecah mendengar jawaban itu. Seandainya ia tidak terlanjur berkata tidak akan marah, tentunya ia akan membunuh diri
sendiri. Tetapi semua telah terlanjur. Bumi dan langit sufdah menjadi saksi bagi mereka berdua. Hanya dengan genangan air mata Bahri mengikuti perjalanan keluarganya. Mengarahkan diri karena takdir, dan tidak bisa menyalahkan siapa siapa, yang salah adalah penyakit yang pernah dialaminya.

Demikianlah kehidupan Bahri yang telah berjuang, berupaya, menahan segala resiko karena menyakit laknat itu. alangkah kelabu dihatinya ketika itu.    penyakit memalukan itu sembuh, berubah menjadi sakit hati. Sekalipun demikian, Sekalipun hatinya penuh debuyang berwarna kelabu, Nita adalah tetap istrinya. Istri yang disayanginya dan tak pernah salah apa apa. Yang salah adalah penyakitnya.

TAMAT

2 komentar: